
Albert menatap Sean dengan lekat juga, bocah kecil ini sebenarnya kurang begitu paham nama kedua orang tuanya, dia juga tidak bertanya pada Rara maupun Daffa siapa nama mereka.
"I don't know uncle, tapi mommy selalu memanggil Daddy dengan sebutan mas, mungkin nama Daddy adalah mas," jawab Albert dengan polosnya.
Sean tertawa, sungguh Albert sangat menggemaskan sekali.
"Albert, Albert," kata Sean dengan menggelengkan kepala.
Mendengar cerita Albert dia teringat kembali pada Rara, hanya Rara lah satu-satunya wanita yang memanggilnya dengan sebutan mas.
Kenangan akan Rara membuat matanya membasah, Sean sungguh tak sanggup jika ingat Rara, wanita malang yang menjadi sasaran balas dendamnya.
Melihat Sean yang matanya basah membuat Albert bertanya-tanya.
"Paman kenapa?" tanya Albert sambil menyodorkan tisu untuk Sean.
"Paman ingat seseorang, dia seperti mommy kamu yang memanggil Daddy kamu dengan sebutan mas," jawab Sean sambil mengusap matanya dengan tisu.
"Jadi uncle juga pernah hidup dengan wanita," sahut Albert.
Sean mengangguk, tak ingin Albert dicari orang tuanya Sean segera mengantar Albert pulang.
"Ayo pulang," ajak Sean.
"Ayo paman," sahut Albert.
Sepanjang perjalanan mengantar Albert pulang entah mengapa Sean merasakan debaran yang tidak menentu, perasaan aneh tiba-tiba muncul begitu saja.
"Aku kenapa?" batin Sean.
Dia mencoba menetralisir perasan yang aneh dengan bertanya pada Albert.
"Albert ceritakan mengenai orang tua kamu," titah Sean.
Albert nampak berpikir sejenak, dia mengingat-ingat bagaimana kedua orang tuanya.
"Mommy adalah wanita yang sangat cantik, Daddy seorang pria yang sangat tampan, Daddy sangat mencintai mommy, setiap malam sebelum tidur Daddy selalu membacakan dongeng untuk aku, sebenarnya tak hanya Mommy dan Daddy, uncle pun juga sangat menyayangi aku."
Albert bercerita banyak, tak hanya Mommy dan Daddy nya dia juga bercerita tentang David. Mendengar cerita Albert membuat Sean heran, dirinya tidak menyangka jika David sangat mencintai Albert.
__ADS_1
"Apa yang membuat David sangat mencintai anak ini?" Sean bertanya-tanya dalam hati.
Tak berselang lama mobil Sean telah tiba di halaman rumah Albert, Sean membantu Albert untuk turun tiba-tiba ponsel Sean berbunyi hingga dia menjauh sejenak untuk mengangkat panggilan teleponnya.
"Mommy aku diantar paman," teriak Albert saat Rara keluar.
"Paman siapa? David?" tanya Rara sambil memeluk anaknya.
Albert menunjuk ke arah Sean yang menerima telpon, dari kejauhan Rara nampak tidak asing dengan postur tubuh lelaki yang dilihatnya, ingatan-ingatan akan lelaki yang pernah dikenalnya menyeruak masuk membuat matanya berkaca-kaca.
Seusai menerima panggilan telponnya Sean berbalik dan betapa kagetnya dia melihat Rara di depan pintu menatapnya.
Sean menjatuhkan ponselnya, matanya juga berkaca-kaca bak di film-film kini mereka saling tatap dari kejauhan.
Memori mulai dari pertama dia melamar pekerjaan hingga Sean melempar tubuhnya yang membuatnya hampir saja kehilangan anaknya masuk bersamaan ke dalam otak Rara sehingga membuat Rara berteriak histeris, dia segera mengajak Albert masuk dan menutup pintu.
Sean berlari dan meminta Rara untuk membuka pintu rumahnya namun Rara malah masuk ke dalam.
Sean terus berteriak dan memohon namun Rara tidak pernah mau membukakan pintu rumahnya, Sean nampak murka jika Rara masih hidup lantas siapa yang meninggal lima tahun yang lalu?
Sean segera mengambil ponselnya lalu menghubungi orangnya yang ada di tanah air untuk mencari tahu data kematian orang di rumah sakit Internasional pada tanggal saat Rara dinyatakan meninggal.
Tangannya mengepal, tentu dia sangat murka dengan David yang telah membohonginya.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dadanya bergejolak amarahnya meletup-letup bak larva yang siap keluar dari perut bumi.
"Apa maksud kamu membohongi aku David, lima tahun aku hidup dalam rasa penyesalan, ingin memohon ampun pada Rara tapi tidak bisa." Sean bermonolog sendiri sepanjang perjalanan kembali ke kantor.
Setibanya di kantor Sean segera pergi ke ruangan David, kebetulan David juga baru menyelesaikan laporan yang diminta oleh Sean.
Brak
Sean membuka pintu dengan keras, dia tidak peduli pada staf yang ada di sekitar ruangan David.
Sean segera berjalan menghampiri David.
Bug
Sebuah pukulan kuat Sean arahkan ke arah ke pipi David, tentu David yang belum siap menerima pukulan dari Sean langsung tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Brengsek kamu David, sungguh brengsek," umpat Sean yang lagi-lagi melayangkan pukulan ke pipi David satunya.
David yang mulai kesakitan mendorong tubuh Sean, dirinya sungguh bertanya-tanya kenapa Sean tiba-tiba memukulnya.
"Ada masalah apa, kenapa anda tiba-tiba memukul saya," protes David kemudian bangun.
"Ada masalah apa? kamu tanya ada masalah apa?" Sean mengembalikan pertanyaan David.
Dirinya tertawa keras dengan mata yang membasah.
"Lima tahun David aku hidup dalam rasa penyesalan, lima tahun aku tersiksa," kata Sean.
David yang belum tahu kalau Sean telah melihat Rara pun merasa ambigu.
"Apa maksud anda pak?" tanya David yang tidak tau.
"Kenapa kamu membohongi aku hah! kenapa kamu bilang kalau Rara dan anakku sudah meninggal," teriak Sean yang membuat David terdiam.
Kini rahasia yang dia pendam terkuak sudah, akhirnya Sean tahu kalau Rara sebenarnya masih hidup.
David menghela nafas lalu tersenyum, dia kemudian menatap Sean dengan lekat.
"Anda bertanya kenapa saya membohongi anda?" tanya David.
"Setiap saat setiap waktu anda selalu menyiksanya, anda sungguh biadab Tuan, melempar tubuhnya, menyiramnya dengan air es, tidak memberinya makan dan lain-lain." David menjawab pertanyaannya sendiri.
"Aku melakukannya bukan karena sebab, itu semua karena aku mengira dia lah wanita yang menyebabkan Seon meninggal," sahut Sean.
"Berkali-kali saya mengingatkan, saya meminta anda untuk menyelidikinya lagi, bahkan memberikan bukti kalau ternyata dia bukanlah kekasih Seon, tapi anda selalu menolak menerima kenyataan, dendam anda buta sehingga langsung menghakimi Rara hanya karena syal merah itu," tukas David.
Sean terdiam, memang semua adalah kesalahannya, dendam yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan langsung memutuskan kalau Rara adalah pembunuh saudara kembarnya hanya karena sel merah yang dikenakan.
"Apa yang telah saya lakukan hanya untuk melindungi dia dan bayinya, karena jika mereka terus bersama anda mereka akan mati ditangan suami biadab seperti anda Tuan," kata David.
Sean nampak curiga dengan apa yang dilakukan David, kenapa dia ingin sekali melindungi Rara dan menentangnya, padahal ini semua bukan urusannya.
"Kenapa kamu sangat ingin melindunginya David?" tanya Sean.
"Jangan bilang kalau kamu tertarik dengan istri aku," sambungnya.
__ADS_1
David tertawa, memang dia tertarik dengan Rara bahkan dirinya telah jatuh hati pada istri bosnya sendiri.
"Sayang memang mencintainya pak,"