Something Wrong With...

Something Wrong With...
# " Nde Geng "


__ADS_3

Pagi itu juga pak Ben bertemu Axel dan Zicko untuk menyerahkan rekaman kamera model kancing kemejanya. Hanya untuk memastikan wajah para pelaku penyerangan yang ingin menculik Laras.


Dari rekaman itu jelas terlihat lambang kepala tengkorak dengan setengah wajah manusia tertera pada ujung atas bagian belakang jaket para penyerang dengan bentuk yang agak kecil menyerupai merk sebuah pakaian.


Pak Ben juga menyerahkan catatan nomor plat motor yang di kendarai oleh salah satu dari mereka yang berhasil di lihat dan di ingatnya.


Axel segera mengambil catatan itu dan menghubungi salah satu rekannya di kepolisian untuk menyelidiki siapa pemilik motor itu.


" Kerja bagus. " kata Axel sambil tersenyum menatap pak Ben yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.


" Satu jam lagi kita akan mulai menjalankan strategi. " Zicko menjelaskan dan meminta pak Ben memanggil beberapa anak buah kepercayaannya untuk berkumpul di tempat itu melakukan briefing.


*****


" Sedang apa..? " Sonya menatap Laras heran ketika dilihatnya gadis belia itu sedang mengutak atik benda kecil berwarna hitam, kalau dilihat dari kejauhan mirip bentuk kubus, di atas meja belajarnya. Lampu duduk menyala sehingga menambah penerangan dan benda itu terlihat sangat jelas. Laras masih tetap tidak beralih perhatiannya dari benda kecil itu. Tangan kanannya memegang sebuah alat pembesar.


Merasa di acuh kan Sonya pun berjalan mendekat ke tempat Laras berada. Dilihatnya benda kecil itu secara intens. Dengan tubuh sedikit membungkuk dan kelopak mata yang menyipit, Sonya melihat ada beberapa kabel kecil pada benda itu yang menjuntai dan terlihat tak beraturan, berbentuk serabut. Sangat kecil, berwarna merah, hitam dan ke emasan. Dalam benaknya seketika teringat tentang bermacam bentuk alat penyadap yang pernah di pelajarinya dulu dari beberapa kenalannya.


" Kamu dapat dari mana itu ? " tak sabar Sonya bertanya sedikit memperkeras suaranya di dekat telinga Laras yang sepertinya masih belum menyadari kehadirannya.


GUBRRAKKK..


KLUNTHHIIING..


Laras terjatuh dari kursi yang di dudukinya. Netranya membulat menatap aneh ke arah Sonya. Sedang yang di tatap pun ikut membulatkan netranya dengan mulut yang sukses menganga akibat terkejut melihat Laras terjatuh. Pinset, penggaris besi dan alat pembesar yang di pegang Laras pun iku terjun bebas ke lantai.


" Tan.. Aaahhh tante ngagetin aja deeehhh. " seru Laras sambil berusaha berdiri dengan benar. Tangannya menggapai, meraih kursi yang ikut berguling di sampingnya.


" Maaf.. Abisnya kamu cuekin tante. Dari tadi di tanya diem terus. Ya tante ampirin deh kesini, eeehhh.. kamunya malah bikin gerakan break dance di lantai.. " sesal Sonya sambil menahan senyum.


" Break danceeee katanya.. Jatooohh tan.. jatooohh.. Ngilu nih kaki. " protes Laras sambil memonyongkan bibirnya sepuluh centi ke depan. ( Ndak lah, kepanjangan. Eitss..ga perlu ikutan monyong hehhe.. ) Tangan kanannya mengusap usap lutut.


Sonya hanya tertawa melihat tingkah Laras.


" Kita di suruh bersiap. Satu jam lagi kita jalankan rencana. " Sonya langsung menjelaskan saat Laras sudah berada pada posisi aman di atas tempat duduknya.


" Cepet banget. " Laras memperhatikan jam beker di atas meja belajarnya.


" Aku masih siapin ini tan.. Tanggung " sambungnya sambil kembali melanjutkan mengutak atik benda kecil itu.


" Itu penyadap bukan..? "


" He eum. "

__ADS_1


" Kenapa sudah kayak gitu bentuknya ? "


" Kan udah Laras operasi tadi tan.. " sambil tetap tidak mengalihkan arah pandangannya dari alat penyadap itu.


" Trus, kamu mau siapin buat apa? "


" Rencanaku sih mau tak selipkan dimana gitu.. Biar kita bisa dengar pembicaraan para tengkorak en nde geng itu kalau pas mereka masuk ke rumah ini. "


Sonya hanya menghembuskan nafas pelan. " Kenapa gak pake penyadap yang baru aja..? "


" Kelamaan. Masih harus pesan dulu, kan buang buang waktu tuh tan.."


" Lha ngapain..? Tante ada banyak kalau cuma alat penyadap sih.. " kata Sonya ringan. Kedua pupil matanya menatap arah atas. Jari tangan kanannya di ketuk ketukkan ke dahinya pelan.


Mendengar hal itu Laras langsung berdiri dan menghambur memeluk Sonya. " Kenapa ndak dari tadi sih bilangnya kalau punya alat penyadap banyak tan.." mencubit pipi Sonya gemas.


" Laah kan kamunya gak nanya.." sedikit memiringkan kepalanya, jengah.


" Dimana tan, aku mau doong.. " memasang tampang memelas.


" Ada. Sudah ke packing.. Mau pindahan. "


" Yaaahhh, sia - sia dong, gak bisa di pakai. "


*****


" Nih.. buka aja. " Sonya mengulurkan tangannya menyerahkan sebuah kotak seperti kotak perhiasan ke hadapan Laras.


" Lhoo.. katanya sudah di packing ? " Laras melotot kesal melihat kotak itu masih polos tanpa di bungkus dengan apapun.


" Iya. Dipacking dalam kotak.. Kan gak berceceran kemana - mana kayak liur kamu tuh biasanya.. "


" Aaahh tante iiihh.. Nyebelin..!! " melempar bantal ke arah Sonya. Hubungan mereka memang sudah begitu akrab layaknya kakak beradik. Sudah sejak awal Laras diminta untuk memanggilnya dan Zicko mama - papa , tapi Laras masih enggan. Dengan dalih takut teringat terus sama orang tuanya. Sonya dan Zicko membiarkan hal itu dan mencoba bersabar sambil berharap semoga kelak Laras akan memanggil mama - papa kepada mereka, atas kemauan Laras sendiri.


" Abisnya kamu seru banget kalau pas lagi di goda in.." sahut Sonya terkekeh melihat tingkah Laras seraya menangkap bantal dan berguling di atas kasur sambil memeluk bantal.


Mereka pun terdiam saat Laras memilih beberapa alat penyadap dalam kotak itu. Mengambil dan meletakkan dengan hati hati di atas nakas sambil menghitung kira - kira berapa banyak yang akan dia butuhkan.


" Kamu dapat ide dari mana ras kok tiba - tiba kepikiran buat masang penyadap di rumah ini.. ? " tanya Sonya memecah kesunyian.


" Saat nanti kita sembunyi dan tinggal sementara waktu di tempat rahasia gak bakalan tahu apa - apa kalau gak ada ini tan.. "


" Maksudnya ? "

__ADS_1


" Kira - kira ya tan, pas kita ada di ruang rahasia, apa paman sama tante bisa tahu begitu saja kapan nde geng itu datang dan mencari kita ke rumah ini, kapan mereka pergi dari sini dan apa rencana mereka setelah tahu rumah ini kosong..? " Laras menjelaskan perlahan. Sengaja dia menyebut kelompok BadBoy dengan istilah nde geng.


Sejenak Sonya terpana menatap anak angkatnya yang sangat cerdik itu. Takjub dengan pemikirannya. Kemudian mengangguk paham akan maksud Laras.


" Gituuu tan.. " lanjut Laras sambil tersenyum sumringah seperti biasanya kalau sedang lagi seru - serunya mendapatkan ide brilian di kepalanya.


" Sudah dapat berapa itu ? "


" Ini ada.. emm.. sudah ada enam tan. "


" Masih kurang ? "


" Aku butuh satu lagi buat di teras depan. "


" Rencananya mau di letakkan dimana saja ras..? "


" Ruang tamu, ruang tengah, ruang kerja paman, halaman depan, belakang, taman samping dan teras depan. " sambil jari - jarinya di tekuk ke dalam membuat hitungan.


Sonya manggut manggut.


" Kenapa di teras depan, kan di halaman depan sudah di kasi..? "


" Biasanya nih ya.., Laras lihat di film - film barat, kalau ada penjahat yang menyelinap di rumah seseorang, dan ketika tidak menemukan apa yang mereka cari seringnya mereka selalu menghubungi boss nya di teras depan. Setelah keluar dari pintu. Bukan di halamannya..karena menghindari percakapan mereka terdengar jelas dari luar. " Laras menjelaskan panjang kali lebar sambil memasukkan alat penyadap itu ke dalam plastik.


" Oh iya kah ? Tante kok tidak memperhatikan.. "


" Coba aja tan, tonton salah satu film.. perhatikan saat mereka menyelinap dan menghubungi boss nya. "


" Film apa emangnya ras.. ? "


" Film dokumenter.. Ya film action lah tan.. " melenggang pergi meninggalkan Sonya yang gantian bengong.


*******


》 Bersambung


Haiiyy.. 🐣🌹


Klik like nya dong kalau dirasa cerita ini bagus.., buat semangat author dengan dukungan kalian para readers yang baik hati..


Kalau kurang berkenan, pliiss kasih masukan ya di bagian komentar. Maklum, masih butuh banyak belajar..


Makasiiih.. πŸ˜ŠπŸ˜—πŸŒΉ

__ADS_1


__ADS_2