Suami Biadab

Suami Biadab
Albert


__ADS_3

"Albert," teriak seorang wanita pada anaknya yang berusia empat tahun, anak kecil yang super aktif terus berlari menyusuri lorong rumah sakit.


Brak


Suara pintu dibuka dengan keras, anak kecil ini berlalu masuk dan langsung saja naik ke atas pangkuan daddy-nya.


"Daddy, mommy jahat," celoteh anak kecil tersebut.


"Ngadu terus sama Daddy," ucap mama muda itu dengan kesal.


Seorang dokter nampak tersenyum lalu memeluk putranya. Berkali-kali dia menghujani bocah kecil itu dengan banyak kecupan.


"Kan Daddy sudah bilang kalau mommy marah, itu tandanya mommy sayang sama Albert," kata Dokter muda tersebut yang tak lain adalah Daffa.


"Tuh kan, Daddy bela mommy." Mommy muda tersebut menjulurkan lidahnya, dia merasa puas karena Daffa membelanya.


"Kalian tidak sayang padaku," protesnya.


Daffa lalu membawa Albert duduk ke atas pangkuan mommy nya yang lain adalah Rara.


"Mangkanya besok-besok lagi nggak usah melawan mommy, Daddy kamu itu cs nya mommy jadi nggak mungkin bela kamu," bisik Rara.


Albert nampak kesal dan ini membuat Rara semakin gemas dengan anaknya.


Bagi Rara dan Daffa, Albert adalah segalanya, dan mereka sangat menyayanginya.


"Udah kelar kan mas?" tanya Rara.


"Udah," jawab Daffa.


"Ayo kita makan malam, tuh si bocil udah lapar," sahut Rara.


"Ayo,"


Daffa menggendong anaknya, lalu tangan satunya menggandeng tangan Rara, para perawat yang melihat mereka nampak tersenyum sungguh pemandangan yang indah untuk dilihat.


Ta begitulah setiap hari, Albert selalu meminta Rara untuk menjemput Daffa di rumah sakit, dirinya sungguh menyayangi daddy-nya.


"Albert mau makan apa?" tanya Daffa.


"Makan steak Dad," jawab Daffa.


Makanan kesukaan Albert memang steak daging, oleh sebab itu setiap harinya dia selalu meminta Rara dan Daffa untuk makan steak.


"Kamu selalu makan steak, come on makan yang lain dong sayang," ucap Rara.


"Mommy kan tau kalau makanan kesukaan Albert adalah steak jadi Albert nggak suka yang lain," sahut Albert.


"Baiklah, baiklah," sahut Rara pasrah.

__ADS_1


Puas makan dan berkeliling mereka memutuskan untuk pulang, setibanya di rumah Albert langsung menuju kamarnya dia ingin melanjutkan pr nya yang belum selesai.


Meski Albert baru berusia lima tahun namun dia sudah menginjak kelas dua elementary school atau SD, ini semua karena IQ Albert yang diatas rata-rata, di luar negeri sistem pendidikannya berbeda dengan di tanah air, di sana anak yang mampu akan selalu naik kelas meski usianya masih dini.


"Albert langsung belajar?" tanya Daffa.


"Iya mas, dia sangat mencintai bukunya, kita saja kalah," jawab Rara dengan terkekeh.


"Bagus dong, biar dia seperti Albert Einstein," sahut Daffa.


Daffa menamai anaknya memang seperti ilmuwan Albert Einstein, dia berharap kalau Albert akan jenius supaya bisa menjadi kebanggaan orang tuanya.


"Ya sudah aku mau mandi, kamu nggak ikut?" Daffa menggoda Rara.


"Nggak, nggak, tapi akan aku siapkan air hangatnya," sahut Rara lalu segera masuk.


Daffa menyusul Rara ke dalam kamar mandi, lagi-lagi dia menggoda Rara.


"Ayolah sayang kita mandi bersama," bisik Daffa.


"Ih mas Daffa," Rara bergegas keluar.


"Menggemaskan,"


Daffa yang lelah memutuskan untuk mandi setelah itu dia akan mengerjakan laporan di ruang kerjanya.


Saat mengerjakan laporan Daffa mendapatkan telepon dari seseorang, setelah mendapatkan telepon tersebut raut wajah Dafa nampak berubah, siapa yang menghubungi Daffa?


Bukannya terlelap ketakutan Daffa yang selama ini dia pendam keluar begitu saja, dia sungguh tak sanggup kalau apa yang dimilikinya saat ini akan hilang.


"Kenapa sih ada urusan bisnis kesini?" Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri.


Keesokannya seperti biasa, Rara bangun terlebih dahulu, dia segera membuatkan sarapan untuk Daffa dan juga Albert.


"Morning my baby," sapa Daffa.


Rara menoleh dengan tersenyum.


"Sudah bangun mas," balas Rara.


"Sudah dong, kan mau membantu istri aku menyiapkan sarapan," goda Daffa yang membuat Rara menggelengkan kepala.


Ya begitulah Daffa yang selalu menggoda Rara, bagi Daffa tidak ada wanita yang seperti Rara.


"Oh ya mas tolong bangunkan Albert dong," pinta Rara.


Tanpa banyak kata Daffa langsung menuju kamar Albert, saat membuka pintu dia melihat anaknya masih meringkuk di tempat tidur. Daffa membuka tirai kamar Albert namun Albert tidak bergeming sama sekali.


"Hey jagoan sudah pagi ayo bangun," Daffa langsung saja menggendong Albert.

__ADS_1


Albert yang masih mengantuk tentu marah dengan Daffa karena tiba-tiba menggendongnya.


"Ah Daddy kenapa langsung digendong," gerutu bocah berusia lima tahun tersebut.


Daffa hanya tertawa mendapati gerutuan anaknya, dia membawa Albert untuk keluar karena sarapan telah menantinya.


"Mommy, Daddy jahat," teriak bocah kecil ini.


Rara hanya tertawa, ya begitulah Albert setiap kesal dengan Daffa dia selalu mengadu pada Rara jika kesal dengan Rara mengadu pada Daffa dan aduannya sama, dia akan bilang jahat.


"Daddy nggak jahat, Daddy kan cuma bangunin kamu sayang," sahut Rara.


Bocah kecil ini memberengut kesal, lagi-lagi mommy nya tidak berpihak padanya.


"Kalian berdua jahat," tukas Albert.


Rara dan Daffa saling tos dan ini membuat Albert semakin kesal pada kedua orang tuanya. Mereka kemudian memeluk Albert bersamaan.


"We love you," bisik Daffa dan Rara barengan.


Albert tersenyum, dia tau kalau kedua orang tuanya sangat menyayanginya.


Seusai sarapan dan bersiap, Albert menunggu di sekolah di depan, memang setiap hari Albert selalu dijemput di sekolah sehingga Rara tidak usah repot-repot mengantarnya ke sekolah.


***********


"Kamu libur mas?" tanya Rara.


"Iya hari ini aku off," jawab Daffa.


"Kamu mau kemana?" tanya Daffa yang melihat Rara berpakaian rapi.


"Mau belanja keperluan rumah di mall, kamu mau ikut?" tanya Rara.


"Iya, ayo aku antar," jawab Daffa.


Sepanjang perjalanan Daffa nampak was-was seperti ada yang dipikirkannya, hingga dia hampir saja menabrak orang menyeberang.


"Mas hati-hati kamu kenapa? apa yang kamu pikirkan?" Beberapa pertanyaan keluar dari mulut Rara.


"Maaf," sahut Daffa.


Telpon dari seseorang semalam membuat Daffa tak tenang, entah mengapa rasa sedih masuk ke dalam dirinya membuat dia terus memikirkannya.


"Kenapa sih, kami sudah bahagia," batin Daffa lalu melajukan mobilnya kembali.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di mall, Daffa membukakan sabuk pengaman Rara dan juga membukakan pintu mobil.


"Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri mas kamu nggak perlu repot-repot," protes Rara.

__ADS_1


"Sudahlah, diam dan menurut saja ok," tukas Daffa.


Daffa menggandeng tangan Rara lalu mereka masuk ke dalam mall. Memang begitulah Daffa selalu perhatian pada Rara, dia sangat mencintai wanita yang kini hidup dengannya.


__ADS_2