
David sibuk menyelidiki asal usul Rara, dia tidak ingin Sean balas dendam pada orang yang salah, dia paham kalau Sean sangat menyayangi Seon tapi tidak harus gelap mata dan menganggap semua wanita yang menggunakan syal merah adalah kekasih adiknya.
Setelah semua info dia dapat David mencetak semuanya, darimana Rara berasal lalu dia besar dimana dan bersekolah dimana bahkan foto-foto keseharian Rara, David cetak untuk bukti tambahan.
Sebenarnya semua info tentang Rara tertulis di surat lamaran pekerjaan Rara waktu itu mungkin Sean mengabaikannya.
"Mana Rara?" tanya Sean saat David masuk ke dalam ruangan Sean.
Belum sempat menjawab Daffa sudah menelpon, raut wajah David nampak berubah, dia yang melemas terduduk di kursi yang bersebrangan dengan Sean.
David mengirimkan pesan untuk Daffa, entah apa isi pesan yang dia kirim.
"Ada apa?" tanya Sean yang penasaran dengan ekspresi David.
Setelah menutup sambungan telponnya, David menatap Sean dengan tatapan yang sulit diartikan.
David menunjukan info terkait Rara, beserta foto-foto keseharian Rara.
Sean membaca berkas yang David berikan, namun itu tidak membuatnya percaya jika Rara bukanlah kekasih Seon.
David hanya bisa menghela nafas, lalu dia menunjukan foto Rara yang telah terbujur kaku di di ruang operasi.
"Sudahi dendam anda, kini Rara telah pergi," kata David.
Sean terdiam, entah mengapa hatinya sangat sakit saat David bilang kalau Rara telah pergi.
"Rara mengalami pendarahan pak, benturan dengan sofa membuatnya tidak bisa mempertahankan janin yang dia kandung yang akhrinya itulah yang merenggut nyawanya. Anda bisa tertawa bebas sekarang karena wanita yang anda kira kekasih adik anda telah meninggal dengan cara yang tragis pula ya bisa dibilang dia meninggal di tangan anda."
David beranjak dari kursi lalu keluar meninggalkan Sean, dia sudah memberi Sean kesempatan namun Sean seakan dibutakan oleh dendam yang telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah David berikan.
"Maafkan saya pak, setelah ini saya harap anda tidak menangisi Nona Rara, biarkan dia tenang disana," batin David.
David segera mengurus biaya serta jenazah yang harus dikebumikan, David rencananya ingin menguburkan jenazah di tempat pemakaman umum, dia meminta pihak rumah sakit untuk memandikan dan melakukan prosesi pemakaman sesuai keyakinan yang dianut.
__ADS_1
Di sisi lain teringat kembali saat dirinya bertemu Rara tak bisa dipungkiri dia nampak tertarik dengan kecantikan Rara namun rasa dendam yang besar tidak mampu dikalahkan dengan rasa kagumnya.
Hari sudah gelap namun Sean masih duduk di kursi kebesarannya, dia mengenang Rara yang selama ini dia siksa, rasa bersalah mulai menyeruak masuk, hingga rasa sesal yang perlahan ikut menerobos masuk, mata Sean membasah, apalagi Rara meninggal dengan membawa anaknya.
Tepat pukul 12 malam Sean masuk ke dalam kamarnya, bayangan Rara muncul dimana-mana, di lantai, di sofa di tempat tidur tak hanya itu suara rintihan serta jeritan Rara membuat Sean pergi keluar kamar, dia kini masuk ke dalam kamar Seon, inilah kali pertama Sean masuk kamar Seon semenjak kepergian Seon.
Sean tidak sanggup mengenang Seon, di kamar inilah mereka bercanda bersama terkadang mereka juga bertengkar.
Setelah Seon meninggal, Sean menyuruh orang untuk memeriksa kamar Seon namun mereka yang diperintah saya tidak menemukan bukti apapun terkait kekasih Seon.
Sean yang lelah mencoba memejamkan matanya di atas ranjang Seon, benar saja baru sebentar dia sudah terlelap.
Matahari perlahan naik namun Sean masih setia dengan tidurnya, dia seakan tak ingin bangun dari mimpinya.
Tepat pukul sembilan David menghubungi Sean, suara dering ponsel Sean membuatnya terbangun.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Ada Klien yang ingin bertemu pak," jawab David dalam sambungan telponnya.
Dia lupa kalau Rara telah pergi untuk selamanya, kini tiada lagi wanita yang akan disiksa nya.
Sean mengusap wajahnya lalu dia beranjak saat akan mengambil sepatu yang masuk ke dalam kolong ranjang tak sengaja Sean menemukan sebuah plastik warna hitam, di dalam sana ada ponsel Seon yang tidak terpakai tak hanya itu ada juga beberapa foto-foto Seon bersama seorang wanita.
Siapakah wanita itu? apa itu adalah kekasih Seon? kenapa Seon menyembunyikan foto-foto kekasihnya di kolong tempat tidur?
berbagai macam pertanyaan muncul di kepala Sean, hingga dia sadar akan berkas yang diberikan David kemarin.
Dia sadar kini kalau dirinya telah salah orang, pantas Rara tidak pernah mengenal Seon, saat malam pertama Rara juga masih virgin.
"Jadi aku salah orang?" gumam Sean.
Disaat Sean sadar istrinya kini telah pergi untuk selamanya meninggalkan setumpuk rasa bersalah dan sesal untuk Sean.
__ADS_1
Sean segera membersihkan diri lalu berangkat ke kantor, pikirannya sangat kalut dan melayang kemana-mana setelah tau kalau dirinya salah orang perlahan rasa dendam yang menggebu berubah menjadi rasa cinta yang menggebu karena sebenarnya Sean sangat mencintai Rara namun dia sangat picik.
Setibanya di kantor, Sean bergegas ke ruangan David namun David tidak ada di ruangannya. Sean segera menghubungi David lalu memerintahkan asistennya untuk segera kembali ke kantor.
Tak berselang lama David datang dan melapor kalau Klein membatalkan kerja sama mereka.
"Itu tidak penting, aku hanya ingin kamu mengantar aku ke makam Rara," kata Sean.
David tersenyum sinis, kemarin darimana saja kenapa baru sekarang mencari istrinya.
"Mohon maaf saya langsung memakamkan Nona Rara di pemakaman umum yang dekat dengan rumah sakit, sebenarnya ingin saya bawa pulang ke rumah anda tapi takut anda marah," jelas David.
Tak ingin bertanya banyak hal lagi, Sean langsung meminta David untuk mengantarnya ke makam istrinya.
Air mata Sean langsung luruh, saat melihat makan istrinya.
"Maafkan aku Ra, maafkan aku," Sean menangis.
David yang melihatnya nampak sedih, tapi bagaimana lagi ini semua juga karena dendam yang terlalu membara, andaikan Sean menyelidikinya lebih awal mungkin semua tidak akan terjadi.
Sesal tinggallah sesal, sebesar apapun rasa sesalnya tidak akan bisa mengembalikan Rara yang telah pergi.
Di sisi lain, Daffa mulai berkemas, dia meminta pihak rumah sakit yang ada di luar negri segera mempercepat keberangkatannya, karena tidak perlu terlalu lama untuk belajar lagi.
Kemarin malam mengirimkan email, satu jam kemudian email sudah dijawab dan langsung menyetujui penawaran Daffa.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Daffa nampak menangis, inilah kali pertama dia jauh dari kedua orang tuanya.
"Hati-hati Daffa," pesan Ibu.
"Jangan lupakan ayahmu ini," sahut ayah.
Daffa menggeleng, bagaiamana mungkin dirinya melupakan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tak ingin terlambat, Daffa segera pergi ke Bandara, di sana sudah ada yang menunggunya.