
"Beraninya dirimu dekat dengan pria lain!" Setibanya di kantor langsung saja Sean mendekati Rara dan menarik rambutnya.
Rara merintih kesakitan sambil memegangi tangan Sean supaya tidak menarik lebih keras lagi.
"Apa maksud anda Tuan?" tanya Rara.
"Siapa yang menyuruh kamu berangkat dengan Daffa?" Sean menjawab pertanyaan Rara dengan pertanyaan balik.
"Mas Daffa hanya memberi tumpangan Tuan," jawab Rara.
Mendengar Rara memanggil Daffa dengan sebutan mas membuatnya meradang, dia pun melepaskan tangannya dengan kasar.
"Awas kalau aku lihat kamu dekat dengan pria lain," ancam Sean.
Rara mengangguk dengan air mata yang mengalir, pagi tadi hatinya sudah disiksa dengan melayani kekasihnya dan sekarang fisiknya lagi-lagi disakiti, sampai kapan siksaan ini akan berakhir?
"Ya Tuhan kenapa hati ini masih saja mencintainya padahal dia terus saja menyiksa aku," batin Rara.
Cindy yang ada urusan keluar kota pamit pada Sean, dia juga meminta uang untuk biaya selama dirinya di luar kota.
"Aku yang istrinya tidak pernah diberi uang tapi dia yang hanya kekasih selalu dijatah." Rara bicara dalam hati.
Rara menghapus air matanya lalu dia melanjutkan pekerjaannya kembali, saat asik mengetik laporan David datang untuk memberikan berkas lagi yang harus dikerjakan.
"Ra ini segera selesaikan ya, soalnya siang ini aku butuh berkas ini untuk bertemu klien," kata David.
"Siap pak," sahut Rara.
Baru akan mengerjakan tugasnya, Sean datang ke meja Rara dia menyuruh Rara untuk mengerjakan beberapa berkas.
"Tapi saya harus menyelesaikan berkas pak David Tuan," ucap Rara.
"Hey, disini yang bos itu aku bukan David jadi selesaikan berkas yang aku minta," tukas Sean dengan melepas rambut Rara.
Rara segera mengerjakan berkas Sean dan mengabaikan berkas David yang lebih penting daripada berkas Sean.
Beberapa saat kemudian, David datang untuk meminta berkasnya karena sudah ditunggu oleh Klien dan betapa kesalnya David kalau berkasnya belum dikerjakan sama sekali.
"Kamu gimana sih Ra, kan aku bilang kalau itu berkas penting, aku sudah ditunggu ini," omel David yang bingung.
"Maafkan saya Pak David," kata Rara.
Rara yang merasa bersalah kemudian segera membuka berkas dari David dan mulai mengerjakannya.
__ADS_1
Saat bersamaan klien menelpon dan bilang kalau sudah tiba di lokasi.
"Baik pak saya akan segera kesana," kata David dalam sambungan telponnya.
Dia mengakhiri telponnya lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ada apa David?" tanya Sean yang berjalan menuju tempat David berdiri.
"Ini Rara belum mengerjakan berkas yang saya perintahkan dan klien sudah menunggu," jawab David.
Sean menatap Rara dengan tatapan tak biasa, dia paham dan sadar betul kalau ini semua karena ulahnya namun dia tetep menyalahkan Rara bahkan memarahinya.
"Kamu bisa kerja apa nggak!" Tatapan Sean berubah menjadi tatapan maut yang siap menerjang mangsanya.
Di depannya kini ada dua orang yang sedang marah padanya sehingga hanya membuat Rara menunduk dan berkata maaf.
"Ya sudah pak, saya berangkat dulu urusan berkas belakangan." David memutuskan menemui klien tanpa berkas pentingnya, dia berharap kalau klien mau bekerja sama meskipun tidak ada bahan untuk dipresentasikan.
Selepas kepergian David, Sean menarik rambut Rara kembali, dia marah karena Rara belum menyelesaikan berkasnya padahal klien yang akan ditemui David merupakan klien penting yang akan menanamkan investasi pada perusahannya.
"Awas saja kalau sampai kerja sama ini gagal, kamu rasakan akibatnya," timpal Sean lalu melepaskan tangannya.
Sean berbalik dan hendak keluar namun dia berubah pikiran karena ucapan Rara yang membuatnya kembali lagi.
Sean menatap Rara dengan kesal karena berani menyalahkan dirinya yang memang ini kesalahannya.
Plak
Tangan Sean mendarat di pipi Rara, perih, sakit dan panas Rara rasakan.
"Berani kamu menyalahkan aku!" teriaknya dengan rahang yang mengeras.
"Apa yang saya ucapkan salah? bukankah memang benar apa yang saya ucapkan Tuan," sahut Rara.
Sean yang kesal lagi-lagi menarik rambut Rara dengan kuas, tangan satunya mencengkeram dagu Rara dengan keras sehingga Rara mengeluh kesakitan.
"Hey dengar, disini aku yang berkuasa. Kamu tidak ada hak untuk menyalahkan aku," ucapnya.
Dengan tega Sean sedikit melempar tubuh Rara hingga dia jatuh dan kepalnya membentur meja.
Rara menangis, Sean sungguh keterlaluan siapa yang salah dan siapa yang dimarahi bahkan disiksa.
"Ya Tuhan, aku menyerah," ucapnya.
__ADS_1
Rara bangun lalu mulai mengerjakan kembali pekerjaannya dengan deraian air mata, dia benar-benar lelah dengan semua ini.
Genap satu jam Rara sudah menyelesaikan berkas yang diberikan David lalu dia beranjak pergi ke ruangan David untuk meletakan berkas di meja kerjanya.
Rara berjalan keluar untuk membeli makan, dia yang malas berjalan lebih jauh memilih makan di restoran dekat kantor yang harga makanannya up, biasanya yang kesini hanya petinggi perusahaan yang mager untuk makan siang di tempat yang lebih jauh.
Sean yang kebetulan makan di sana nampak heran karena Rara juga makan di sana, pikiran negatif mulai menyeruak masuk ke dalam otaknya.
Dia segera mendekati Rara yang asik menyantap kudapannya.
"Ngapain kamu disini?" tanya Sean dengan tatapan mautnya.
"Saya makan Tuan," jawab Rara.
"Sudah tau kalau kamu makan, tapi uang darimana kamu bisa membeli makanan ini?" tanya Sean lagi.
Rara menghela nafas kemudian menatap Sean dengan tatapan tak biasa.
"Saya memiliki tabungan Tuan, jadi saya menggunakan sedikit tabungan saya untuk membeli makanan ini," jawab Rara.
"Pasti uang itu dari Seon kan?" Tuduhan Sean seketika membuat Rara menggeleng.
Semua uangnya murni dari hasil trading beberapa waktu lalu bukannya dari meminta-minta.
"Mana ada maling ngaku," sahut Sean.
"Selesaikan makan kamu setelah ini kembali ke kantor," bisik Sean lalu kembali ke tempat duduknya.
Rara tak habis pikir dengan Sean yang selalu mencari alasan untuk menyiksa dirinya.
Rara segera menyelesaikan makannya dan kembali lagi ke kantor, dengan ketakutan dirinya masuk ke dalam ruangan.
"Kemari lah," titah Sean yang sudah duduk di sofa.
"Berapa ratus juta yang telah diberikan Seon agar kamu mau menjadi ja-langnya?" tanya Sean.
Kata-kata Sean kali ini sungguh menusuk hati Rara, dia bahkan tidak kenal dengan Seon saudara kembar Sean.
"Saya tidak mengenal Seon saudara anda Tuan, saya baru menginjakan kaki...." Belum sempat melanjutkan kata-katanya Sean sudah memotong.
"Sudahlah nggak usah beralasan, kamu memang wanita rendah, dasar ******." Kata-kata kasar keluar dari mulut Sean tak hanya mulut yang menyakiti Rara namun tangannya juga menarik rambut Rara dan mendorong tubuhnya sehingga Rara terjatuh di lantai dengan rok yang terbuka.
Melihat paha Rara yang mulus membuat hasrat Sean muncul.
__ADS_1
Dia pun menyeringai melihat sang istri.