
Keesokannya Sean meminta David untuk membuat jadwal bertemu dengan kedua orang tua Albert, tentu hal ini membuat David cemas.
Dia memikirkan cara bagaimana supaya Sean tidak tahu kalau orang tua Albert adalah Daffa dan Rara.
Selepas dari kantor David pergi ke rumah Daffa untuk membahas keinginan Sean untuk bertemu orang tua Albert.
"Banyak hal yang akan terjadi jika Sean dan Rara bertemu," kata Dafa yang tidak setuju.
"Kamu benar, lalu bagaimana? dia sangat ingin bertemu dengan orang tua Albert," sahut David.
"Kita berbohong saja," timpal Daffa.
David menatap Dafa dengan tatapan yang tak biasa dia merasa ambigu akan ucapan Daffa.
"Apa maksud kamu Daffa," tanya David.
"Kita sewa orang untuk menjadi orang tua pura-pura Albert, dengan begitu Sean tidak akan bertanya lagi siapa orang tua Albert yang sebenarnya," jawab Daffa.
Awalnya David meragukan saran dari Daffa namun dia juga tidak memiliki pilihan kelihatannya hanya itu pilihan mereka.
"Baiklah Daffa besok aku akan mencari orang untuk menjadi orang tua Albert," kata David.
David dan Daffa nampak tersenyum lega meskipun mereka masih was-was.
Tak berselang lama Rara masuk ke dalam ruangan kerja Daffa.
"Loh mas David kapan datang?" tanya Rara.
"Sudah dari tadi," jawab David
"Kebetulan, ayo makan malam bersama," sahut Rara.
Daffa yang harus kembali ke rumah sakit tidak sempat untuk makan malam karena 30 menit lagi dia ada jadwal operasi di rumah sakit.
"Maafkan aku tapi aku harus segera ke rumah sakit kalian makan malam sendiri," kata Daffa.
"Kok gitu Mas kenapa nggak makan dulu baru berangkat," sahut Rara.
"Darurat sayang, aku harus segera berangkat," timpal Daffa.
David yang mendengar dapat memanggil Rara dengan sebutan sayang pun nampak geli.
Sayang sayang woi ingat," tukas David.
Daffa masa bodoh dengan ucapan David, dia tahu dan sadar kalau Rara masih istri saya tapi selama ini dialah yang menjaga Rara, satu kota pun juga tahu kalau Rara adalah istrinya.
"Bodo amat," timpal Daffa.
__ADS_1
Selepas kepergian Daffa, David membantu Rara menyiapkan makan malam, sebenarnya Rara sudah menolak David untuk membantunya namun David tetap bersikeras dia tahu kalau Rara baru saja sembuh dia hanya tidak ingin Rara lelah.
"Nurut kenapa sih kamu itu baru sembuh aku tidak mau kalau kamu sakit lagi," omel David.
"Pasti Mas Daffa yang bilang kalau aku sedang sakit," sahut Rara.
"Siapa lagi kita kan besti," timpal David dengan terkekeh.
Karena Albert tak kunjung turun, David inisiatif untuk memanggil keponakannya.
Sebelum David memanggil Albert di kamarnya Rara memanggil David yang sudah berjalan beberapa langkah.
"Mas," panggil Rara.
David menghentikan langkahnya lalu perlahan menoleh dan kembali ke tempat Rara berada.
"Aku ingin bertanya Mas," kata Rara.
"Apa?" tanya David.
"Bagaiamana keadaan mas Sean?" Rara menjawab pertanyaan David dengan pertanyaan balik.
Mendengar pertanyaan Rara membuat David melongo, bukankah selama ini Daffa selalu memberinya obat anti depresi, seharusnya sedikit-sedikit Rara mulai lupa dengan Sean, tapi kenapa tiba-tiba Rara menanyakan Sean?
"Sean?"
David menghela nafas kemudian dia mengajak Rara untuk duduk.
"Aku sungguh serba bingung Ra, Aku tidak ingin kamu sakit jika mengingat Sean," kata David.
"Aku sudah tidak apa-apa," sahut Rara.
"Kemarin saat Mas Daffa menyebut nama Sean memang aku sangat kesakitan tapi setelah itu aku baik-baik saja. tiba-tiba kenangan saya merasuk ke dalam diriku," sambung Rara dengan mata yang membasah.
"kamu yakin sudah tidak apa-apa Ra," David sekali lagi meyakinkan Rara.
"Aku yakin mas," jawab Rara.
"Selama 5 tahun ini Sean menyesali perbuatannya, setiap hari dia mengunjungi makam wanita yang bernama Rara yang meninggal waktu itu, di depan pusara itu dia selalu menangis menyesali semua perbuatannya," kata David.
Rara nampak menangis mendengar cerita dari David, sebenarnya masih ada Sean dihatinya meski selama ini dia hidup bersama Daffa.
"Kamu ingin bertemu dengannya?" tanya David.
Rara menggeleng, dia paham jika dia bertemu dengan Sean maka Daffa akan sakit hati.
"Tidak Mas, aku tak ingin menyakiti Mas Daffa yang begitu mencintaiku, selama 5 tahun ini dialah yang selalu berada di sampingku, memberikan namanya untuk Albert, bekerja keras siang dan malam demi kami dan masih banyak lagi yang dia lakukan untuk kami," jawab Rara.
__ADS_1
David nampak tersenyum, entah mengapa hatinya nampak teriris saat Rara bilang seperti itu, sebenarnya tak hanya Daffa yang berjuang untuk Rara tapi dirinya juga, dia juga bolak-balik indonesia-inggris untuk menengok Rara dan juga Albert, dia juga yang sembunyi-sembunyi menyekolahkan Albert di tempat elit dan menanggung semua biayanya, Tak hanya itu dia juga sudah menyiapkan asuransi pendidikan untuk Albert.
Apakah David juga mencintai Rara?
*********
Sean merasa kalau ada yang disembunyikan oleh David, pasalnya kenapa begitu sulit untuk mempertemukan orang tua Albert dengan dirinya.
"Untuk bertemu saja kenapa harus menunggu minggu depan," batin Sean.
Tak ingin dihantui rasa penasaran, Sean memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah Albert sepulang jam kantor, dia ingin memastikan sendiri siapa sebenarnya orang tua Albert.
Seperti biasa saat jam makan siang, Sean menjemput Albert di sekolah. Bocah kecil ini nampak berlari saat melihat Sean.
"Uncle," teriak Albert.
Sean melambaikan tangannya lalu dia juga berlari menuju ke arah Albert sehingga mereka berdua bertemu di tengah-tengah.
"I Miss you boy," kata Sean sambil memeluk Albert.
"I Miss you papa," balas Albert sambil terkekeh.
Sean nampak tersenyum, entah kenapa dia sangat suka dipanggil papa oleh Albert.
"Ucapkan lagi," titah Sean.
"Maaf paman aku hanya merasa kalau Paman ini lebih cocok menjadi papa aku, selain wajah kita yang mirip kita semua memiliki banyak kesamaan," sahut Albert.
Nampaknya Sean salah paham, padahal Sean ingin mendengar dia memanggilnya Papa lagi.
"kamu boleh memanggilku papa," timpal sean.
Albert sangat senang saat Sean mengizinkannya memanggil papa, menurut Albert Sean lebih cocok jadi papanya daripada Daffa.
"Paman lebih cocok menjadi papaku daripada daddy aku," kata Albert.
"Kenapa begitu Albert?" tanya Sean.
"Daddy sangat suka bekerja di rumah sakit, sedangkan aku sangat suka di depan laptop," jawab Albert.
Sean nampak berpikir, dia baru ingat bukankah Daffa 5 tahun yang lalu juga dikirim ke Inggris?
Tiba-tiba matanya membola, Apa mungkin jadi yang dimaksud Albert adalah Daffa? anak dari pelayannya yang kuliah di fakultas kedokteran.
"Albert boleh Papa bertanya?" tanya Sean.
"Boleh," jawab Albert.
__ADS_1
"Siapa nama mommy dan Daddy kamu?" tanya Sean dengan menatap lekat Albert.