
Daffa yang iba pada Rara mengambil salep dan mengoleskannya pada di punggung Rara, melihat luka Rara membuat mata Daffa membasah, dia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya.
"Kamu buat istirahat saja, aku keluar dulu ya," kata Daffa sembari menutup salep.
Daffa memberikan salepnya untuk Rara siapa tau Rara membutuhkannya untuk mengoles luka yang lain.
Selepas kepergian Daffa, merupakan kembali tubuhnya di tempat tidur dengan posisi miring, punggungnya sangat perih, namun semua luka di tubuhnya tak seperih luka di hatinya. Siksaan Sean sangat membekas di hati Rara, luka yang Sean torehkan membuat Rara ingin sekali mengakhiri hidupnya.
Keesokan paginya, kepala Rara tiba-tiba pusing, perutnya bergejolak hebat hingga dia memuntahkan semua isi dalam perutnya.
"Aku kenapa?" Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.
Huek
Huek
Lagi-lagi dia mengeluarkan isi dalam perutnya sehingga membuatnya lemah tak berdaya.
Saat bersamaan Sean membuka pintu dengan keras dia sangat murka pada Rara karena memilih tidur di ruang tamu daripada di kamarnya.
"Siapa yang mengijinkan kamu tidur di sini hah?" maki Sean.
Sean menarik tubuh Rara lalu mengguyurnya dengan air sehingga luka cambukan semakin perih tak kuat menahannya akhirnya Rara pingsan.
Tanpa rasa iba dia keluar begitu saja, meninggalkan Rara yang pingsan di kamar mandi.
Dia hanya berpesan pada art kalau Rara pingsan di kamar mandi.
Ibu Daffa yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala, setelah Sean berangkat ke kantor beliau baru melihat keadaan Rara.
"Ini orang apa iblis, seorang iblis saja masih menyayangi istrinya," batin ibu Daffa lalu membawa tubuh Rara ke tempat tidur.
Karena baju yang basah, beliau lepas pakaian Rara, melihat bekas luka di sekujur tubuh Rara membuat Ibu Dafa menangis, beliau tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya luka-luka itu.
Setelah menggantikan pakaian Rara, ibu Daffa meminta pelayan lain untuk memantau keadaan Rara karena dirinya akan pergi untuk menghadiri wisuda Daffa.
Di sisi lain David nampak kebingungan, Seon benar-benar menyembunyikan identitas kekasihnya, untuk apa Seon menyembunyikan identitas kekasihnya?
Jalan satu-satunya adalah bertanya pada Rara dari mana Rara mendapatkan syal merah tersebut.
David segera berjalan menuju ruangan Sean, namun di dalam dia hanya melihat Sean tidak melihat Rara.
"Rara tidak masuk?" tanya David.
"Tadi dia pingsan," jawab Sean.
__ADS_1
"Anda menyiksanya lagi?" tanya David.
David hanya bisa menghela nafas, dia sangat menyayangkan sikap Sean yang langsung menyimpulkan jika Rara adalah wanita yang membuat Seon meninggal.
"Sampai nanti aku akan terus menyiksanya, dialah wanita yang membuat saudara kembarku meregang nyawa dengan kesakitan," kata Sean dengan raut wajah sedih.
David paham jika Sean sangat sedih akan apa yang terjadi namun semua harus diselidiki apalagi jika nanti Rara terbukti tidak bersalah bukankah itu justru membuat Rara akan membenci Sean bahkan memiliki dendam.
*********
Waktu terus berlalu, Daffa yang merupakan lulusan terbaik mendapatkan tawaran pekerjaan di luar negeri, dia sungguh dilema antara menerima atau menolak pekerjaan tersebut.
Namun sebelum dikirim ke luar negeri, dia diminta untuk bekerja di sebuah rumah sakit swasta di ibukota selama 3 bulan.
Daffa tentu meminta Daffa untuk menerima pekerjaan tersebut, bekerja di luar negeri tentu sangat berbeda dengan di dalam negeri, karir Daffa terjamin di sana, aneka fasilitas yang memadai akan dia dapat.
Karena tidak ingin mengecewakan Ibunda tercintanya, Daffa akhirnya mau menerima tawaran pekerjaan di luar negeri, toh dia juga masih punya waktu tiga bulan di Indonesia.
Beberapa hari tidak masuk kantor, membuat David kesulitan untuk bertanya mengenai syal merah yang kenakan Rara, bertanya langsung ke rumah Sean tentu tidak mungkin.
Hingga suatu hari Rara masuk dengan wajah yang sangat pucat, pasti saya memaksanya untuk masuk kerja.
"Kamu pucat sekali Ra?" tanya David.
David mengurutkan alisnya, kalau sering mual bisa jadi Rara sekarang tengah mengandung.
"Sudah berobat ke dokter?" tanya David lagi.
Rara menggelengkan kepala, pergi ke rumah sakit tidak terpikirkan oleh Rara, yang dia pikirkan adalah cara terbebas dari siksaan Sean.
"Oh ya Ra, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya David.
"Tanya apa pak?" tanya Rara balik.
"Syal yang saat pertama kali kamu gunakan untuk melamar pekerjaan sebenarnya milik siapa?" David melemparkan pertanyaan untuk Rara.
Rara terdiam sembari menatap David dengan lekat, untuk apa David bertanya hal itu?
"Itu adalah syal saya pak," jawab Rara.
"Apa kamu yang membelinya sendiri?"
Pertanyaan David membuat Rara bertanya-tanya, ada apa memangnya kenapa David ingin tau soal syal merah itu.
"Itu adalah pemberian sepupu saya," jawab Rara.
__ADS_1
Kini semua jelas, Rara bukanlah kekasih Seon, lantas apa mungkin sepupu Rara adalah kekasih Seon yang sesungguhnya? atau dia juga mendapatkan Syal merah ini dari seseorang juga?
Saat bersamaan Sean datang, dia langsung menarik Rara dan memerintahkannya untuk membersihkan ruangannya.
Saat mencium bau parfum Sean, Rara sangat mual, lalu dia berlari ke toilet.
Lagi-lagi dia memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya, hingga tubuhnya benar lemas.
Dengan lemas dia kembali ke ruangan Sean, dia menatap Sean dengan sendu, berharap Sean mau mengerti keadaannya.
Saat Sean akan mendekat Rara segera menjauh tentu hal ini membuat Sean murka.
"Kita tidak sedang bermain, mendekatlah cepat!" teriak Sean.
David meminta Sean untuk tenang, apa yang dilakukan Rara bukan tanpa sebab.
"Tenang pak, dia tengah sakit jangan selalu menyiksanya," kata David.
Kini Sean pun marah pada David dan memintanya untuk keluar, David yang ingin menjelaskan jika Rasa bukanlah kekasih Seon malah disuruh pergi.
"Baiklah," sahut David.
Bau parfum Sean benar-benar membuat perut Rara bergejolak, dia yang memohon bahkan bersujud dari jauh agar Sean tidak mendekati dirinya.
Sean nampak aneh namun dia mengabulkan keinginan Rara.
Keesokan harinya, seperti biasa Rara membuatkan Sean kopi karena dia mengobrol dengan temannya di pantry dia pun keliru memasukkan garam ke dalam cangkir kopi Sean sehingga saat Sean meminumnya kopinya sangat asin.
Prank
Sean membuang cangkir kopinya lalu dia mendekati Rara yang tengah mengerjakan pekerjaannya.
"Kurang ajar! kamu mau mengerjai aku hah!" makinya dengan nada yang tinggi.
Sean menarik rambut Rara dengan kuat, dia lagi-lagi melempar tubuh Rara ke sofa.
Aaaaaaaaaaaa
Rara berteriak kesakitan, nampak darah segar di rok putih yang dia kenakan.
Sean nampak diam membatu melihat Rara kesakitan, David yang mengetahuinya segera membawa Rara ke rumah sakit.
Masa bodoh dengan Sean, Rara lebih membutuhkan bantuan.
"Untung segera dibawa kesini kalau tidak janinnya bisa gugur,"
__ADS_1