
" Apa yang sebenarnya yang kamu inginkan..?? Cukup katakan saja, tidak usah bertele tele.., dasar penge**t..!!!" Seorang lelaki paruh baya berteriak sambil mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua laki laki kekar di samping kanan dan kirinya, lengkap dengan pistol dipinggang. Darah menetes dari pelipis kiri akibat pukulan. Matanya merah dan melotot tajam memandang seseorang di hadapannya.
" Hahhhaahaa..., tanda tangani saja dokumen ini Handoko..! Atau kamu akan melihat putri semata wayangmu itu untuk yang terakhir kalinya saat ini.." pria dihadapannya itupun tertawa licik, menunjuk ke arah taman disamping rumah yang hanya dibatasi dengan dinding kaca sambil menyodorkan lembaran dokumen didalam sebuah amplop berwarna coklat beserta pena dan menaruhnya diatas meja dihadapan mereka.
" Kurrrraaaang ajaaarrrrrrr...., jangan bawa bawa anak ku ke dalam masalah ini. Dasar manusia bus**..!!!! " matanya nanar memandang putrinya dengan putus asa. Dia melihat dengan jelas wajah anak gadisnya yang sedang memperhatikan kejadian diruang itu dengan seksama, diapit dengan dua pengawal yang bertubuh tegap, kedua tangan mereka disilangkan ke belakang, dengan senjata di pinggang.
Buliran air mata merosot turun deras di kedua pipi anak itu. Suara isak tangisnya membuat Handoko seketika hancur. Tak urung air matanya pun meluncur deras, tak mampu berbuat apa apa.
" Ayah...." suara anak itu tercekat, seolah tak kuasa untuk berbicara atau berteriak. Hatinya bingung dan sakit melihat perlakuan mereka kepada ayahnya. Tidak sedikit pun ketakutan tampak dari sorot matanya.
" Cepat Handoko..!! Aku tidak punya banyak waktu. Tanda tangani dokumen itu dan kalian akan ku bebaskan." menyeret sebuah kursi kayu di dekatnya, duduk dan menyulut rokok.
" Tidak akan..!! Itu semua milik ku, milik anak ku.. Kau tidak bisa begitu saja merebutnya dariku..!"
"Jangan panggil aku Yudha Basra..kalau aku tidak bisa memaksamu..dan membawa dokumen ini lengkap dengan tanda tanganmu.." seraya berdiri, berjalan pelan menghampiri Handoko. Tangan kanannya terbuka ke arah samping, seolah menunggu sesuatu untuk diletakkan diatasnya.
Seolah paham dengan maksud bossnya, dengan sigap pengawal itu pun mengambil cutter besar dari dalam tas dan segera menyerahkan ke tangan Yudha.
" Aku sudah bosan menunggu.." menodongkan cutter yang terlihat masih baru dan tajam ke wajah Handoko.
" Apa kau sudah bosan hidup haaahh..??" sambungnya, sementara cutter itu perlahan bergerak ke arah leher, menusuk dengan sedikit tekanan menggores pelan. Cucuran darah seketika menetes dari leher Handoko.
"Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau Yudha.." tersenyum menyeringai, menahan sakit. Matanya tetap tajam memandang orang di depannya.
" HHHAAAARRRGGHHHH...!!" tubuh Handoko terhuyung kedepan ketika sebuah pukulan dilayangkan ke arah tengkuknya. Dada bidangnya menubruk tepi meja dengan keras, mengakibatkan semburan merah keluar dari mulut Handoko.
" Cepat tanda tangani..!!" serta merta Yudha menekan keras telapak tangan Handoko yang terjulur kedepan di atas meja dengan pistol. Cutter dilemparkan ke arah seorang pengawal di dekatnya. Matanya memberi kode ke para pengawal di samping anak Handoko yang berteriak keras saat melihat ayahnya tersiksa. Gadis kecil itu pun dibungkam dengan kain yang di ikatkan ke mulutnya, begitupun dengan matanya.
__ADS_1
Salah seorang pengawal mengarahkan pistol ke kepala gadis kecil itu.
" BANGS********..!" Handoko memekik marah, mencoba melepaskan diri tetapi tenaganya kalah kuat dengan kedua orang di sampingnya. Yudha mengarahkan tangan Handoko untuk memberi tanda tangan di atas dokumen. Dengan terpaksa dan menahan sakit, Handoko pun mengikuti keinginan Yudha.
" Hanya begini saja susah.., dasar..!!" Yudha tertawa puas saat semua dokumen telah ditanda tangani oleh Handoko. Bibirnya tersenyum sinis memandang Handoko dan anaknya. Diapun memberi kode ke semua anak buahnya untuk segera menyelesaikan tugasnya hari ini.
" DOOORRRR..!!!" seketika telapak tangan Handoko berlubang terkena tembakan jarak dekat dari Yudha. Darah pun mengucur deras. Handoko berteriak kesakitan.
" Ayaaaahhhh...,, tidaaakkk.." gadis kecil itu pun berteriak sekuat tenaga dengan mulut yang tertutup kain saat mendengar suara tembakan dan teriakan ayahnya. Tubuhnya meronta dari cengkeraman tangan tangan kekar. Sebuah tamparan keras melayang di pipinya yang membuat dia pingsan saat itu juga.
" LARAAASS.....!!" serta merta Handoko berteriak marah saat melihat anaknya pingsan. Dengan sekuat tenaga, dengan tangan yang berlumuran darah, dia segera mengangkat meja di depannya , melempar dengan beringas ke arah Yudha.
Yudha yang lengah terlambat menghindar, diapun terjatuh dan tertindih meja. Handoko segera merampas pistol dan dokumen yang terlepas dari tangan Yudha dan langsung mengarahkan tembakan ke semua pengawal di sekitar tempatnya berdiri. Dokumen itupun langsung disobek dan ditembak sampai hancur berkeping keping.
Di saat Handoko akan berlari ke arah taman untuk menolong anaknya, sekonyong konyong Yudha berdiri, mengambil pistol dari belakang tubuhnya dan mengarahkannya ke Handoko yang akan berlari menolong anaknya.
" DOORRR.." dalam sekali tembakan, sebutir peluru melesat dan menembus dada kanan Handoko yang membuat nafasnya berat dan terasa sesak, diapun terjatuh. Darah segar keluar dari dadanya sebelah kanan. Melihat korbannya terjatuh, Yudha pun segera pergi dari tempat itu setelah memberi kode ke semua anak buahnya untuk mengikuti.
Para pengawal pun segera menggendong gadis itu dan segera pergi meninggalkan taman disusul oleh Yudha.
"DOOOORRR..DOOORRR..DOOORRRR..." suara tembakan demi tembakan terdengar dari segala arah. Seseorang merangsek masuk ke ruangan Handoko sambil mengacungkan pistol berhati hati.
Tidak ada seorang pun yang dia temukan di tempat itu sampai pada akhirnya dia melihat sosok pria yang tertelungkup di pintu keluar mengarah ke taman.
" Handoko..!!" dia mendapati tubuh sahabatnya yang tergeletak lemah berlumuran darah. Tangannya terkepal marah.
" Yudha.., akan ku balas kau..!!!" diangkatnya tubuh Handoko dengan hati hati. Segera dibawa pergi dari tempat itu.
__ADS_1
" Tuan Zicko.., nona muda selamat. Kami berhasil merampasnya dari BadBoy.., tetapi kami kehilangan jejak Yudha.." Axel, pemuda berperawakan atletis dan tegas dengan matanya yang sayu beralis tebal, berwajah tampan, seorang tangan kanan yang setia datang menghampiri dan melapor kepadanya.
" Biarkan saja.. Kita harus segera membawa gadis itu ke rumah sakit bersama ayahnya.. Siapkan mobil. "
" Baik Tuan.." Axel sedikit membungkuk dan segera berlari cepat bersama Zicko.
⚠️》 Arzicko Prabaswara adalah seorang pria paruh baya berwajah tampan. Tubuhnya yang tinggi besar dan berotot sering kali jadi pusat perhatian para wanita.
Sahabat Handoko yang berhutang nyawa karena kedua orang tuanya pernah di selamatkan dari cengkeraman kelompok kejam bersenjata, BadBoy, dipimpin oleh Yudha yang selalu mengintai dan ingin menguasai kekayaan siapapun yang mereka ketahui, di banyak kota maupun negara lain, termasuk keluarganya dan Handoko.
******
" Cepat suster.., tolong saudara saya dan anaknya.., usahakan yang terbaik buat mereka.." Zicko berlarian bersama beberapa perawat yang mendorong tubuh Handoko dan anaknya diatas brankar masuk ke ruang gawat darurat sebuah rumah sakit. Sementara beberapa pasukan pengawal mengikuti dari belakang.
Zicko pun mundur saat seorang perawat memintanya untuk menunggu diluar.
Axel terlihat menghubungi seseorang dengan ponsel sambil memandang Zicko dengan tatapan khawatir.
" Aku menyesal..sudah terlambat datang menolong mereka.." keluh Zicko, tubuhnya yang bersandar di dinding merosot perlahan, sampai terduduk lemas, kedua tangannya mengusap kasar wajahnya, merasa gusar atas perbuatan Yudha terhadap keluarga Handoko. Sementara Axel pun segera menutup pembicaraannya dan berjalan mendekati Zicko.
" Tenanglah tuan.., Anda sudah berusaha. Dan kita datang di waktu yang tepat. Untung saja tadi kita cepat melihat ponsel dan mendengar semua kejadiannya. Kalau tidak.., saya tidak yakin dengan nasib tuan Handoko dan putrinya.." tertunduk lesu disamping Zicko. Rupanya Handoko sempat melakukan panggilan diawal saat dia melihat Yudha dan beberapa anak buahnya memasuki rumah, meletakkan ponsel secara tersembunyi di sudut almari diruangannya, sengaja agar seseorang yang dipanggilnya bisa mendengar semua pembicaraan.
" Kita akan segera menemukan dan menangkap Yudha. Saya sudah meminta beberapa anggota kita untuk menyelidiki keberadaan Yudha.." sambung Axel mencoba menenangkan hati tuannya, sambil mengusap perlahan bahu kiri Zicko.
" Tidak semudah itu Xel.., tapi terima kasih atas usahamu.." sedikit tersenyum memandang Axel.
" DOOORRRR...!!!" Sebuah tembakan terdengar dari arah depan. Seorang pengawal berlari menghampiri Zicko dan Axel.
__ADS_1
............... ♡♡♡ ................
》》 Bersambung....