Suami Biadab

Suami Biadab
Semakin Curiga


__ADS_3

Sean dan David menoleh, Sean nampak senang bertemu dengan Albert namun berbeda dengan David yang nampak memucat, dia takut kalau Sean bertemu dengan Daffa maupun Rara.


"Pak, lebih baik kita segera kembali, kelihatannya minuman yang kita cari nggak ada di sini, saya tau tempat yang menjual banyak minuman untuk kita," kata David mencoba membujuk Sean supaya segera pergi.


"Tapi bagaimana dengan Albert David," sahut Sean.


"Albert bersama orang tuanya," timpal David.


David terus membujuk Sean hingga akhirnya Sean pergi dari minimarket dan beberapa detik kemudian Rara keluar.


"Mommy lama sekali, tadi ada uncle," kata Albert.


"Benarkah, uncle dimana?" tanya Rara.


"Sudah pergi," jawab Albert.


Di dalam mobilnya David berkali-kali mengelus dada, dia sangat bersyukur karena Sean mau diajak pergi, dia sungguh tidak bisa membayangkan kalau Rara dan Sean bertemu.


"Kamu kenapa?" tanya Sean yang heran melihat David mengelus dadanya berkali-kali.


David hanya terkekeh tanpa menjawab pertanyaan Sean.


***********


Tak terasa waktu telah berlalu, entah mengapa Sean nampak betah tinggal di Inggris padahal biasanya dia sangat enggan mengurusi bisnisnya yang berada di luar negeri.


"Pak, perusahaan kita sudah berjalan, kapan kita kembali ke tanah air?" tanya David.


Semakin lama Sean di Inggris semakin besar kesempatan Sean untuk bertemu Rara maupun Daffa, tentu hal ini mengancam David juga.


"Entah mengapa aku sangat malas kembali ke tanah air, aku sangat tenang dan bahagia di sini," jawab Sean.


David nampak memucat, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya jika Sean memutuskan menetap di sini, apalagi dia sudah sangat dekat dengan Albert.


"Kalau anda tetap di sini bagaimana dengan perusahaan kita di tanah air pak?" tanya David.


"Cari orang untuk mengurusi perusahaan kita di sana, karena aku juga membutuhkan kamu di sini," jawab Sean.


David tak tahu harus bagaimana lagi, dia hanya berharap semoga Sean dan Rara tidak pernah bertemu, tapi apa itu mungkin?


"Baiklah," ucap David dengan pasrah.


Keesokan harinya saat akan berangkat ke kantor, Sean melihat Albert yang nampak duduk di depan sekolahnya, sangat terlihat kalau anak kecil ini tengah bersedih.


Sean segera memarkirkan mobilnya lalu menghampiri Albert.


"Hey bocah, kamu kenapa?" tanya Sean.

__ADS_1


Albert menoleh lalu tersenyum saat melihat Sean.


"Paman!" teriak Albert.


Albert memeluk Sean dengan erat, meski baru kenal namun Albert merasa sangat nyaman dalam dekapan Sean.


"Kamu nggak sekolah?" tanya Sean.


Albert melerai pelukannya kemudian menggeleng.


"Kenapa?" tanya Sean.


"Males paman," jawab Albert dengan raut wajah yang lesu.


"Kenapa?" tanya Sean lagi.


"Albert di-bully sama teman-teman katanya Albert terlalu kecil untuk sekolah disini," jawab Albert.


Sean nampak tersenyum, kemudian dia mengelus rambut Albert dengan lembut. Sean memberikan pengertian pada Albert kalau tidak usah mendengarkan ucapan teman-temannya.


"Ya sudah, ayo ikut Paman ke kantor." Sean mengajak Albert ke kantornya.


Dengan antusias bocah kecil ini ikut Sean ke kantornya, setibanya di kantor Sean Albert senang sekali, dia tak menyangka Sean memiliki kantor semegah ini.


"Selamat pagi pak, ini anaknya?" tanya para staf.


"Tapi wajahnya sangat mirip sekali pak," sahut salah satu staf.


Tak hanya para staf dia juga merasa kalau Albert sangat mirip dengan dirinya, tak hanya wajahnya saja bahkan cara makan, makanan kesukaan juga sama.


Sean meminta Albert untuk duduk karena dirinya harus bekerja mengingat David yang harus mencari orang untuk mengurusi perusahaan di tanah air.


"Paman, boring sekali bisakah aku meminjam ponsel atau laptopnya?" tanya Albert.


"Ini pakai saja laptop paman," jawab Sean lalu beranjak dari tempat duduknya mengantarkan laptop untuk Albert.


Albert nampak mengotak Atik laptop Sean, dia yang ingin menjadi peretas hebat mencoba membuka sistem yang terhubung ke dalam perangkat Sean namun Albert belum memiliki kemampuan lebih sehingga dia gagal.


"Ah gagal," batin Albert.


Kini Albert memutuskan bermain game hingga dia ketiduran di sofa.


Melihat Albert yang tidur membuat Sean mendekatinya, entah mengapa Sean tergerak untuk mencium bocah kecil itu.


"Aku tidak tau siapa kedua orang tua kamu, namun aku merasa kalau kamu adalah cerminan diri aku," gumam Sean.


Ingatan akan Rara waktu itu kembali masuk, dia sungguh menyesal karena salah orang membuat Rara dan anaknya harus pergi dari dunia ini.

__ADS_1


"Aku merindukan kamu Ra," ucap Sean dengan air mata yang jatuh.


Wajah Rara masih tersimpan di hatinya hingga tidak ada niatan untuk mencari pengganti Rara, bagi Sean Rara adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat hatinya bergetar namun sayang dendam yang membara di hatinya membuat Sean membenci Rara dan tega menyiksanya.


Jam makan siang telah tiba bertepatan dengan jam pulang Albert, takut dimarahi oleh Rara, Albert meminta Sean untuk membantunya.


"Apa?" tanya Sean.


"Antar Albert pulang paman," jawab Albert.


Sean langsung menyetujui keinginan Albert karena dia juga ingin bertemu dengan mommy Albert, dirinya penasaran bagaimana bisa Albert sangat mirip dengannya.


"Ayo paman antar pulang tapi kita cari makan dulu ya," kata Sean.


"Kali ini kita absen makan steak, karena Paman akan mengajak kamu untuk makan makanan Indonesia," sambungnya.


"Memangnya di sini ada makanan Indonesia?" tanya Albert.


"Ada, kamu tidak pernah makan makanan indonesia?" tanya Sean balik.


Bocah kecil itu menggeleng, sedari kecil dia tidak pernah memakan makanan Indonesia.


Memang Rara sengaja tidak memperkenalkan Indonesia pada Albert.


"Kamu tidak pernah pulang ke Indonesia?" tanya Sean lagi.


"Mommy dan Daddy kan orang sini ngapain saya harus pulang ke Indonesia?" tanya Albert.


Melihat wajah Albert jelas kalau Albert adalah keturunan Indo, tapi mengapa orang tua Albert tidak menceritakan Indonesia pada Albert?


Semenjak pak Dhe dan Budhe Rara meninggal, Rara memutuskan tidak ingin kembali lagi ke tanah air dia memilih untuk hidup dan menetap di Inggris.


Dia sungguh kecewa dengan Rea dan yang telah terjadi padanya selama ini. Pak Dhe dan Budhe Rara meninggal karena sakit, mereka berdua memikirkan Rea yang menjadi gila karena frustasi.


Karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan Rea dan kekasihnya memutuskan untuk membuat usaha sendiri namun dalam sekejap semua


Karena frustasi Rea menjadi gila apalagi calon suaminya memutuskan bunuh diri.


Melihat anak semata wayangnya gila membuat pakse dan Bude Rara mikir hingga akhirnya mereka sakit dan menghembuskan nafas terakhir.


Sean memesan makanan khas indo yang ada di sebuah restoran khusus tanah air, entah mengapa Albert yang belum pernah memakan makanan ini langsung suka tentu hal ini membuat Sean curiga.


"Kenapa mirip sekali dengan ku," batin Sean.


Tak hanya steak tapi makanan khas indo juga sama, tentu ini bukanlah sebuah kebetulan apalagi Albert juga tidak menyukai apa yang Sean tidak suka.


"Siapa sebenarnya anak ini?" Sean bermonolog dengan dirinya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2