Suami Biadab

Suami Biadab
Selamat Tinggal


__ADS_3

"Maafkan aku," ucap Rara lirih sambil menatap Daffa, kemudian bola matanya menatap Sean dan juga David.


"Aku titip Albert," sambungnya.


Ketiga pria dewasa ini sudah mengeluarkan air matanya, Sean mengelus rambut Rara dia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Sayang, lima tahun yang lalu kamu udah ninggalin aku, jadi jangan lakukan itu lagi, aku mohon please," bisik Sean.


"Ra, jangan Ra aku mohon. Kasian Albert," kata David.


"Kita bisa hidup bersama, aku mohon," Daffa ikut menimpali.


Albert menatap mommy nya dengan tatapan takut namun entah mengapa bocah kecil ini tidak menangis seperti Daffa, Sean dan juga David. Dia teringat kembali akan sikapnya beberapa hari ini yang sedikit mengabaikan mommy nya.


Rara nampak cegukan, dia menyebut nama Tuhannya kemudian menutup mata untuk selamanya.


"Daffa kenapa dia menutup mata lagi? kenapa tangannya sangat dingin? dia cuma tidur kan? dia nggak pergi kan?" Sean memberondong banyak pertanyaan kepada Daffa.


Daffa hanya menangis menggenggam tangan Rara yang menjadi dingin.


"Kalian nggak menyembunyikan dia dari aku lagi kan? jangan lakukan itu David, Daffa!" teriak Sean.


Sean hanya mampu menangis apalagi kenangan Rara kembali datang merasuk ke dalam kepalanya.


David hanya memandangi tubuh Rara yang terbujur kaku, selama ini dia hidup dengan senyuman Rara, lantas sekarang Rara telah tiada bagaiamana dia bisa hidup? apa hanya dengan kenangan Rara dia sudah bisa tersenyum?


Air mata David keluar tanpa mau berhenti, dia terus saja menangis karena sangat kehilangan, Daffa juga sama, dia sangat menyesal karena beberapa hari ini mengabaikan Rara.


"Maafkan aku Ra," ucap Daffa.

__ADS_1


"Mommy sudah bertemu dengan Tuhan disana, mommy tersenyum disana kenapa kalian malah menangis, dasar cengeng! tubuh saja yang besar tapi cengeng," kata Albert lalu bocah kecil ini keluar dari ruangan operasi.


Di depan pintu Albert duduk sambil memeluk kakinya, dia menangis dengan terisak, dunianya runtuh karena orang yang paling dia sayang meninggalkannya untuk selamanya.


"Mommy jahat, kenapa meninggalkan Albert, nanti siapa yang membangunkan Albert, nanti siapa yang memarahi Albert, nanti siapa yang memasak untuk Albert, bagaimana Albert bisa menjalani hari-hari Albert." Air mata Albert terus jatuh.


Sean keluar untuk menyusul anaknya, betapa hancur hatinya saat melihat Albert memeluk kakinya dengan terisak di depan ruang operasi.


"Albert," panggil Sean.


"Mommy jahat uncle," sahut Albert.


Sean menggendong anaknya dengan terisak pula, dia merasa jika Tuhan sangat tidak adil dengannya, tak lama bertemu dan ingin bersama kini malah Tuhan mengambil istrinya.


"Mommy tidak jahat, dia sangat sayang sama Albert," bujuk Sean.


Tubuh Rara akan dibawa pulang oleh Daffa karena karena Rara harus segera dimakamkan.


"Iya," sahut Daffa.


Daffa meminta David dan Sean untuk di depan dulu karena dia akan mengambil sesuatu di ruangannya.


Saat hendak keluar, Daffa melihat makanan yang tadi dibawakan oleh Rara, air matanya keluar kembali.


"Maafkan aku Ra, aku tau kamu tadi pasti pergi dari sini senang hati yang sakit. Andaikan aku tau tadi adalah pertemuan kita yang terakhir aku tidak akan membuat kamu sakit hati," kata Daffa dengan terisak.


"Tuhan telah mengabulkan doaku, kini aku tidak akan bisa melihat kamu lagi, tenanglah disana, aku janji akan menjaga Albert, anak kita." Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri.


Daffa membuka makanan yang dibawakan oleh Rara, dia memakan makanan terakhir Rara dengan terisak, dengan pelan Daffa menikmati makanan buatan Rara yang mungkin tidak akan dia rasakan lagi selamanya.

__ADS_1


"Kamu jahat Ra." Daffa tak kuasa menahan kesedihannya.


Dengan menyembunyikan kepalnya Daffa menangis sambil mengunyah makanan dari Rara.


Daffa menyisakan satu kotok makanan untuk nanti, dia masih ingin merasakan makanan Rara sehingga dia menyisakan satu dan memakannya nanti bersama Albert.


**********


Sebelum dimakamkan Albert memeluk mommy nya untuk terakhir kalinya, dia mengecup mommy nya yang menutup mata untuk selamanya.


"Mommy tenang ya disana, Albert janji akan jadi anak kebanggaan mommy," bisik Albert.


Setelah itu Albert langsung memeluk Daffa.


"Setelah ini mommy udah nggak ada, lalu Albert sama siapa?" tanya Albert.


Sontak ketiga pria ini menangis, bagaiamana Albert memiliki pemikiran seperti itu, jelas masih ada mereka.


"Masih ada Daddy sayang," jawab Daffa.


"Masih ada uncle Albert," sahut David.


"Masih ada kami," sambung Sean.


Tak ingin menunda waktu lagi, mereka semua pergi ke pemakaman untuk mengebumikan Rara.


"Inilah saat terakhirku melihat kamu Ra, semoga tenang kamu disana," batin David.


"Di bawah batu nisan kini telah sandarkan kasih yang kamu yang begitu dalam untukku, selamat tinggal Rara sayang," batin Daffa.

__ADS_1


"Takdir memisahkan kita untuk kedua kalinya, padahal belum sempat kita rasakan bahagia. Tunggu aku di sana," batin Sean.


__ADS_2