
* Kediaman Yudha *
" Kau tidak tahu siapa yang saat ini kau hadapi Handoko. Berani - beraninya kamu menikahi kekasihku.. Jumpailah dia sekarang di sana, gadisku yang telah mati mendahului mu, dia..., pengkhianat hatiku.. "
Yudha berdiri di depan jendela ruangannya. Menatap dengan kesal sebuah foto bergambar dirinya dan seorang wanita cantik berambut panjang, dalam sebuah bingkai berwarna emas, yang dipegangnya erat dengan kedua tangannya. Bibirnya terkatup rapat menahan amarah.
" Kenapa.., kenapaaaaaaa..?? Hhaaarrrrrgghhkkk..!!! " Yudha berteriak dan melempar foto dalam bingkai itu dengan keras. Kedua netranya memerah menatap tajam foto itu.
" Dasar wanita jal**g murahan.. !! " serunya sambil menghantam tembok dengan kepalan tangannya. Berkali kali dia melakukannya sampai benjolan bentuk tulang yang menggenggam itu terlihat mengeluarkan darah.
Seolah tak puas memukul tembok, kaki kanannya pun dengan cepat di layangkan ke arah meja kayu yang tebal di sampingnya, menendang dengan kuat hingga menimbulkan suara deritan yang keras. Setelah itu kembali memukulkan tangannya ke atas meja berulang - ulang. Air matanya menetes perlahan membasahi pipinya. Tubuhnya pun terhuyung dan jatuh berlutut. Kepalanya tertunduk di depan foto yang tergeletak di hadapannya.
TOK..! TOK..! TOK..!
Terdengar suara ketukan dari pintu ruangan yang di tempatinya saat ini.
" Tuan. Anda baik - baik saja ? " sebuah suara berseru khawatir dari luar pintu itu. Yudha diam tak bergeming.
" Tuan.., saya masuk. "
Pintu yang tidak terkunci itupun terbuka pelan. Seorang pria paruh baya melongok ke dalam. Di lihatnya Yudha yang sedang bersimpuh memandangi sebuah foto dengan sorot mata yang kosong. Kedua tangannya terluka.
" Tuan.. Apa yang terjadi ? " tanya pria itu sembari merapikan tempat itu dan mengambil pecahan kaca dari bingkai foto yang hancur.
" Tuan.. Tuan Yudha.. " pria itu berjalan menghampiri Yudha setelah menyimpan pecahan kaca dan bingkai rusak di ujung ruangan. Di guncangnya perlahan bahu Yudha mencoba untuk menyadarkan Yudha dari diamnya.
" Tuan.., ini saya. "
__ADS_1
Yudha terperangah, menengadahkan kepala melihat wajah pria yang berdiri di sampingnya.
" Pergi dari sini. " kata Yudha kemudian setelah menyadari siapa yang datang.
" Tuan, sampai kapan Anda seperti ini..? Sudah bertahun tahun setelah kejadian itu, bukankah seharusnya Anda sudah bisa move on dan bangkit menunjukkan kepada dunia bahwa Anda seorang pria yang kuat..? "
" Diam kau..!! Apa hak mu bicara seperti itu hah..?" Yudha menatap sinis pria itu.
" Mungkin memang saya tidak mempunyai hak apapun untuk bicara kepada Anda tuan. Tapi ingatan dan hati saya membuat saya merasa harus melakukan sesuatu agar Anda berubah.. Kita sudah seperti ayah dan anak waktu itu.., walaupun sebenarnya saya bukan siapa - siapa bagi Tuan.. " kata pria itu panjang lebar. Wajahnya sedikit murung saat mengingat masa lalunya bersama Yudha.
" Tidak perlu mengingatkanku dengan hal itu pak Jo..! Anda sudah berbohong.. Aku tidak akan mempercayaimu lagi..! " jawab Yudha berang. Kedua netranya menatap nyalang pria itu yang ternyata adalah pak Jo, sopir dan tangan kanan Basira, ayah Yudha.
" Terserah Anda mau percaya atau tidak Tuan. Tapi saya yakin Anda memahami bahwa selama waktu itu saya selalu mendukung Anda biarpun saya adalah tangan kanan tuan besar. Tetapi tidak lagi sejak Anda berubah menjadi seperti sekarang ini. " kata pak Jo kecewa.
" Maka pergilah. Jauhi aku pak Jo..! "
" Baik, saya akan pergi. Tapi sebelumnya Anda harus paham ini, nona Isya tidak bersalah sedikitpun. Ada sesuatu hal yang membuatnya harus memutuskan untuk menikah dengan Handoko. Mereka pada akhirnya saling mencintai. Dan perlu Anda ketahui, gadis itu adalah anak Handoko, bukan anak Anda tuan Yudha Basira.. " kata pak Jo panjang lebar.
" Sayang sekali Anda sudah berubah terlalu jauh Tuan Yudha. Seharusnya Anda tidak menyerang keluarga itu. Anda tidak tahu betapa nona Isya benar - benar terpukul waktu itu. Jika saja Anda mengerti bahwa sebenarnya ayah Andalah dalang dari semua ini.. " batin pak Jo.
" Dia itu anak ku..! Berani kau bilang itu anak Handoko..!! Aku tidak akan diam sebelum terungkap semuanya. Sampai aku menemukan anak itu dan menguasai semua harta peninggalannya yang di wariskan oleh nenek ku. !! " teriak Yudha.
Pak Jo yang mendengar suara Yudha dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya putus asa. Dadanya terasa begitu sesak menyadari bahwa dirinya tidak mampu merubah Yudha dengan kata - katanya.
" Suatu saat nanti.. anak itu yang akan menjawab semua ragumu tuan. Ya.., hanya anak itu. "
Pak Jo menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia berhenti di depan mobilnya. Menoleh sebentar ke arah rumah Yudha yang begitu besar, bak istana raja, jauh berbeda dengan kehidupan Yudha di masa lalu yang tidak berlebihan dan cenderung bersikap sederhana biarpun mereka orang berada.
__ADS_1
" Selamat tinggal tuan. Sampai jumpa di saat Anda menemukan semua jawabannya. Dan di saat itu juga tanganku akan terbuka lebar.., menerimamu dengan senang hati.. " lirih Pak Jo. Buliran bening menetes dari sebelah matanya.
*****
Malam itu Laras berdiam diri di dalam kamarnya yang baru. Di dalam ruang rahasia yang mereka temukan. Keadaan sekitar kamarnya lengang. Semua penghuni sepertinya sedang menjalankan aktifitas mereka di tempatnya masing - masing. Hanya terlihat dua orang yang berjaga di pintu masuk dengan di temani segelas kopi masing - masing dan makanan ringan di dalam toples.
Laras membuka buku hariannya. Membaca kalimat demi kalimat yang telah di tulisnya dari awal. Sesekali tangannya bergerak mengusap air mata yang tidak sengaja runtuh di pipinya. Hembusan nafas terdengar begitu berat. Laras menutup kembali buku hariannya dan melempar begitu saja di sembarang tempat.
" Bosan. " Laras mengambil ponsel di atas meja di sudut ruangan. Membuka layar dan menekan sebuah ikon di dalamnya. Terdengar nada panggilan dari ponselnya. Beberapa saat kemudian, [[ " kenapa nggak langsung kesini saja sih.., pakai telpon segala. Kan deket.. " ]] suara di seberang sana menerima panggilan.
" Lagi gabut tan.. " jawab laras.
[[ " Mau tante temani kah ? " ]]
" Ndak usah tan. Begini aja lebih enak.. " Laras merebahkan tubuhnya di atas kasur.
" Tante temani sebentar ya.. sampai kamu tidur. " tiba - tiba Sonya membuka pintu kamar Laras.
Laras pun terlonjak kaget. " Tante aaaahh.. selalu yaa.. " menarik lengan Sonya dan mencubitnya dengan gemas. Sonya hanya meringis menahan sakit.
" Ayo sini. Cerita sama tante.. Sepertinya ada yang sedang kamu fikirkan.. " Sonya mengajak Laras untuk berbaring di sebelahnya.
" Ndak ada tan. Aku cuma bingung aja mau ngapain.., bosan. " Laras membaringkan tubuhnya di samping Sonya.
" Bener ndak apa - apa..? Tapi muka nya kok sedih gitu.. " Sonya memiringkan tubuhnya menatap Laras. Mengusap pelan kepala Laras.
Laras hanya diam. Buliran bening turun dari matanya. Laras menangis.
__ADS_1
******
》 Bersambung