Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Kenangan Buruk


__ADS_3

Suara kicauan burung yang bersahutan, gemerisik dedaunan yang disentuh dan dilewati angin samar samar mengusik telinga Vieesha. Perlahan dia pun bangun, serta merta matanya mencari cari jam dinding di tempat itu. Sebelah tangannya masih memegangi sisi kepalanya.


" Jam berapa sekarang.." gerutunya sambil sesekali berdecak kesal karena merasakan kakinya yang masih sakit.


Akhirnya dia menemukannya dan melihat jarum jam itu menunjukkan pukul 7 lewat 20 an menit.


" Huufffhh..berapa lama aku pingsan..? Perasaan kemarin siang aku masih dikejar kejar orang orang itu..hmm.." meringis pedih.


Pelan pelan dia turunkan kakinya ke tepi ranjang, mencari sesuatu yang bisa dia pijak untuk dijadikan alas kaki.


" Ini..pakailah.." tiba tiba Sebastian datang, berjalan ke arahnya dan berjongkok di depannya, mencoba memakaikan alas kaki santai berwarna merah muda beludru polos yang terlihat lembut dan nyaman.


" Maaf.., permisi nona.., biar saya bantu.."


" Maaf tadi saya tidak permisi masuk ke kamar ini. Saya kira tadi kamu masih belum sadar...," tangan kirinya memegang pergelangan kaki Vieesha dengan lembut dan memasangkan alas kaki itu dengan perlahan dan hati hati.


" Ah..jangan, biar aku sendiri saja pakai..pak..eh..mas.." Vieesha berbicara sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal karena jengah.


" Sebastian.., panggil nama saya saja.." tersenyum memandang Vieesha. Dia pun berdiri dan segera duduk di seberang Vieesha. Matanya menatap dengan hati hati.


" Oh maaf...umm..Seb..bas..tian.."


Tergelak Sebastian mendengar ucapan Vieesha. Entah mengapa hatinya merasa lucu dan tersentuh saat mendengarnya.


" Ga usah di eja gitu.., panggil saja semaumu, asal jangan panggil Seb..hhaahhaaa.." masih tertawa sambil memandang Vieesha, mencoba menetralkan suasana.


Vieesha hanya meringis menahan malu. Semburat merah muncul di kedua pipinya yang langsung mencuri perhatian Sebastian.


" hmmm..cantik..." desiran halus terasa di dalam dadanya.


" Kalau sudah enakan..kamu boleh mandi, biar lebih segar.. Setelah itu turun ke bawah ya.., saya tunggu di meja makan.." dengan sabar dan tetap tersenyum Sebastian berbicara.


" Iya mas..eh..Sebastian.., terima kasih. Secepatnya aku usahakan turun ke bawah.. Maaf sudah merepotkan anda.." tertunduk Vieesha menjawab. Dia benar benar merasa malu dan tidak memahami akan situasinya saat ini.


" Oke..sama sama.. "


" Oh iya.., peralatan mandi dan handuk sudah disiapkan dikamar mandi.. Untuk perlengkapan baju dan lain lain mengenai kewanitaan..sebentar lagi bi Irah datang..dia yang akan bantu kamu nanti.."


Vieesha hanya bisa mengangguk sambil tersenyum berterima kasih. Lalu Sebastian pun berlalu meninggalkan kamar itu.


Vieesha segera berjalan ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Matanya takjub melihat yang terpampang di depannya. Kamar mandi yang mewah, bath up yang berwarna putih, lengkap dengan kelopak bunga mawar yang telah ditabur di atas air, membuat aroma yang wangi dan segar. Dibatasi dengan dinding dan pintu kaca dengan ornamen yang indah bermotif bambu.


Sebelah luarnya terdapat meja wastafel dengan cermin yang lumayan lebar. Pengharum ruangan bersebelahan dengan pernak pernik kamar mandi diletakkan dengan rapi di sisi sebelah kiri. Sementara tempat tissu ada di sebelah kanan.

__ADS_1


Vieesha berdecak kagum. Sesaat dia lupa akan tujuannya masuk ke ruangan itu. Dia pun segera mencari peralatan mandinya yang ternyata sudah disiapkan dengan rapi di nakas berderet dengan lemari bathrobe*.


" Tempat apa ini sebenarnya.., jelas sekali kalau ini bukan rumah biasa.., pasti orang yang benar benar kaya.."


Vieesha segera melaksanakan ritual mandinya. Tiga puluh menit kemudian diapun selesai, mengambil bathrobe nya dan segera keluar dari kamar mandi.


TOK..TOK..TOK..,terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.


" Permisi Nona..,, saya bi Irah..," suara dari luar kamar.


" Iya bi...silahkan..bibi masuk saja.." Vieesha yang sedang memakai sedikit riasan menoleh sebentar ke arah pintu.


Bi Irah pun masuk dengan membawa beberapa potong setelan baju dan 2 bungkusan plastik berisi kotak berukuran sedang berwarna cerah yang sedikit menarik perhatian Vieesha.


" Bibi bawakan pakaian dan baju daleman non.., mudah mudahan non suka.., dan ukurannya cukup.." bi Irah meletakkan semuanya dengan sopan di atas tempat tidur.


Wanita setengah baya yang terlihat keibuan dan sabar itu memandang Vieesha dengan tersenyum. Berdiri sopan di dekat pintu menunggu bila Vieesha membutuhkan bantuannya.


" Terima kasih bi.." Vieesha membalas tersenyum dan sedikit mengangguk sopan ke bi Irah.


Kontan saja bi Irah yang tidak pernah diperlakukan seperti itupun jengah dan malu. Sedikit merasa senang karena dia setidaknya bisa memahami dari sikapnya..bahwa Vieesha orang baik dan hormat kepada orang tua.


" Non jangan gitu ah.., ndak usah terlalu sopan gitu sama saya.."


" Oh iya, ada yang bisa saya bantu non..? Atau mungkin non membutuhkan sesuatu..? Biar saya siapkan.." sambung bi Irah.


Bi Irah memandang ragu ragu saat melihat luka di kaki Vieesha.


" Non yakin ndak perlu bantuan..? " sedikit khawatir dia bertanya.


" Nggak bi..tenang saja.. Aku sudah terbiasa dengan luka ini.." jawab Vieesha seolah memahami apa yang difikirkan bi Irah.


" Ya udah kalau gitu non.., saya permisi mau lanjutin tugas dulu.. Kalau perlu apa apa jangan sungkan panggil saya ya non.." bi Irah sedikit membungkukkan badannya sebelum berpamitan.


" Iya bi...terima kasih ya.." dengan tetap tersenyum Vieesha memandang kepergian bi Irah.


*****


" Maaf..aku terlalu lama di kamar..." ujar Vieesha saat sampai di meja makan.


Sebastian yang duduk di kursi ujung meja makan sedang sibuk dengan handphone nya pun sedikit terperanjat karena Vieesha yang tiba tiba saja sudah berada di sampingnya.


" Umm..iya..ndak apa apa kok.., mari..silahkan duduk nona Vieesha.., kita sarapan sama sama.." agak gugup Sebastian mempersilahkan Vieesha.

__ADS_1


Memakai dress berwarna hitam dengan riasan yang sederhana, Vieesha terlihat cantik natural. Sangat jauh berbeda kondisinya dengan saat Sebastian menolongnya waktu itu. Debaran halus terasa di dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Matanya tak berkedip memandang wajah Vieesha yg duduk di ujung meja makan sebelah kanannya. Jakunnya turun naik menelan cairan yang sedari tadi ingin keluar dari sudut bibirnya.


" Siapa kau sebenarnya..? Aku seperti sudah mengenalmu jauh sebelumnya..."


" Bastian.., maaf..boleh aku bertanya..? Dimanakah kita sekarang ini..?" sambil memandang berkeliling Vieesha bertanya.


" Ini rumahku. Untuk sementara kamu aman disini.. Santai saja, anggap dirumah sendiri.. Kalau perlu apa apa.., kamu tinggal bilang saja ke bi Irah dan juga ada Arjun yang mungkin bisa membantumu..." Sebastian menjelaskan singkat. Jauh disudut hatinya ada banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan ke Vieesha. Namun karena kondisi Vieesha yang terlihat masih lemah, dia pun mengurungkan niatnya.


*****


" TIDDAAAAKKKK.., JANGAN..!!! "


" Tolong ayah saya tuan.., huuhuuuhiks.., jangan lakukan itu.., jangan tuan..."


Vieesha berteriak keras dan menangis, buliran keringat sebesar biji jagung bertaburan di dahinya. Leher dan dadanya pun basah.


Tangannya mengepal erat, di ayun ayun kan ke bawah dengan keras memukul tempat tidur di bawah tubuhnya. Giginya menyatu, mulutnya melebar dan mengeluarkan desisan yang keras. Sesekali tangannya bergerak memporak porandakan rambutnya dan meremas dengan kuat. Selimutnya terjatuh terkena tendangan yang tak beraturan.


" Jahaaaatttt..,, anda kejam tuan..,, tunggu pembalasanku...Aaaaaaaakkkkkhhhhh...!!!"


Suaranya semakin keras terdengar, badannya mengejang, wajahnya memerah dan matanya tiba tiba terbelalak menatap arah atas, mulutnya masih mendesis.


Sementara di lantai bawah Sebastian yang kebetulan akan naik ke kamarnya mendengar suara suara dari kamar Vieesha. Bergegas dia lari menghampiri.


" Vieesha.., Viee...!! kamu kenapa..? Tolong buka pintunya.." teriak sebastian panik. Dia berusaha membuka dan mendorong pintu kamar itu namun gagal berulang kali.


Beberapa langkah dia mundur kebelakang, mengambil ancang ancang, bersiap untuk mendobrak pintu kamar itu.


BRRUUUUAAAKKK...!! Akhirnya pintu kamar itu pun terbuka.


" Biiiiikkkk..bik iraaaaahhhh..." teriak Sebastian memanggil.


Bi Irah pun tergopoh gopoh masuk dengan cepat bersama seorang lelaki tegap di belakangnya.


" Ada apa tuan.., non Vieesha kenapa..?" bi Irah menghambur mendekati tubuh Vieesha yang terdiam lemas.


" Jun.., untung saja kau datang. Cepat panggilkan dokter..., cepat...!"


" Baik tuan.." Arjun, pengawalnya yang setia itupun segera keluar menjalankan perintah.


"TIIIIDDDAAAAAAAKKKKKKKK......,, pembunuh...!!! Bia**p..!!!! "


....... ♡♡♡ .......

__ADS_1


** Bathrope \= handuk kimono.


》》 Bersambung...


__ADS_2