
Seusai makan Sean mengantar Albert pulang, dia ingin tau siapa orang tua Albert, bagaimana bisa melahirkan anak yang sangat persis seperti dirinya.
"Ini rumah kamu?" tanya Sean setelah mereka tiba di rumah Albert.
Sean dan Albert berjalan menuju rumah, Albert berusaha mengetuk pintu namun tidak ada yang membuka pintu dan datanglah tetangga Albert yang mengatakan kalau kedua orang tuanya sedang berpergian.
"Ya sudah ayo ikut Paman lagi," kata Sean yang tidak tega meninggalkan Albert seorang di rumah.
"Nggak usah Paman, Albert menunggu mommy dan Daddy di rumah saja biasanya mereka keluar sebentar.
Sean awalnya ikut menunggui namun karena ada panggilan mendadak sehingga mau nggak mau Sean harus pergi.
"Maaf Albert paman harus pergi, kamu nggak papa paman tinggal?" Nampak Sean yang tidak tega meninggalkan Albert.
"Mungkin mommy dan Daddy akan segera pulang, paman kerja saja," sahut Albert.
Sean mengelus rambut Albert, dia sungguh berat meninggalkan bocah kecil itu tapi bagaimana lagi dia juga harus kembali bekerja.
Albert melambaikan tangannya membuat Sean semakin merasa berat meninggalkan Albert.
Sesaat kemudian mobil Daffa masuk, Daffa segera memeluk Albert. Matanya membasah Tantu ini membuat Albert bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada Daddy-nya.
"Daddy kenapa?" tanya Albert.
Daffa menggeleng kemudian dia segera membawa masuk Albert, dia meminta Albert untuk istirahat sedangkan dirinya pergi ke ruang kerjanya.
Daffa duduk sambil menatap foto Rara dan Albert, bagi Daffa Rara dan Albert adalah nyawanya, dia tidak ingin kehilangan wanita dan anak yang selama ini bersamanya. Kehadiran Sean menjadi momok bagi Daffa.
Daffa tidak ingin mempertemukan Sean dengan Albert meski dia tau kalau Sean ada di Inggris, namun dia tidak menyangka kalau Sean dan Albert sudah saling bertemu bahkan Sean mengantar Albert pulang.
"Untung Rara tidak di rumah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Rara sampai bertemu Sean." Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sebelum jam pulang Albert, Rara harus pergi karena ada urusan mendadak sehingga dia meminta Daffa pulang karena sudah waktunya pulang sekolah.
Saat akan tiba di rumahnya, Daffa tak sengaja melihat Sean dan Albert turun dari mobil yang sama, tentu ini membuat Daffa berhenti karena dia tidak ingin Sean tau jika dirinya tinggal dengan Albert itulah sebabnya Daffa memeluk anaknya dengan mata membasah.
Selama lima tahun ini tidak mudah mendapatkan Rara karena di hati Rara ada nama Sean.
flashback
"Kita tidak bisa terus memberikan bersama Tuan David, anak yang ada di dalam kandungan Rara bisa menjadi korban Tuan Sean," kata Daffa.
"Apa yang bisa kita lakukan, dendam pak Sean sangat membara sehingga membunuh rasa kemanusiaannya Daffa," sahut David.
Sambil menunggui Rara mereka berdua saling berfikir, bagaimana caranya menjauhkan Rara dari Sean dengan aman karena jika membawa Rara kabur urusannya akan panjang.
"Bagaimana kalau kita membuat drama seolah Rara telah meninggal karena pendarahan." David memberikan ide.
Daffa nampak tersenyum, kelihatannya itu adalah ide yang bagus, namun kini masalahnya kemana harus menyembunyikan Rara dari Sean? kalau Rara masih di kota ini kemungkinan Sean bisa menemukan Rara.
"Bagaiamana kalau ke Inggris, saya mendapatkan tawaran kerja di sana, saya bisa percepat keberangkatan saya pak David, semua juga sudah saya urus," kata Daffa yang membuat David tersenyum.
"Biarkan Rara istirahat dulu, keeoskannya baru kita mulai drama ini, namun sebelumnya cari mayat wanita sebagai ganti Rara," titah David.
Kelihatannya drama mereka disetujui oleh Tuhan sore harinya ada ada mayat seorang wanita yang bernama Rara, wanita tersebut merupakan korban tabrak lari yang tidak diketahui identitasnya.
Setelah di Inggris, Daffa dan Rara hidup di sebuah apartemen yang sudah disediakan pihak rumah sakit untuk Daffa, sebenarnya David ingin menyewakan apartemen sendiri untuk Rara mengingat Rara masih istri sah Sean namun dengan kondisi Rara yang tidak memungkinkan untuk hidup sendiri.
Tidak mudah bagi Daffa membuat Rara hidup dengan normal kembali, hal-hal buruk yang dialami membuat Rara depresi, sehingga David memberikan obat anti depresan yang membuat Rara perlahan menghilangkan ingatan akan siksaan Sean.
Waktu demi waktu, Rara mulai bisa tersenyum kembali dan ini membuat Daffa sangat senang akhirnya perjuangannya tidak sia-sia.
Daffa terus saja membuat hari Rara menyenangkan dia juga mendepositokan uang Rara untuk masa depan anaknya.
__ADS_1
"Rasakan Ra, anak kita menendang," kata Daffa sambil mengelus perut Rara yang sudah membesar.
Daffa sangat sayang pada Rara bahkan dia ingin menggantikan Sean namun semua itu tidak bisa mengingat Rara masih istri sah Sean.
Kepada setiap orang Daffa selalu bilang kalau Rara adalah istrinya, meski hal itu tidak penting di sana, mengingat di Eropa hidup dengan siapapun bebas walaupun tanpa ikatan pernikahan.
Mendekati hari persalinan, Daffa yang mengurus ini dan itu, David yang berada di Indonesia hanya bisa membantu memberikan sejumlah uang untuk biaya persalinan dan juga kebutuhan Rara maupun anaknya, sebenarnya Daffa menolak tapi David bilang kalau dirinya harus ikut tanggung jawab.
"Mas sakit mas," Rara mengeluh kesakitan.
Daffa selalu memberikan supportnya untuk Rara, dia juga yang menunggui Rara sebelum melahirkan.
"Sabar, sakitnya akan reda reda setalah baby nya keluar kok," bisik Daffa.
Berkali-kali Daffa mengecup kening Rara, andaikan Rara adalah istri sah nya pasti dirinya akan sangat senang.
Selama proses melahirkan Daffa menemani Rara hingga seorang anak laki-laki tampan keluar dari rahim Rara.
"Anak kita lahir," kata Daffa lalu mengecup kening Rara.
Meski bukan anak kandungnya tapi Daffa sangat menyayangi anak Rara, nama juga dia yang menamai.
Semua Daffa lakukan karena dia sangat mencintai Rara meski Rara tidak pernah membalas cinta Daffa.
Setiap hari, Daffa yang mengurus Albert dia cukup paham kalau jadi seorang ibu yang baru melahirkan akan mengalami stres sehingga dialah yang dengan sabar menemani Rara setiap Albert menangis bahkan dia rela begadang demi menunggui Albert yang tidak mau tidur.
Saat Albert berusia satu tahun, Daffa mendapatkan bonus yang besar sehingga dia bisa membeli rumah yang cukup besar untuk mereka bertiga, meski Sean masih ada di hari Rara namun
Daffa tidak pernah berhenti mencintai Rara, dia yakin suatu saat akan ada hari dimana cinta Rara menjadi miliknya.
flashback off.
__ADS_1
Daffa yang takut kehilangan Rara membuang semua benda di atas meja.
"Aku mencintainya Sean," kata Daffa dengan mata yang membasah.