Suami Biadab

Suami Biadab
Lalu Siapa?


__ADS_3

Sean mendekati Rara yang tersungkur di lantai, tangannya masuk ke dalam rok yang Rara kenakan.


Dia meremas pantat Rara dengan keras lalu tangannya masuk ke dalam ****** ***** milik sang istri.


Sean malah memainkan area sensitif Rara dan ini membuat Rara menangis, dirinya bak seorang ***-*** yang diperlakukan dengan buruk.


"Tuan sudah," pinta Rara.


Bukan kenikmatan lagi yang Rara rasakan melainkan sakit karena Sean memainkan miliknya dengan kasar.


Puas memainkan milik Rara, dia menutup pintu dan memaksa Rara untuk melayaninya.


Ingatan tentang Seon kembali lagi sehingga membuat Sean menyiksa Rara, kekerasan dalam bercinta dia terapkan pada pada sang istri yang sejatinya harus dia perlakukan bak seorang ratu.


Sakit dan nikmat bercampur jadi satu meski rasa sakitnya lebih mendominasi rasa nikmatnya.


Tubuh Rara yang tidak begitu besar nampak kesakitan saat tubuh besar Sean menindihnya, apalagi tangan dan mulut Sean tak berhenti menyiksa dirinya.


"Ampun Tuan jangan digigit, sakit." Rara memohon namun bukannya kasihan Sean malah semakin keras menggigit pucuk bukit kembar sang istri.


Perih dan sakit namun Rara yang bisa menangis dan menikmati rasa sakitnya sendiri.


Puas dengan tubuh sang istri Sean beranjak dan meminta Rara untuk membersihkan diri.


Kejam, sadis dan biadab mungkin itu sebutan untuk Sean, dendam yang membara membuatnya menganiaya wanita tak berdosa.


"Lanjutkan pekerjaan kamu," Titah Sean.


Meski tubuhnya sakit semua, Rara mencoba kuat dan bekerja kembali.


Sore datang dengan cepat, Sean yang ada urusan pulang terlebih dahulu, Rara yang merasa suntuk memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar siapa sangka dia malah bertemu dengan Daffa di sebuah kate.


"Mas," sapa Rara.


"Eh Ra, kamu ngapain disini?" tanya Daffa.


"Suntuk mas, lagian Tuan Sean juga keluar," jawab Rara.


Daffa nampak was was takut kalau Sean marah gara-gara Rara keluar.


"Yang penting Tuan Sean nggak marah Ra," sahut Daffa.


Rara mengangguk, banyak hal yang Rara dan Daffa obrolkan hingga dia bercerita tentang uang yang dia dapat dari trading.


"Aku dapat satu milyar mas," kata Rara yang sontak membuat Daffa tak percaya.


"Banyak sekali Ra," sahut Daffa.


"Uang tabungan aku mainkan mas dan aku selalu menang," timpal Rara.


"Kamu udah jangan main lagi, biasanya trading gitu, memberikan kamu keuntungan besar di awal lalu membuat kamu rugi di akhir," pungkas Daffa.

__ADS_1


Waktu terus berlalu hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, Rara segera pamit untuk pulang terlebih dahulu takut kalau Sean sudah pulang.


"Aku pulang dulu ya mas," pamit Rara.


Rara menggunakan jasa ojek online untuk pulang, sebenarnya Daffa menawari untuk pulang bersama namun Rara menolak karena takut pada Sean.


Setibanya di rumah, Rara sangat takut karena melihat mobil Sean sudah ada di rumah.


"Matilah aku," batin Rara.


Meski takut namun dirinya tetap berjalan menuju kamar, saat membuka pintu Rara melihat Sean tidur.


"Untunglah dia tidur," gumam Rara lalu masuk.


Dirinya membersihkan diri lalu menyiapkan makan malam untuk Sean tak lupa dia juga membersihkan kamar.


Melihat Sean tidur dengan nyenyak membuat Rara boring lalu ikut tidur di sofa.


Byur


Baru beberapa saat memejamkan matanya, segelas air berpindah ke tubuhnya.


"Enak ya jam segini sudah tidur," bentak Sean.


"Maafkan saya Tuan, saya lelah dan mengantuk tapi semua sudah saya siapkan," ucap Rara.


Sean menuju nakas untuk makanan yang tadi disiapkan oleh Rara.


Tanpa belas kasian Sean menumpahkan makanan ke kepala Rara.


"Ampun Tuan, kalau nggak suka saya bisa menggantinya kenapa harus menumpahkan semua ke kepala saya." Rara mengiba namun Sean seakan tak punya hati sisa makanan yang ada di nakas dia ambil juga dan memaksa Rara untuk memakannya.


Rara yang tak kuat segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri, di bawah guyuran air dia menangis, entah sampai kapan dirinya terus di siksa Sean tanpa ampun.


Setelah mandi Rara membersihkan kekacauan yang ada di kamarnya setelah itu dia menyiapkan makanan yang baru untuk Sean.


"Setelah ini aku mau keluar kota menyusul Cindy dan mungkin aku menginap besok malam baru pulang," kata Sean.


Sean ingin menghabiskan weekend bersama Cindy, sebenarnya ini Sean lakukan untuk menyakiti Rara.


"Iya, hati-hati semoga hari anda dan Nona Cindy menyenangkan," sahut Rara dengan tersenyum.


Melihat Rara yang tersenyum justru membuat Sean tak nyaman, padahal dia pikir kalau Rara akan sakit hati dan menangis namun yang terjadi malah diluar dugaannya.


Selepas kepergian Sean, Rara menitikkan air mata rasanya sungguh sakit diperlakukan seperti ini oleh Sean.


**********


Hari senin berlalu sangat cepat, Rara bersiap untuk pergi ke kantor dengan ojek online yang dipesannya.


Setibanya di kantor Rara membersihkan ruangan Sean dan menyiapkan secangkir kopi untuk suaminya.

__ADS_1


"Andai saja aku tidak mencintaimu pasti aku sudah memasukkan sianida ke dalam kopi kamu ini," batin Rara dengan tertawa.


Setelah siap semua, Rara menuju meja kerjanya untuk memulai pekerjannya.


Rara yang fokus dengan pekerjannya tidak sadar akan kedatangan Sean dan David.


Brak


Sean menggebrak meja Rara sehingga Rara tersentak kaget.


"Ada apa?" tanya Sean.


"Gara-gara kamu aku kehilangan klien," jawab Sean.


"Kenapa selalu saya yang anda salahkan, padahal jelas-jelas anda sendiri yang menyuruh saya untuk mengerjakan laporan itu terlebih dahulu," sahut Rara dengan menunjukan laporannya pada Sean.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Rara sehingga membuat Rara menangis kali ini Rara sungguh sakit hati karena Sean menamparnya di depan David.


"Pak sudah nggak usah sampai menampar Rara," kata David.


Rara hanya diam sambil memegangi pipinya yang perih, dia duduk dan mengabaikan atasannya.


Air matanya terus mengalir dan ini membuat David merasa tidak enak.


"Lain kali kamu menyalakan aku lagi awas," ancam Sean lalu melempar berkas ke wajah Rara.


Rara menatap Sean dengan tatapan tak biasa, hatinya sungguh lelah ingin rasanya pergi dari Sean dan melupakan semua cintanya.


Sean dan David memutuskan untuk keluar ruangan mengingat ada meeting penting dengan klien.


Waktu makan siang telah datang, Rara yang tidak nafsu makan memutuskan untuk duduk di taman samping kantor.


Dia lagi-lagi menangis untuk menumpahkan semuanya. Tiba-tiba sebuah tangan memberikan tisu pada Rara.


"Sudah jangan menangis," hibur David.


"Pak David," sahut Rara.


David duduk di samping Rara, dia cukup tau apa yang telah dilakukan Sean padanya.


"Saya hanya lelah pak, entah mengapa Tuan Sean menganggap saya yang telah membunuh saudaranya hingga dia terus saja menyiksa saya." Rara sengaja mengungkapkan semua pada David.


"Bukankah kamu adalah kekasih saudara Tuan Seon?" tanya David.


Rara tertawa keras.


"Saya menginjakkan kaki di kota ini ya saat saya akan melamar kerja pak karena orang tua saya yang telah meninggal," jawab Rara.


David hanya mengerutkan alisnya dan berpikir keras.

__ADS_1


"Kalau dia bukan kekasih Tuan Seon berarti Tuan Sean menyiksa orang yang salah,"


__ADS_2