
Di rumahnya Rara dan Daffa sangat khawatir karena David tak kunjung membawa Albert pulang, kekhawatiran Rara tidak seperti daffa karena Daffa tahu kalau Sean akan datang ke Inggris hari ini seperti yang dikatakan David.
Tak berselang lama mobil David memasuki halaman rumah Rara dan Daffa.
"Itu mereka pulang mas," kata Rara lalu beranjak dari tempat duduknya.
Rara dan Rafa menuju teras rumah tampak Albert sudah berlari ke arah mereka.
"Lama sekali?" tanya Rara dengan mencium anaknya.
"Iya tadi aku dan uncle David makan lalu jalan-jalan mommy," jawab Albert.
Daffa nampak curiga dengan David pasalnya wajah David seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ya sudah aku pamit dulu, karena ada kerjaan yang harus aku kerjakan," pamit David.
"Uncle besok makan steak lagi ya," teriak Albert.
David menaikkan ibu jarinya, karena memang rencananya David akan mengajak Albert untuk makan siang bersama besok lusa.
Rara dan Daffa membawa Albert masuk mereka menanyai Albert kemana saja seharian ini bersama David.
"Makan Steak lalu Albert diajak uncle jalan-jalan," jawab bocah kecil ini.
Sebenarnya di dalam mobil David mewanti-wanti Albert untuk tidak mengatakan pertemuannya dengan Sean kepada mommy dan Daddy-nya, karena jika Albert mengatakannya David tidak bisa mengajak Albert jalan-jalan lagi.
Tentu bocah kecil ini menurut pada David dan berjanji tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya.
Di sisi lain, Sean nampak memikirkan Albert, dia masih heran kenapa wajah Albert sangat mirip dengannya.
"Kenapa wajah bocah itu sangat mirip denganku," batin Sean.
Sean mengingat kembali, apakah dia pernah meninggalkan benihnya di negara Inggris?
"Perasan nggak pernah, karena aku tidak suka bule." Sean bermonolog dengan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Sean datang lebih pagi karena hari ini adalah peresmian kantor baru jadi dia harus memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.
Saat melintasi sebuah sekolah dasar, saya nampak melihat Albert yang turun dari bis sekolah, matanya tidak bisa lepas dari Albert.
"Anak sekecil ini kenapa sudah masuk SD?" Sean heran karena Albert telah masuk SD di usianya yang sangat muda.
Saat menatap Albert dari kejauhan, Albert nampak menoleh dan melambaikan tangan kepada temannya, senyum Albert sungguh persis dengan Rara, seketika mata Sean membasah lagi-lagi Rara merasuk ke dalam pikirannya.
__ADS_1
"Senyumannya persis sekali dengan Rara," batin Sean.
Karena kemiripan wajahnya dengan wajah Albert serta senyum Albert yang sangat mirip dengan Rara membuat penasaran siapa adik yang dimaksud oleh David, karena setahu Sean David tidak memiliki adik.
"Apa jangan-jangan dia adalah istri David?"
Otak Sean berpikir keras, kalaupun Albert anak David, seharusnya wajah Albert lebih mirip ke David bukannya mirip dirinya.
Arrrrgggg
Sean mengusap rambutnya dengan kasar, semesta seakan mempermainkannya.
Lima tahun telah berlalu, namun Sean masih belum melupakan Rara, malah semakin hari cintanya untuk Rara semakin kuat meski dia hanya hidup dengan kenangan Rara.
Puas memikirkan Albert, Sean memutuskan untuk melajukan mobilnya kembali, sesampainya di kantor Sean menyiapkan segala sesuatunya.
Untuk mengenang Rara, Sean menggunakan inisial nama Rara dan menggabungkan dengan inisial namanya.
S.R grup ya itulah nama perusahaan Sean yang ada di Inggris.
Acara peresmian kantor barunya telah dimulai, banyak sekali partner bisnisnya yang hadir untuk memberikan selamat pada Sean, setelah menunggu beberapa tahun akhirnya Sean membuka cabang di negara Inggris yang tepatnya berada di kota London.
Setelah acara, Sean dan David disibukan dengan beberapa meeting, banyak sekali yang akan bekerja sama dengan Sean.
"David," panggilan Sean.
"Iya pak," sahut David.
"Tadi pagi aku melihat keponakan kamu turun dari bis sekolah sebuah sekolah dasar, aku sungguh heran kenapa anak sekecil itu sudah masuk sekolah SD?" tanya Sean.
David nampak tersenyum, memang itulah keistimewaan Albert, di usia lima tahun ia memiliki IQ di atas rata-rata
"IQ Albert di atas rata-rata pak, jadi pihak sekolah langsung memasukkan Albert di sekolah dasar," jawab David.
"Wow hebat sekali anak itu," puji Sean.
"Sebenarnya siapa ibu dari anak itu?" tanya Sean lagi.
David nampak memucat, tentu dia tidak akan memberitahukan siapa ibu dari Albert. Biarlah semua seperti ini, biarlah Sean menganggap kalau Rara telah meninggal lima tahun yang lalu.
"Ibu Albert adalah wanita yang biasa, dia sangat pandai namun dia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga dia hanya mengenyam pendidikan diploma 1," jawab David.
Seketika Sean teringat akan Rara, bukankah Rara juga hanya bisa mengenyam pendidikan sampai diploma 1?
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan ayah anak itu?" tanya Sean lagi.
"Pak satu pertanyaan lagi gratis sebuah piring cantik," goda David yang membuat Sean melemparkan tatapan mautnya ke David.
"Bercanda pak," ucap David dengan terkekeh.
"Cepat ceritakan," titah Sean.
David teringat kembali suara jeritan Rara yang kesakitan saat itu, air matanya jatuh mengingat semua yang terjadi pada Rara.
"Kamu kenapa malah menjatuhkan air mata?" tanya Sean.
"Ibu Albert wanita yang sangat tegar, cinta yang besar pada sang suami membuatnya rela tersiksa," jawab David.
Sean semakin penasaran akan cerita David, karena cerita David sangat mirip dengan ceritanya dengan Rara.
"Tunggu, tunggu, kamu tidak menceritakan kisahku kan?" Ucap Sean dengan penuh penekanan.
"Tidak, bukankah kisah anda telah usia lima tahun yang lalu?" sahut David.
"Memang sedikit mirip pak, tapi jangan GR yang saya ceritakan orang lain bukan anda," timpal David.
Sean meminta David untuk melanjutkan ceritanya.
"Suami Rara adalah seorang yang cerdas, dia sangat jenius sehingga memiliki perusahaan di mana-mana, mungkin gen terbaiknya menurun pada Albert namun sayang dia sudah mati." David sedikit membelokan ceritanya.
"Lalu?" tanya Sean lagi.
David bertepuk tangan, akhrinya Sean dapat piring cantik.
Bug
Sebuah bantal sofa mendarat sempurna di wajah David karena David malah bercanda saat dia serius ingin mendengar cerita tentang orang tua Albert.
David mengangkat jari telunjuk dan ibu jarinya yang artinya damai atau kita bisa mengartikan maaf.
"Kini Ibu Albert hidup dengan seorang dokter di kota ini, mereka berdua sangat menyayangi Albert, dan sampai sekarang Albert menganggap dokter itu adalah ayahnya," jawab David.
Sean nampak berfikir, dia turut kesal mendengar cerita David.
"Seharusnya kalian memberitahu Albert kalau ayahnya telah meninggal, bagaimanapun juga anak kecil itu harus tahu kalau dokter itu bukanlah ayah kandungnya," sahut Sean.
David tersenyum, memang begitulah skenario mereka yang tidak ingin memberitahu Albert kalau Sean adalah ayahnya.
__ADS_1
"Bisa aku bertemu dengan mommy Albert?"