Suami Biadab

Suami Biadab
Kesakitan Daffa


__ADS_3

Sebuah tangan mengagetkan Rara, saat menoleh nampak Daffa berdiri di sampingnya.


"Mas, kok sudah pulang?" tanya Rara.


Daffa duduk di samping Rara, kemudian dia menatap Rara dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku sakit Ra," jawab Daffa.


Rara segera mengecek dahi Daffa, saat kulit tangannya menyentuh kulit dahi Daffa, cara merasakan suhu tubuh Daffa sangat tinggi.


"Astaga mas, suhu tubuh kamu tinggi sekali." Terlihat Rara sangat panik.


"Dokter kok bisa sakit sih," sambungnya.


Ucapan Rara membuat Daffa tertawa, dokter juga manusia wajar jika dokter sakit.


"Perlu kamu ingat kalau aku ini juga seorang manusia yang bisa sakit," sahut Daffa.


Rara segera membawa Daffa masuk ke dalam kamar, dia menyiapkan makan serta obat untuk Daffa.


"Makan dulu mas." Rara datang lagi dengan membawa sepiring makanan.


"Aku tidak bisa makan sendiri, suapin ya," pinta Daffa.


Rara tersenyum, ya begitulah Daffa terkadang memang sangat manja.


"Manja sekali," kata Rara.


"Nggak papa sekali-sekali manja dengan calon istri," sahut Daffa yang membuat Rara terdiam.


Raut wajah Rara seketika berubah, entah mengapa dia tidak nyaman ketika Daffa menyebutnya sebagai calon istri.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Daffa.


"Nggak papa kok mas," jawab Rara.


Rara segera menyuapi Daffa, meski Daffa merasa sakit hati namun dia tetap menghabiskan makanan yang Rara berikan.


"Minum obatnya ya mas." Rara menyodorkan obat untuk Daffa.


Seusai minum obat, Daffa meminta Rara untuk menemaninya.


"Jangan pergi, temani aku please," pinta Daffa.


Rara yang sudah beranjak kembali duduk, dia meletakkan kembali piring kotor di atas nakas kembali.


"Kamu kan harus tidur Mas," kata Rara dengan menatap Daffa.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bersama kamu Ra, salahkah jika aku ingin selalu bersamamu, bersama membesarkan anak kita." Seketika Rara mematung.


Ucapan Daffa bak belati yang menusuk jantung Rara, Dafa sudah tidak bisa menahan lagi keinginannya hanya ingin hidup bersama Rara dan juga Albert.


"Kamu kenapa terdiam?" tanya Daffa.


Rara tersenyum ketir, dia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menutupi tubuh Daffa dengan selimut.


"Kamu harus banyak istirahat mas, biar cepat sembuh, jangan buat aku dan Albert bersedih."


"Please jangan mengalihkan pembicaraan kita," ucap Daffa dengan mata yang membasah.


"Apa maksud kamu mas, aku tidak mengerti," sahut Rara.


Daffa menghela nafas, air matanya kini mengalir menerobos dinding pertahanannya.


"Lima tahun bukan waktu yang singkat Ra, selama itu aku berusaha mendapatkan hati kamu, aku bisa sabar bisa menunggu sampai kamu mau mencintaiku namun kedatangan membuat aku was-was, Aku sangat takut jika dia mengambil kamu dan Albert dari sisiku," ungkap Daffa.


"Aku sangat mencintaimu Ra," imbuh Daffa dengan terisak.


Dadanya sangat sesak membayangkan Rara dan Albert di bawah pergi oleh Sean, bagi Daffa Rara dan Albert adalah hidupnya, jika mereka tidak ada Daffa tidak tahu bagaimana menjalani hidupnya.


Tak hanya Daffa Rara juga mengeluarkan air matanya, dadanya sungguh sesak mengingat kenyataan jika dirinya belum mencintai Daffa.


Hati Rara sudah dikuasai oleh Sean, entah mengapa Rara tidak bisa melupakan Sean sang suami yang tega menyiksanya.


"Aku tidak yakin Ra, bukankah beberapa hari ini kamu dan Sean saling bertemu diluar? bukankah Albert dan Sean juga sudah sangat dekat, bahkan kini Albert jarang berbicara denganku, dia sudah tidak menganggap aku sebagai ayahnya lagi." Daffa semakin terisak.


Rara menangis sambil memeluk Daffa, dia sangat sesak mendengar apa yang Daffa ucapkan.


"Jangan bicara seperti itu mas, bukankah selama ini aku dan Albert adalah istri dan anak kamu? kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu?" tanya Rara.


"Jika kamu menginginkan aku, kita bisa melakukannya Mas," sambung Rara.


Daffa tertawa mendengar ucapan Rara, bukan tubuh yang Daffa inginkan melainkan cinta Rara, percuma memiliki tubuh jika hati dan cinta Rara untuk Sean.


"Nggak perlu seperti itu, aku ingin melakukannya jika cinta kamu sudah beralih untukku," bisik Daffa.


"Nggak mas, kamu boleh melakukannya kapan saja, kita bisa tidur sekamar jika kamu mau," sahut Rara.


Daffa memeluk Rara dengan erat, meski masih sakit namun setidaknya dia lega karena Rara tidak akan meninggalkannya.


"Berjanjilah Ra, kalau kamu tidak akan meninggalkan aku," ucap Daffa.


"Aku janji mas, sampai kapanpun Albert tetap anak kamu, kami akan tetap berada di sisi kamu," bujuk Rara.


Berapa saat kemudian Dafa memejamkan matanya, efek obat yang dia minum membuatnya mengantuk dan tidak tahan membuka matanya lebih lama lagi.

__ADS_1


Melihat Dafa yang memejamkan matanya membuat Rara merasa bersalah, dia tahu kalau apa yang dilakukannya sangat menyakiti Daffa.


Rara pergi ke kamar Albert untuk memberi tahu Albert jika Daddy nya sakit.


"Albert, Daddy sakit," kata Rara mendekati Albert yang membaca buku cerita.


"Daddy sakit apa?" tanya Albert dengan panik.


"Demam, suhu badan Daddy sangat tinggi," jawab Rara.


Meski Albert dekat dengan Sean bukan berarti Albert tidak menyayangi Daffa lagi.


"Albert mau menemani Daddy," kata Albert lalu beranjak.


"Jangan, Daddy istirahat," cegah Rara.


"Nggak apa-apa Albert mau menemani Daddy tidur," sahut Albert lalu pergi ke kamar Daffa.


Melihat Daffa yang memejamkan matanya membuat Albert menangis, berapa hari ini dia memang sibuk dengan Sean sehingga melupakan daddy-nya.


"Daddy bangun, Daddy kenapa sakit pasti karena Albert nakal ya, maafkan Albert Daddy," kata Albert.


Bocah kecil ini ikut berbaring di samping Daffa, dia ingin menemani Daffa tidur, niat awalnya ingin menemani namun Albert malah tertidur sungguhan.


Dua jam telah berlalu, Daffa perlahan membuka matanya. Saat akan beranjak dirinya sungguh kaget karena Albert memeluk dirinya dengan erat.


Air mata Daffa mengalir, dia memeluk Albert balik.


"Daddy menyayangi Albert, Daddy sangat mencintai Albert dan Mommy," ucap Daffa.


Rara yang melihat adegan tersebut pun ikut menangis, dirinya kini sangat dilema, lantas bagaimana dengan Sean?


Perlahan Rara berjalan mendekati Daffa dan Albert, dia duduk di tepi ranjang.


"Mas," panggil Rara.


Daffa mengusap air matanya lalu melepas pelukannya.


"Iya Ra," sahut Daffa.


"Lihat kan, Albert itu sangat menyayangi kamu, saat dia tahu kamu sakit dia segera berlari ke kamar kamu untuk menemani kamu tidur," ungkap Rara.


"Memang Sean adalah ayah biologis Albert namun selama lima tahun ini kamulah ayah sesungguhnya bagi Albert mas," bujuk Rara.


"Apa kamu yakin Ra, jika Sean tidak akan merebut aku dan Albert dari tangan aku?" tanya Daffa.


Lagi-lagi Rara dibuat terdiam oleh pertanyaan Daffa, kalau hal itu dirinya tidak tahu.

__ADS_1


"Aku tidak tau mas,"


__ADS_2