Suami Biadab

Suami Biadab
Dia baik-baik saja kan?


__ADS_3

Dengan membawa es krim yang dia beli Rara berlari ke arah Albert, dia sudah tidak berpikir apa-apa lagi karena yang terpenting adalah anaknya.


Sudah tidak ada waktu lagi untuk menghindar sehingga dia hanya mendorong tubuh Albert dan mobil menabrak dirinya.


Tubuh Rara terpental beberapa meter dari lokasi kejadian, darah segar mulai keluar membasahi tubuhnya, Sean yang baru tiba harus menyaksikan sendiri istrinya ditabrak mobil dan terpental beberapa meter.


Dengan air mata yang mengalir dia berlari menuju tubuh Rara yang berlumuran darah sedangkan David melihat keadaan Albert yang tadi didorong oleh Rara.


"Sayang," teriak Sean.


Rara tersenyum menatap Sean, dia mengusap air mata Sean yang jatuh.


"A-a-ku ti-ti-dak a-pa a-ap mas," kata Rara dengan lirih.


David berteriak pada Sean untuk segera membawa Rara ke rumah sakit.


Sean segera menggendong tubuh Rara yang penuh sudah dibanjiir darah segar.


Di dalam mobil Albert hanya terdiam bocah kecil ini nampak sangat shock dengan apa yang telah terjadi barusan.


Dia tidak menangis dan banyak bertanya tentu hal ini membuat David cemas akan keadaan Albert.


Sean terus menggenggam tangan Rara yang, dia terus menangis.


"Kita baru bersama Ra, jangan tinggalkan aku lagi," kata Sean.


"Lima tahun yang lalu kamu sudah meninggalkan aku Ra, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi." Sean terus mengoceh.


Sesampainya di rumah sakit, Sean sendiri yang menggendong tubuh Rara masuk dia berteriak memanggil dokter.

__ADS_1


Dokter segera datang dan membawa tubuh Rara ke ruang gawat darurat, mengingat parahnya luka yang Rara dapatkan membuat mereka harus melakukan operasi.


Daffa yang mendapatkan kabar ada korban kecelakaan segera datang ke ruangan gawat darurat, hatinya sudah tidak enak saat melihat David dan juga Albert di depan.


Daffa bertanya-tanya siapa yang kecelakaan? keringat dingin sudah keluar dari pori-pori tubuhnya.


Beberapa dokter sudah membawa tubuh Rara ke ruang operasi karena sudah tidak ada waktu lagi.


Melihat Rara yang berada di atas brankar membuat Daffa seperti dihantam, beberapa waktu lalu Rara masih baik-baik saja.


Air mata Daffa mengalir begitu saja dia segera menghampiri dokter yang ikut mendorong brankar Rara.


"Sudah tidak ada waktu lagi dok, detak jantungnya semakin lemah," kata Dokter.


Daffa seperti dihujani ribuan batu, dia melihat Sean yang juga bajunya sudah dipenuhi darah.


"Ada mobil yang menabraknya Daffa," jawab Sean.


Daffa menoleh melihat Albert yang hanya diam dalam gendongan David.


Hatinya semakin tak karu-karuan, saat akan memasuki ruangan operasi Daffa melarang Sean untuk masuk, sempat protes namun itulah prosedurnya.


"Aku mohon Daffa selamatkan dirinya," pinta Sean dengan memohon pada Daffa.


"Pasti Tuan Sean," sahut Daffa.


Meski tidak diminta Daffa tetap akan menyelamatkan Rara, saat Daffa masuk dan mendekati Rara para dokter nampak diam, mereka keliatannya sudah tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kenapa kalian hanya diam? kenapa tidak segera bertindak?" tanya Daffa dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Detak jantungnya semakin lemah, denyut nadinya juga mulai menghilang kalau kita melakukan tindakan kami takut jika tubuhnya tidak akan menerimanya, ini saja kami sudah tidak bisa menemukan pembuluh darahnya, sehingga kami tidak bisa memasang infus," jelas Dokter.


Daffa menangis histeris, dia teringat lagi saat Rara datang padanya tadi, apa itu artinya pertemuan terakhir mereka? apa itu artinya makanan terakhir yang dibuat untuknya?


"Tidak, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku janji kita akan tinggal bersama Ra, aku tidak akan pergi dari hidup kamu meski kamu bersama Sean, tapi bukalah matamu, berjuanglah Ra demi Albert," kata Daffa dengan memegangi Daffa.


"Maafkan aku yang selama ini menghindar darimu, jujur aku bingung harus bagaimana, aku hanya tidak ingin menjadi penghalang antara kamu dan juga Sean."


Dokter yang mendengar ucapan Daffa mengeluarkan air matanya, mereka hanya berharap ada keajaiban mengingat keadaan tubuh pasien yang semakin melemah.


"Dok, saya mohon selamatkan wanita saya," pinta Daffa sambil berlutut di depan para dokter.


Semua dokter menangis lalu meminta Daffa untuk menangis ketakutan kehilangan Rara membuat Daffa tak tau harus bagaimana.


Tiba-tiba mata Rara terbuka, namun meskipun begitu keadaan tubuhnya semakin lemah dan lemah.


Tatapan Rara nampak sayu dia hanya diam sambil menatap Daffa, perasaan Daffa sudah tidak karu-karuan.


"Panggilkan suami dan anaknya," titah Daffa dengan berteriak.


Suster segera keluar untuk memanggil suami dan anak Rara.


Mereka semua langsung masuk, Daffa menggenggam tangan Rara dan berkali-kali menciumnya.


"Dia baik-baik saja kan Daffa?" tanya Sean.


Daffa mengangguk meski dia tau kalau Rara tidak baik-baik saja.


"Sayang," panggil Sean.

__ADS_1


__ADS_2