
"Apa maksud kamu Daffa, dia itu istri aku bagaimana bisa kamu melarang aku untuk menemuinya!" Sean tidak terima.
"Kalau kamu bersikap begini makan jangan salahkan aku jika aku ambil anak dan istriku darimu," sambungnya.
Daffa menghela nafas, semua ini karena semata tidak ingin kehilangan Rara dan juga Albert.
"Baiklah tunggu disini," kata Daffa lalu masuk ke dalam rumahnya.
Daffa segera pergi ke kamar Rara, meski tidak rela namun Daffa tidak ingin melawan Sean, dari segi kekuasaan dirinya jauh di bawah Sean.
"Ra, ada Tuan Sean, dia ingin bertemu dengan kamu," kata Daffa.
Rara menatap Daffa dengan nanar nampak sekali kalau Daffa sangat tidak rela.
"Temua saja Ra, aku juga tidak bisa melarang seorang suami untuk bertemu dengan istrinya," imbuh Daffa lalu menepuk bahu Rara.
Daffa segera pergi ke dalam kamarnya sedangkan Rara berjalan keluar untuk menemui Sean.
"Ada apa mas?" tanya Rara.
Sean membalikan badannya lalu tersenyum menatap Rara, rindunya yang selama beberapa hari dia pendam kini terobati sudah.
"Aku merindukan kamu Ra," kata Sean lalu memeluk Rara.
Rara mencoba menolak namun Sean seakan tidak perduli dia terus memeluk Rara dengan erat.
Dari kejauhan Daffa melihat Rara dan Sean dari kamarnya, hatinya sungguh perih melihat Rara dan Sean saling berpelukan.
"Aku tak sanggup kehilangan kamu tapi aku juga dilema menahan kamu untuk bersama aku," gumam Daffa.
Sean mengajak Rara untuk keluar, dia ingin mengajak Rara untuk bicara empat mata.
"Bicara disini saja mas," pinta Rara.
"Nggak, aku tidak enak dengan Daffa, aku tau dia sangat mencintai kamu," bujuk Sean.
"Sama saja mas, disini maupun diluar sama saja," timpal Rara.
__ADS_1
"Jangan buat aku marah, atau aku akan melakukan menuntut Daffa dan mengambil Albert dari tangan kamu!" ancam Sean.
Mata Rara berkaca, kenapa begitu rumit, baik Daffa maupun Sean seolah menghimpitnya.
Dengan berat hati Rara ikut Sean, dia meminta Daffa untuk menemani Albert di rumah.
"Maafkan aku mas, aku harus keluar," kata Rara dengan mata berkaca.
Meski berat namun Daffa mengangguk dan tersenyum, dia juga tidak bisa mencegah Rara untuk pergi dengan suaminya.
"Pergilah," sahut Daffa lalu dia membalikan badannya.
"Aku janji ga akan lama kok mas," ucap Rara.
*********
"Kamu kenapa mengajak aku ke apartemen?" tanya Rara saat mobil Sean memasuki loby apartemen mewah.
"Bicaranya bisa leluasa kalau di apartemen aku Ra," jawab Sean.
Rara menurut saja, dia berjalan berdampingan dengan Sean, setibanya di apartemen Sean, Rara segera duduk di kursi dengan rasa gugup.
Rara mencoba menenangkan diri kemudian dia meminta Sean untuk bicara.
"Bicaralah mas," titah Rara.
"Aku ingin bertanya, apakah aku sudah tidak ada di hatimu? sehingga beberapa hari ini kamu menghindari aku?" tanya Sean yang membuat Rara mematung menatapnya.
Rara beranjak dari tempat duduknya, dia membelakangi Sean tang duduk berhadapan dengannya.
Sean ikut beranjak kemudian dia memeluk Rara dari belakang sambil mengulang pertanyaannya lagi.
"Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Sean.
Rara mencoba melepas tangan Sean tapi Sean malah memeluknya dengan erat.
"Jangan lari dariku sayang," sambung Sean.
__ADS_1
Darah Rara berdesir saat Sean memeluknya dengan erat, hembusan nafas Sean membuatnya menggelinjing naf-su yang selama ini tidak dia rasakan kini mencuat ke permukaan.
Tak hanya Rara, Sean juga sama, selama lima tahun dirinya telah mati rasa dengan wanita dan kini hasratnya muncul kembali.
Tangannya tergerak masuk ke dalam celana yang Rara kenakan.
"Jangan mas." Rara mencoba mencegah tangan Sean namun semua kalah dengan naf-su yang mulai menggebu.
"Diam, please jangan menolak," bisik Sean dengan menggigit kecil telinga Rara yang membuat Rara semakin ke awan.
Kini tangan Sean berhasil masuk ke dalam celana Rara, dia mulai menggesek tangannya di area sensitif istrinya.
"Mas," Rara mulai mengeluarkan suara gaibnya, tangannya juga mulai menarik rambut Sean.
"Enak kan?" tanya Sean.
Rara hanya mengangguk, Sean semakin berani, dia malah memalsukan jari tangannya ke dalam lubang sengga-ma Rara sehingga membuat Rara dirundung kenikmatan.
"Aaahhh." Desa-han Rara semakin keras mengikuti tangan Sean yang masuk dan keluar area terlarangnya.
Keduanya sudah dikuasai oleh naf-su yang membara, hasrat lima tahun yang terpendam muncul kembali tanpa bisa dicegah.
Tanpa basa basi Sean membawa Rara ke kamarnya, dia ingin melampiaskan hasrat yang selama ini terkubur.
"Mas jangan mas." Rara mencoba menepis naf-su yang sedari tadi membara.
Bukannya berhenti Sean malah menyiram naf-su Rara dengan hal yang diluar dugaan, dia melepas celana Rara, tanpa aba-aba dia malah memainkan milik Rara dengan lidahnya.
"Ouuuhhhh mas," des-ah Rara.
"Apa yang kamu lakukan mas?" tanya Rara dengan menggigit bibir bawahnya.
"Memanjakan kamu sayang," jawab Sean dengan menghentikan aksinya.
"Lihatlah sangat basah sekali," imbuh Sean.
Keduanya saling pandang sangat nampak kalau naf-su telah merasuki keduanya.
__ADS_1
Apa yang terjadi selanjutnya? apa mereka melepas hasrat yang kini telah memburu?
Cus kak komen di kolom komen ya? apa mereka melakukannya atau tidak?