
Beberapa saat kemudian Rara siuman, dia samar-samar melihat Sean yang duduk di sampingnya.
"Mas kamu nungguin aku," gumam Rara yang spontan saja memanggil Sean dengan sebutan mas.
"Pake acara sakit, kamu pikir biaya rumah sakit ini tidak mahal," maki Sean.
"Aku juga tidak menginginkan sakit," sahut Rara dengan lirih.
Sean mencengkeram tangan Rara tepat di tempat infus sehingga Rara mengerang kesakitan, darah segar juga keluar dan ini membuat Rara menangis.
"Sakit," ucap Rara dengan meringis kesakitan.
Sean melepas tangannya lalu mengusap darah Rara yang menempel di tangannya dengan tisu yang ada di atas nakas.
"Bagun lah kita pulang sekarang," ucap Sean.
"Saya tidak sanggup beranjak Tuan," sahut Rara dengan lirih.
Sean menarik tangan Rara lalu mencabut infus yang menempel kuat di tangan Rara.
"Aaaaaa sakit," teriak Rara kesakitan saat Sean menarik infus di tangannya.
"Sudahlah nggak usah banyak drama, cepat bangun lalu kita pulang," sahut Sean.
Dengan susah payah Rara mencoba beranjak lalu perlahan dia menurunkan kakinya namun karena sangat lemah dia jatuh di lantai dengan darah yang mengucur deras dari tangannya.
Rara menangis karena Sean begitu kejam padanya, setidaknya biarlah dirinya istirahat.
"Ambilah pisau lalu tikam saja aku, supaya dendam kamu terbalaskan Tuan daripada anda terus menyiksa saya seperti ini," kata Rara.
"Mati dengan mudah itu tidak setimpal dengan apa yang telah kamu lakukan pada saudara aku," sahut Sean lalu menarik tubuh Rara dan menyeretnya keluar.
Rara hanya bisa menangis, tubuhnya yang benar-benar lemah hanya mengikuti Sean yang menariknya. Dia tidak memiliki tenaga untuk melawan.
Setelah selesai membayar semua biaya Sean membawa Rara pulang ke rumah.
Daffa yang saat itu hendak berangkat kuliah tentu heran karena Rara dibawa pulang oleh Sean padahal Dokter menyarankan Rara untuk dirawat di rumah sakit.
"Astaga istri sakit malah dibawa pulang," batin Daffa dengan menggelengkan kepala. Dirinya tak habis pikir dengan Sean.
Di dalam kamar Sean membanting tubuh Rara di tempat tidur, Rara yang sangat lemah sudah tidak sanggup berkata apa-apa selain pasrah.
Kalaupun harus mati di tangan suaminya saat ini juga dia sudah pasrah.
Sean yang sedikit iba meninggalkan Rara di tempat tidurnya, dia pergi kembali ke kantor namun sebelumnya dia meminta pelayan untuk melayani Rara.
__ADS_1
Lemahnya kondisi tubuhnya membuat Rara perlahan menutup mata dia pingsan lagi dan ini membuat pelayan yang akan memberinya makan jadi panik.
"Apa mungkin pingsan lagi," batin pelayan lalu bergegas keluar.
Daffa yang kebetulan kembali lagi karena ada buku yang tertinggal diminta untuk melihat keadaan Rara.
"Daffa tolong lihat keadaan Nyonya, aku bangunkan tapi tidak bergeming sama sekali," kata pelayan yang diperintah Sean.
"Baik Bik," sahut Daffa lalu pergi ke kamar Sean.
Melihat darah yang sudah mengering di pergelangan tangan Rara membuat Daffa menggelengkan kepala sangat terlihat jelas kalau infus dilepas paksa.
"Dia lemah sekali Bik, tolong bawakan air kelapa kalau tidak ada belikan air kelapa instan di mini market, aku akan mengompres tubuhnya supaya demennya turun," titah Daffa pada teman sesama pelayan ibunya.
"Baik Daffa," sahutnya.
Daffa mengompres tubuh Rara dengan dengan air yang sedikit dingin mengingat suhu tubuh Rara sangat tinggi.
Dia melepas beberapa kancing baju Rara dia juga ingin mengompres ketiak Rara supaya suhu tubuhnya cepat turun.
Saat membuka beberapa kancing baju nampak warna biru-biru mewarnai dada Rara.
"Anda sungguh biadab Tuan," batin Daffa.
Tak berselang lama ibunya datang dengan membawa air kelapa yang Daffa minta, Daffa sengaja memberinya air kelapa agar Rara tidak dehidrasi.
"Daffa nggak kuliah saja Bu lagian di kampus tidak ada mata kuliah tinggal nunggu wisuda saja," sahut Daffa yang lebih memilih menunggui Rara daripada masuk kuliah.
"Baiklah ibu ke dapur dulu," timpal ibu Daffa
Daffa menyuapi sedikit demi sedikit air kelapa ke mulut Rara meski pingsan namun untung dia masih bisa menelan air kelapa yang Daffa berikan.
Beberapa waktu kemudian Rara siuman, Daffa yang melihatnya sangat senang.
"Kamu udah siuman?" tanya Daffa.
"Sudah mas," jawab Rara dengan lirih.
Daffa membantu Rara beranjak lalu memberinya air kelapa supaya tubuhnya berenergi.
"Beri jeda sedikit baru minum obat, ini demam kamu sudah turun, aku akan terus mengompresnya," kata Daffa.
"Terima kasih mas Daffa," sahut Rara.
Rara menatap Daffa dengan lekat, andaikan Daffa adalah Sean pasti dirinya akan sangat bahagia.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, Rara sedikit lebih enakkan meski masih sedikit pusing dan lemah.
"Terima kasih ya mas," ucap Rara.
"Sama-sama ya sudah aku keluar dulu takut kalau suami kamu datang, bisa-bisa aku ikut sakit seperti kamu," sahut Daffa dengan terkekeh.
Rara mengangguk lalu dirinya beranjak dari tempat tidur dan merapikannya dia takut kalau Sean marah karena tidur di tempat tidurnya.
Rara kini merebahkan dirinya di sofa karena kepalanya masih pusing.
Baru sebentar memejamkan mata sebuah tangan sudah menariknya hingga tubuhnya jatuh ke lantai.
"Saya lagi sakit Tuan kenapa anda menarik tubuh saya," kata Rara.
"Udahlah lagian sakit begitu saja kenapa harus lebay," sahut Sean yang seakan tidak memiliki hati nurani.
Rara hanya bisa menghela nafas lalu dia beranjak dari lantai lalu duduk di sofa.
"Di kamar sebelah ada Cindy kekasih aku, kamu siapkan minum dan camilan untuk kami," titah Sean.
Hati Rara sangat sakit, Sean sungguh suami tak berhati. Tak hanya hati fisik yang disakiti namun hati juga.
"Kenapa dibawa pulang? diluar masih banyak hotel kenapa harus di rumah?" protes Rara.
Mendengar ucapan Rara darah Sean seketika naik, tangannya menarik Rambut Rara sehingga kepalanya semakin pusing.
"Dengar ini rumah aku, kamu tidak ada hak melarang aku membawa wanita pulang," kata Sean.
Rara meringis kesakitan, kepalanya yang masih pusing kini bertambah pusing karena tarikan tangan Sean.
"Iya Tuan maaf," sahut Rara agak Sean melepaskan tangannya.
"Cepat siapkan lalu antar ke kamar sebelah," teriak Sean lalu melepas tangannya dengan kasar.
Rara hampir saja terjatuh untung dirinya bisa manahan keseimbangan tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh.
Sean berjalan keluar lalu menutup pintu dengan keras, lalu disusul Rara yang akan menyiapkan minum serta camilan untuk Sean suaminya serta Cindy kekasih Sean.
Perlahan Rara menuruni tangga, kepalanya yang pusing membuatnya berhenti sejenak.
"Tuhan, kuatkan aku," ucapnya lalu melangkahkan kaki kembali.
Sesampainya di dapur, Ibu Daffa melarang Rara untuk melakukan aktifitas mengingat tubuhnya sangat lemah dan wajahnya sangat pucat.
"Tolong Bibi siapkan ya, minuman dan juga camilan untuk Tuan Sean dan kekasihnya," ucap Rara.
__ADS_1
"Astaga, mana ada suami sikapnya seperti ini pada istrinya, macam dunia novel saja," batin ibu Daffa.