Suami Biadab

Suami Biadab
Ke minimarket


__ADS_3

David memucat mendengar permintaan Sean, tentu aja dia tidak akan mempertemukan Rara dengan Sean.


"Mommy Albert sangat pemalu dia tidak suka bertemu dengan orang asing." David beralasan.


"Tapi kan aku ini bos kamu jadi pasti dia tidak akan mempermasalahkan hal itu," sahut Sean.


David mengangguk sambil tersenyum.


Keeoskannya saat jam makan siang datang, David menjemput Albert di sekolahnya, sebelumnya dia sudah ijin Rara dan juga Daffa untuk menjemput Albert.


"Uncle," teriak Albert.


David melambaikan tangannya lalu berjalan menghampiri Albert.


'Kita makan steak kan uncle." Bocah ini memastikan.


"Yup," sahut David.


David segera membawa Albert ke restoran Steak yang tidak jauh dari sekolah Albert maupun kantornya dan tanpa terduga Sean juga datang ke restoran itu untuk makan steak juga.


"Kalian makan di sini juga?" tanya Sean.


"Iya pak," jawab David.


David tidak menyangka kalau Sean juga makan di restoran yang sama, dia sungguh perang batin sekarang karena secara tidak langsung David mendekatkan Albert dengan Sean.


Mereka bertiga makan di restoran yang sama, sungguh Sean dan Albert memiliki kemiripan tak hanya di wajah tapi sikap juga, cara pegang garpu dan pisau juga sama.


"Hey bocah kamu kenapa niru gaya aku," protes Sean.


Albert hanya melirik Sean, sungguh kesal sekali pada Sean yang menuduhnya meniru gayanya.


"Paman, dari dulu gaya makan aku ya seperti ini, jangan asal nuduh," maki Albert.


"Itu juga, kenapa asparagus nya nggak dimakan malah disingkirkan, sayur itu bagus untuk tubuh," sahut Sean.


Albert mendengus kesal, lalu menatap Sean dengan tatapan mautnya.


"Seperti paman enggak, malah justru asparagus bagus untuk orang dewasa seperti paman," timpal Albert.


David memegangi kepalanya, pusing dengan Sean dan Albert yang bertengkar.


Seusai makan, David pamitan untuk mengantar Albert pulang karena takut Rara akan mengkhawatirkan anaknya.


"Cepat kembali David karena kita ada meeting setelah ini," pesan Sean.


David segera membawa Albert pulang, sesampainya di rumah Rara sudah menunggu mereka di teras.


"Mommy," teriak Albert sambil berlari menuju tempat dimana Rara berdiri.


David mengikuti Albert dari belakang.


"Maaf Ra, kamu pasti menunggu," kata David.

__ADS_1


Albert yang lelah memutuskan untuk pergi ke kamarnya sehingga kini hanya ada Rara dan David di teras.


"Maaf pak David saya selalu merepotkan anda" kata Rara.


"Nggak sama sekali, aku justru malah senang dengan begitu aku bisa dekat dengan Albert, bagiku Albert itu seperti anak kandungku sendiri," sahut Albert.


Rara nampak tersenyum, David dan Daffa sangat perhatian pada dirinya maupun Albert, merekalah yang selama ini melindunginya, dan memberikan segalanya sehingga dia dan Albert tidak pernah kekurangan dalam bentuk apapun.


"Terima kasih Pak David," ucap Rara.


"Lima tahun sudah berlalu aku bukanlah atasan kamu, jadi jangan panggil pak," pinta David dengan terkekeh.


"Ya sudah saya panggil mas ya," kata Rara.


"Nah gitu dong kan terlihat mesra," goda David.


Rara nampak tersipu malu, David bisa-bisanya menggodanya seperti itu.


"Ya sudah aku pamit dulu," pamit David lalu melambaikan tangannya.


Sore datang dengan cepat, kali ini Daffa pulang sendiri tanpa dijemput Rara dan juga Albert.


"Sore my life," sapa Daffa sambil terkekeh.


"Sore mas," balas Rara.


Rara membantu Daffa untuk membawakan tas jinjingnya, dia juga mengambilkan Daffa segelas minuman.


"Lancar semuanya, malah hari ini aku dapat promosi untuk jadi wakil direktur," jawab Daffa dengan raut wajah bahagia.


Rara sangat senang mendengar berita yang disampaikan oleh Daffa, akhrinya cita-cita Daffa untuk menjadi seorang Direktur rumah sakit akan segera terwujud.


"Selamat ya mas." Rara memberikan ucapan selamatnya untuk Daffa.


"Cuma ucapan selamat nih," goda Daffa sambil mencolek perut Rara.


"Ih mas Daffa mulai deh, genit," sahut Rara.


Daffa tersenyum lalu menggenggam tangan Rara, dia menatap wanita yang selama lima tahun ini hidup dengannya.


"Belum pantaskah aku untuk kamu?" tanya Daffa.


Mata Rara berkaca, lalu dia membuang tatapannya, bukan Daffa namun dirinya lah yang belum pantas untuk Daffa, selama lima tahun ini dia hanya menjadi beban bagi Daffa maupun David.


"Sudah mas tapi aku yang belum pantas untuk kamu, ijinkan aku memantaskan diri dulu supaya bisa menjadi pendamping yang pantas untuk kamu," jawab Rara.


"Sampai kapan kamu akan memantaskan diri untuk aku? apa menunggu sampai anak kita besar?" Daffa nampak kurang puas dengan jawaban Rara.


"Kita sudah sejauh ini, aku mohon sudahi rasa sungkan kamu Ra," pinta Daffa.


Rara nampak membasah, Daffa yang tidak suka melihat Rara menangis memutuskan untuk tidak memaksa Rara, toh dirinya kini sudah hidup bersama, kurang apa lagi?


"Sudah jangan menangis maafkan aku," kata Daffa lalu memeluk Rara.

__ADS_1


Saat bersamaan Albert keluar dari kamarnya, dia nampak menggelengkan kepala melihat mommy dan Daddy nya berpelukan.


"Astaga pacaran Mulu," kata Albert.


Albert yang tak ingin mengganggu duduk di kursi sembari melihat kedua orang tuanya yang asik berpelukan.


"Peluk terus sampai ga melihat ada aku disini," teriak Albert.


Seketika, Daffa melepas pelukannya, dia langsung menghampiri anaknya.


"Astaga anak Daddy cemburu," goda Daffa.


"Nggak cemburu cuma kesal saja, Daddy sepertinya lebih menyayangi Mommy daripada Albert," sahut Albert.


Daffa mencubit hidung Albert, baginya Rara dan Albert adalah jiwanya.


"Mommy dan Albert adalah sayangnya Daddy, kalian sama," timpal Albert.


**********


"Mas, aku mau beli spaghetti dulu di minimarket, ga papa kan aku keluar sebentar?" tanya Rara.


"Aku antar ya tapi tunggu sebentar," jawab Daffa.


"Nggak usah mas, aku pergi sendiri saja, sebentar kok," sahut Rara.


Saat akan berangkat Albert berlari mengejar mommy nya karena dia mau ikut.


"Mommy tunggu," teriak Albert.


Rara menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Come on,"


Sepanjang perjalanan Albert menceritakan kalau ada orang yang memiliki gaya makan sepertinya, Albert juga bercerita kalau orang itu tidak suka asparagus sama seperti dirinya.


"Benarkah?" tanya Rara.


"Iya mommy," jawab Albert.


"Aneh, biasanya hanya orang-orang yang mempunyai ikatan yang memiliki kesamaan," ucap Rara.


"Memangnya Albert bertemu dimana?" tanya Rara.


"Albert melihat orang makan di restoran steak mommy," jawab Albert agak berbohong.


Tak selang berapa lama, mobil Rara memasuki parkiran sebuah minimarket, saat hendak masuk ke dalam minimarket tiba-tiba Rara mendapatkan panggilan alam sehingga dia meminta Albert untuk menunggu di mobil.


"Albert tunggu mommy di mobil ya, karena mommy aku ke toilet sebentar," pesan Rara.


Albert menurut, dia pun menungggu Rara di dalam mobil. Beberapa saat kemudian Albert melihat Sean keluar dari mobilnya.


"Uncle" teriak Albert sambil membuka kaca mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2