
Bola mata Rara memutar, memorinya kembali mengingat kejadian yang beberapa waktu terjadi.
"Maafkan aku mas," gumam Rara dengan mata yang membasah.
Daffa kini muncul di pikirannya, Rara sungguh merasa bersalah pada Daffa karena kemarin telah berjanji untuk tidak akan meninggalkannya namun dirinya kini malah tidur dengan Sean.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sean.
Rara menggelengkan kepala sambil tersenyum, tangannya tergerak untuk mengelus pipi Sean.
"Mas bisakah kita tidak usah bertemu lagi."
Ucapan Rara sontak membuat Sean terkejut, bagaiamana bisa Rara meminta hal itu, sampai kapan pun dirinya tidak akan melepaskan Rara maupun Albert.
"Baiklah tapi berikan Albert padaku," ancam Sean.
"Albert adalah hidupku mas, bagiamana bisa kamu memintanya dariku," sahut Rara tidak terima.
"Lalu aku harus bagaimana, aku sangat mencintai kalian," timpal Sean.
Rara hanya bisa terdiam, dirinya sungguh dilema rasa cintanya pada Sean dan rasa tak teganya terhadap Daffa membuatnya dilema, andaikan dirinya bisa membelah diri seperti amoeba mungkin satu dirinya bisa bersama Daffa dan satu dirinya bisa bersama Sean.
Sean memeluk Rara dengan erat, dia meminta Rara untuk membangun lagi rumah tangga mereka, dirinya ingin menebus kesalahan di masa lalu.
"Jujurlah pada Daffa, aku yakin dia akan mengerti. Lagian apa sih yang dicari, hidup rumah tangga itu nggak hanya hidup bersama tapi harus ada cinta yang nantinya akan menjadi pondasi, itulah yang penting sayang," jelas Sean.
Di sisi lain Daffa juga terdiam mendengar pencerahan dari David, memang benar cinta itu tidak harus memiliki tapi kasusnya sungguh berbeda dengannya.
"Sudah jangan terlalu dipikir Daffa, nikmati saja," pesan David.
David meminum minumannya, sebenarnya tak hanya Daffa tapi dirinya juga sakit tapi bagaimana lagi? dia juga tidak bisa memaksakan perasaannya, jangankan niatan untuk hidup bersama Rara, mengungkapkan perasannya saja dia tidak memiliki keberanian.
__ADS_1
"Anda benar Tuan," sahut Daffa.
Hari semakin larut, David mengajak Albert dan Daffa untuk makan malam bersama namun Daffa menolak dia takut kalau Rara sudah pulang dari tadi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil Albert," kata David lalu pergi memanggil Albert yang masih di kamarnya.
*********
"Kami pamit Tuan David, terima kasih atas sarannya," kata Daffa.
"Sama-sama. Pikirkan lagi, hidup hanya sekali Daffa jangan buat dirimu membelenggu orang yang kamu cintai dan diri kamu sendiri." Lagi-lagi David memberikan pesannya pada Daffa.
Daffa mengangguk lalu keluar dari unit apartemen David, saat dia menuju basemen nampak Rara dan Sean juga hendak ke basemen, untung Albert dalam posisi gendongan Daffa sehingga tidak tau kalau di depan mereka ada Rara dan juga Sean.
Sean nampak menggandeng tangan Rara dan ini membuat Daffa kesal namun lagi-lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa kesalnya.
Tak hanya menggandeng tangan, Sean juga membukakan pintu mobil untuk Rara, nampak Rara tersenyum akan perlakuan manis Sean.
"Maafkan aku Ra, karena terlalu egois," batin Daffa.
Daffa segera masuk mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, dia mendahului mobil Sean yang lebih dulu keluar dari parkiran.
Tak berselang lama, mobil Daffa memasuki halaman rumahnya nampak Albert yang sudah mengantuk.
"Albert jangan bobok dulu ya, kita kan belum makan," kata Daffa sambil melepas sabuk pengaman yang dipakai oleh Albert.
"Iya Daddy," sahut Albert.
Daffa segera membawa anaknya turun, dia membaringkan Albert di sofa sedangkan dirinya akan memasak spaghetti untuk makan malam mereka.
Meski hatinya terluka namun Daffa tetap menyiapkan makan malam untuk Rara.
__ADS_1
Tak perlu waktu lama untuk mematangkan tiga porsi spaghetti, Albert yang sudah lapar segera memakan spaghetti yang Daffa buat setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk tidur.
"Selamat malam sayang, mimpi indah ya." Daffa mencium kening Albert.
"Good night Daddy, i love you," balas Albert.
Daffa tersenyum lalu dia keluar dari kamar Albert, Daffa duduk di sofa untuk menunggu Rara, dia takut kalau Rara belum makan.
Lama menunggu, akhrinya Rara pulang juga. Saat Rara membuka pintu Daffa menyalakan lampu sehingga membuat Rara kaget.
"Mas belum tidur?" tanya Rara dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Belum Ra, aku nungguin kamu," jawab Daffa.
"Kamu sudah makan?" tanya Daffa kemudian.
"Sudah mas," jawab Rara.
"Di meja makan ada spaghetti satu porsi, ya sudah dibuang saja," sahut Daffa.
"Eh jangan mas, biar aku makan. Spaghetti buatan kamu kan enak sayang kalau dibuang," tukas Rara.
Rara sengaja tidak ingin membuat Daffa kecewa sehingga dia memaksa spaghetti yang Daffa buat.
Daffa turut menemani Rara makan, bola matanya melihat tanda cinta di leher Rara.
"Leher kamu kenapa Ra?" tanya Daffa.
Rara segera menutupi lehernya dengan rambut, dia nampak kikuk saat Daffa melihat tanda cinta dari Sean.
"Ini tadi digigit semut mas." Rara berbohong.
__ADS_1
"Semutnya tampan ya Ra, seorang pebisnis muda juga," sahut Daffa.