Suami Biadab

Suami Biadab
Sudah Tidak mau Peduli


__ADS_3

Semenjak berubahnya Daffa, Albert juga ikut berubah, dia tidak seriang dulu, dia lebih banyak diam tentu ini membuat Rara bingung.


"Aku harus bilang yang sebenarnya pada Albert jika Sean adalah ayah kandungnya." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.


Rara harus mengambil sikap karena tidak mungkin jika terus-terusan seperti ini, disini bukan hanya dia yang tersiksa tapi Daffa dan Albert juga tersiksa.


"Mas, nanti siang kita ketemuan ya, aku ingin bicara." Rara mengirim pesan pada Sean.


"Iya sayang," balas Sean beberapa saat kemudian.


"Nanti kamu jemput di sekolah Albert saja ya."


"Ok sayang," balas Sean.


Rara menghela nafas lalu tersenyum meski berat dia harus meninggalkan Daffa, karena tidak mungkin dirinya terus-terusan membelenggu Daffa dengan cinta sepihak.


"Maafkan aku mas, selalu saja merepotkan kamu," gumam Rara.


Entah mengapa Rara ingin sekali membuat makan siang untuk Daffa, tak lupa dia juga membuat makan siang untuk Sean maupun Albert.


"Sudah lama mas Daffa tidak makan masakan aku, sebelum aku pergi aku ingin memasak untuknya." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.


Kali ini dia memasak sup ikan dan spaghetti kesukaan Daffa dan untuk Sean maupun Albert dia membuat Steak daging.


Selama tiga jam Rara bergulat dengan bumbu dan bahan makanan di dapur, kini akhrinya semua masakannya matang.


"Akhirnya matang semua, ni untuk mas Daffa lalu ini untuk Mas Sean dan juga Albert," gumam Rara dengan tersenyum.


Kali ini Rara memesan taksi online entah mengapa dia tinggal menggunakan mobil pribadinya.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Rara nampak terdiam sebenarnya dia takut menemui Daffa tapi dia ingin memasak untuk terakhir kalinya untuk Daffa, meski tidak sebanding dengan pengorbanan Daffa tapi minimal ada yang bisa dia lakukan untuk Daffa.

__ADS_1


Tak terasa mobil sudah memasuki kawasan rumah sakit setelah membayar Rara turun dan berjalan menuju ruang praktek Daffa.


"Sus, Dokter Daffa apa ada di ruangannya?" tanya Rara.


"Ada Miss Rara, Dokter Daffa ada di dalam, beliau baru saja selesai mengoperasi pasien," jawab Suster yang berjaga di depan ruangan Daffa.


Tanpa mengetuk pintu, Rara langsung saja nyelonong masuk. Dia melihat Daffa meletakan kepalanya dia atas meja.


"Mas," panggil Rara.


Daffa mengangkat kepalanya untuk mengecek siapa yang memanggilnya.


"Apa yang membuat kamu kemari Ra?" tanya Daffa.


"Aku membawakan makan siang buat kamu mas," jawab Rara.


"Nggak perlu repot-repot Ra, aku sudah makan, bawa pulang lagi saja," sahut Daffa.


"Kenapa sih mas, kenapa kamu berubah," protes Rara.


Daffa tersenyum sambil menatap Rara yang juga menatapnya.


"Aku rasa kamu sudah tau jawabannya Ra," sahut Daffa.


"Seharusnya aku tidak memisahkan kamu dan Sean, Ra. Seharusnya aku tidak menjadi Hero buat kamu," kata Daffa.


Air mata Rara meleleh, dia tidak menyangka Daffa bisa bicara seperti itu, apa dia menyesal telah membantu dirinya? apa dia menyesal telah menjadi Daddy Albert?


"Kamu benar, seharusnya kamu tidak menyelamatkan aku, biarkan saja waktu itu aku dan anak aku mati di tangan Sean, mungkin saat ini aku tidak berada dalam dilema seperti ini." Rara menghapus air matanya.


Hatinya sungguh perih tapi dia tidak bisa menyalahkan Daffa, andai dia menjadi Daffa mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Ya sudah mas, aku pamit." Rara menyodorkan makan siang untuk Daffa.


"Sedari tadi aku berkutat di dapur membuat makanan ini sampai lelah," sambung Rara dengan tersenyum.


Daffa memalingkan mukanya, dia tidak menerima maupun menolak makanan dari Rara.


"Kalau tidak suka buang saja mas," kata Rara.


Rara berjalan menuju pintu keluar namun tiba-tiba Rara mengentikan langkahnya, dari membalikan badan lalu meletakkan foto mereka.


"Albert sangat merindukan kamu mas, setiap malam dia membawa foto ini di samping bantalnya, tak hanya itu dia kini berubah menjadi anak yang pemurung," ucap Rara.


Daffa masih memalingkan wajahnya, bukan karena dia benci Rara tapi air matanya juga mengalir keluar.


"Maaf mas, aku terlalu banyak bicara. Aku pamit selamat tinggal mas." Rara membalikan badan lalu pergi meninggalkan Daffa.


Daffa merasa tidak nyaman dengan ucapan selamat tinggal Rara namun dia merelakan Rara jika Rara ingin hidup bersama Sean.


"Selamat tinggal Ra, semoga kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai," gumam Daffa.


Di sisi lain Daniel rival Sean sudah mengantongi semua informasi tentang Sean termasuk Rara dan juga Albert.


Dia yang awalnya mengira Sean masih lajang kini tau jika Sean memiliki istri dan juga anak.


"Apa kita menyegerakan rencana kita pak?" tanya asisten Daniel.


"Kapan lagi, jangan membuang waktu atau dia semakin jaya," jawab Daniel.


Asistennya pamit untuk undur diri karena dia akan merealisasikan rencana yang sudah mereka susun dengan matang.


Daniel tertawa dengan keras, dia sungguh ingin melihat Sean hancur sehancur-hancurnya.

__ADS_1


"Lihatlah Sean," gumam Daniel.


__ADS_2