
Tepat pukul dua belas malam Sean masuk kamar, kebetulan juga Rara baru keluar dari kamar mandi.
"Anda baru pulang Tuan?" tanya Rara.
Rara bergegas mendekati Sean yang duduk di sofa, dirinya membantu Sean untuk melepas sepatu dan kaos kaki setelahnya di membantu Sean untuk melepas dasi namun dengan segera Sean menepis tangan Rara.
"Aku bisa sendiri," ucapnya.
Rara tersenyum dan tanpa sengaja dirinya melihat tanda cinta di leher Sean yang mungkin Sean tadi telah tidur dengan wanita lain.
Hati Rara seakan teriris, belum genap satu bulan pernikahannya namun Sean sudah berhubungan badan dengan wanita lain.
"Saya tidur dulu Tuan," kata Rara lalu dirinya berjalan keluar kamar dirinya memang sengaja ingin tidur diluar daripada tidur satu kamar dengan Sean.
"Hey siapa yang menyuruh kamu keluar." Sean tidak mengijinkan Rara untuk keluar.
Sontak Renata berhenti, tak terasa air matanya keluar namun dengan segera dirinya mengusap air mata yang jatuh.
"Iya Tuan saya tidur di sini," sahutnya lalu berjalan langsung meringkuk tidur di lantai seperti biasanya.
Rara menangis bahkan kini dirinya mulai terisak.
"Ku kira mencintai kamu adalah hal terindah dalam hidupku mas namun aku salah, mencintai kamu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidupku, setiap hari kamu siksa lahir dan batinku," batinnya.
Melihat Rara yang meringkuk membuat Sean merasa kasian namun dengan segera rasa dendam yang menyelimuti hatinya segera menepis rasa kasihan itu.
"Untuk apa kasian dengannya, bukankah Seon kini juga meringkuk dalam tanah sekarang," batinnya lalu dia tidur.
Beberapa jam tidur membuat Rara menggigil hebat, dia merasa kalau tubuhnya tidak baik-baik saja.
"Pusing sekali kepala aku," gumam Rara.
Dirinya yang merasa kedinginan mencoba pindah ke sofa dan mengambil selimut Sean.
"Sedikit lebih baik," gumam Rara lalu mencoba memejamkan mata kembali.
Byur
Sean mengguyur Rara dengan segelas air sehingga membuat Rara segera bangun.
"Kenapa disiram Tuan?" tanya Rara.
Sean yang marah menarik rambut Rara dengan kuat sehingga kepala Rara yang masih pusing semakin bertambah pusing.
"Siapa yang menyuruh kamu pindah ke sofa dan siapa yang menyuruh kamu memakai selimutku," tanya Sean dengan tatapan tajamnya.
"Maafkan saya Tuan, semalam tubuh saya kedinginan dan kepala saya pusing," jawab Rara.
"Alasan," sahut Sean.
Namun saat tangan Rara mencoba memegangnya memang terasa panas sekali yang artinya Rara benar-benar sakit.
__ADS_1
"Sekarang turunlah masakan aku makanan lalu bersihkan kamar ini dan kamar mandi," titah Sean.
"Tuan tubuh saya benar-benar drop bisakah saya libur untuk hari ini?" tanya Rara.
"Nggak!" jawab Sean.
Rara menatap Sean sekilas, sungguh manusia tidak punya hati, jika orang lain mungkin sedikit wajar tapi iblis di depannya adalah suaminya sendiri.
"Baiklah Tuan," sahut Rara.
Dengan pusing yang dideritanya, Rara mencoba untuk berjalan keluar meski harus menahan sakit.
Setibanya di dapur Rara malah pingsan, Daffa yang saat itu hendak mengambil minum segera menolong Rara.
"Nona, anda kenapa?" Daffa menepuk dengan pelan pipi Rara.
Semua pelayan nampak panik lalu mereka meminta Daffa untuk membawa Rara ke sofa.
Daffa mengoles minyak angin ke pelipis Rara dan di dekatkan ke hidung namun Rara tak kunjung bangun.
"Tubuhnya sangat lemah, kelihatannya Nona Rara harus dibawa ke rumah sakit," kata Daffa.
Sedikit banyak Daffa bisa memeriksa pasien secara dirinya kini semester akhir yang sebentar lagi akan segera lulus.
"Bagaimana ini Daffa?" tanya Ibunya.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit Bu, kalau tidak bisa semakin parah sakitnya," jawab Daffa.
"Sebentar ibu laporan dulu dengan Tuan Sean," sahut Ibu Daffa lalu segera berlari ke atas.
Tok
Tok
"Ada apa?" tanya Sean.
"Nona Rara pingsan Tuan," jawab Ibu Daffa.
"Lalu?" tanya Sean lagi.
"Kata Daffa harus segera dibawa ke rumah sakit Tuan," jawab Ibu Daffa.
"Menyusahkan saja, ya sudah suruh anak kamu untuk membawanya ke rumah sakit," ucap Sean.
Setelah kepergian ibu Daffa, Sean masuk ke kamarnya kembali, di hatinya mulai ada rasa khawatir untuk Rara meski terus saja rasa dendam dalam hatinya membakar rasa panik tersebut.
Daffa segera menggendong Rara ke dalam mobil lalu dia membawa Rara menuju rumah sakit terdekat.
Daffa langsung saja membawa Rara ke ruang UGD dan Dokter yang ada disana segera memeriksa Rara.
"Tubuhnya sangat lemah, bisa dibilang pasien mengalami kurang asupan, ini yang menyebabkan tubuhnya drop," kata Dokter.
__ADS_1
"Apa harus dirawat inap dok?" tanya Daffa.
"Harus karena saat ini pasien memerlukan cairan infus mengingat tubuhnya sangat lemah ditambah demam yang dideritanya," jawab Dokter.
Daffa menatap Rara dengan iba, Sean sungguh keterlaluan bagaiamana bisa istri sendiri malah kekurangan gizi sedangkan dirinya dan pelayan yang lain makmur bekerja di rumah Sean.
"Kasian kamu Ra, dinikahi hanya untuk disiksa," batin Daffa.
Daffa kini serba bingung memilih kamar inap untuk Rara, seorang istri CEO perusahaan besar tentunya kamar VVIP menjadi pilihan namun melihat Rara yang kekurangan asupan gizi apa mungkin Sean mau membiayai semua di kelas VVIP?
"Pasien dipindahkan ke kamar kelas berapa?" tanya Suster.
Daffa nampak berpikir lalu dia memutuskan untuk memesan kelas VIP, urusan Sean mau membiayai itu urusan belakangan.
"Kelas VIP sus," jawab Daffa.
Suster lalu memindahkan Rara ke kamar VIP sedangkan Daffa terus menemani Rara.
Daffa duduk di samping Rara, dia melihat leher dan bagian dadanya yang sedikit terbuka nampak tanda cinta yang berwarna biru dan ini membuat Daffa iba pada Rara.
"Pasti kamu kesakitan diperlakukan seperti itu," batin Daffa.
********
Disisi lain Sean yang tiba di kantornya nampak melihat meja Rara, pikirannya entah mengapa tertuju pada Rara.
Aaarrrgggg
Sean mengusap rambutnya dengan kasar, apa mungkin dalam hati Sean sudah timbul rasa untuk Rara? atau ini karena dia tidak bisa menyiksa Rara saat ini?
Tak ingin terus dihantui rasa yang membuatnya tak nyaman Sean memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang sebelumnya dia telah mendapatkan informasi dari pelayannya.
Tak berselang lama Sean tiba di rumah sakit, dirinya segera menuju kamar inap Rara yang di dalamnya ada Daffa yang setia menunggui Rara yang masih memejamkan mata.
"Siapa yang menyuruh kamu merawatnya di ruang VIP?" tanya Sean dengan dingin.
"Karena dia istri anda Tuan," jawab Daffa.
"Mana mungkin seorang istri orang besar seperti anda saya letakkan di kelas tiga bersama orang-orang kelas bawah seperti saya," sambung Daffa.
Sean menatap Rara sekilas lalu bertanya pada Daffa kenapa Rara sakit.
"Nona Rara kekurangan asupan makanan sehingga tubuhnya lemah," jawab Daffa.
"Saya heran dengan anda Tuan, anda memperlakukan pekerja begitu baik, makanan tidak kurang fasilitas yang baik namun kenapa istri anda sendiri sampai kekurangan asupan makanan?" sambung Daffa.
Sean menatap Daffa dengan tajam, dirinya sungguh kesal sekali karena Daffa telah menyinggung dirinya.
"Ini urusan aku Daffa kamu nggak berhak tau, lebih baik kamu pulang, lagipula kenapa kamu malah menunggu dia disini bukannya kamu kuliah?" sahut Sean penuh penekanan.
"Maaf Tuan, ya sudah saya pamit," timpal Daffa.
__ADS_1
Selepas kepulangan Daffa Sean menatap istrinya lagi, rasa iba dan dendam bercampur menjadi satu.
"Jangan lemah Sean, dia yang telah membunuh saudara kamu," batin Sean.