
"Pak David," teriak Rara saat David turun dari mobilnya.
David berjalan mendekati Rara, sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi Rara dan Albert.
Albert yang tau kalau uncle nya datang nampak senang, dia segera berlari dan meminta David untuk menggendongnya.
"Uncle gendong," pinta Albert dengan manja.
Mata David membasah melihat anak kecil ini, setahun tidak bertemu Albert semakin cakep saja.
"I Miss you, anak lelakiku," kata David lalu menghujani Albert dengan banyak kecupan.
"Miss you too uncle," sahut Albert lalu mengecup pipi David.
Sungguh pemandangan yang indah, tak bisa dipungkiri David sangat menyayangi Albert, dialah yang merekomendasikan Albert untuk sekolah di sekolah terbaik di London, dia juga yang membiayai semua biayanya diluar sepengetahuan Rara maupun Daffa, dia sengaja meminta pada pihak sekolah untuk tidak memberitahukan hal itu pada Rara maupun Daffa, mereka cukup bilang kalau Albert mendapatkan beasiswa penuh.
"Dia anak saya pak bagaimana bisa anda mengklaim jika Albert anak anda," sahut Daffa yang kesal pada David karena mengklaim Albert sebagai anaknya.
"Dia juga anakku," sahut David tidak terima.
Terjadilah debat kusir antara David dan Daffa mereka berdua merebutkan Albert.
Albert menepuk dahinya sungguh heran dengan Daddy dan uncle nya.
"Astaga pria dewasa sungguh mengesalkan," ucapnya.
Tak hanya Albert Rara juga menggelengkan kepala, mereka selalu bertengkar merebutkan Albert.
"Albert itu anakku karena akulah yang melahirkannya," sahut Rara melerai debat David dan juga Daffa.
"Sudah Albert gantian mommy." Rara meminta Albert untuk turun.
Lama tidak berjumpa dengan David membuat Rara juga merindukan mantan atasannya, dia menurunkan anaknya lalu gantian memeluk David.
"I Miss you Ra," kata David.
"I Miss you pak David," sahut Rara.
Daffa nampak tidak senang tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena wajar jika Rara memeluk David karena bagaimanapun juga David ikut andil untuk hidup Rara.
"Sudah jangan lama-lama," sindir Daffa yang sudah memanas.
David tertawa, Daffa sungguh pencemburu sekali padahal dia tidak akan merebut Rara darinya.
"Dengar Daffa, saingan terberat kamu itu bukan aku tapi yang lainnya," bisik David yang membuat raut wajah Daffa berubah.
Tak bisa dipungkiri, kehadiran Sean lah yang Daffa takutkan, dia takut jika Sean muncul dan merebut Rara kembali.
"Mari kita bicara Daffa," ajak David.
Daffa dan David yang ingin bicara empat mata memutuskan untuk pergi ke ruang kerja Daffa, dia tidak ingin Rara maupun Albert mengetahui isi pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kami ke ruang kerja dulu ya," pamit Daffa.
Albert yang ditinggal nampak protes, dia sungguh kesal papa daddy nya karena membawa David pergi padahal dirinya masih rindu dengan pamannya.
"Daddy jahat sekali, main bawa pergi uncle," protes Albert.
Rara nampak tersenyum lalu membawa anaknya ke atas pangkuannya.
"My Albert sayang, mungkin Daddy ada urusan penting dengan uncle jadi Daddy membawa uncle untuk bicara." Rara memberi pengertian pada anaknya.
Albert nampak mengangguk lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya karena pasti mommy akan sibuk menyiapkan minuman maupun camilan untuk Daddy dan juga uncle nya.
Setelah Albert pergi ke kamarnya, Rara berkutat ke dapur untuk membuatkan minum dan camilan untuk David dan Daffa.
Tiga puluh menit kemudian, Rara telah selesai membuat makanan, kini tinggal membawanya ke ruang kerja Daffa.
"Kalian serius sekali apa sih yang dibicarakan," kata Rara sesaat masuk ke dalam ruang kerja Daffa.
David dan Daffa menoleh barengan lalu tersenyum, mereka seketika mengalihkan topik pembicaraan mereka karena ada Rara.
"Bergabung sini Ra." David menepuk tempat kosong di sampingnya
Tanpa menolak Rara langsung duduk tentu hal ini membuat Daffa cemburu.
"Lima tahun sudah berlalu namun anda masih saja single pak David," sindir Rara.
David tertawa mendengar sindiran Rara.
Daffa nampak melirik David dia merasa ambigu dengan ucapan David.
"Memangnya siapa pak?" tanya Rara.
David yang kebetulan tengah minum jadi tersedak saat mendengar pertanyaan Rara.
Uhuk
Uhuk
Rara segera mengambilkan tisu untuk David, bahkan dia membantu David membersihkan bajunya yang basah.
"Hati-hati dong pak David, lihatlah basah semua," kata Rara.
David tersenyum sambil menatap Daffa, nampak sekali Daffa sangat kesal hingga dia berdehem untuk mengalihkan perhatian Rara.
"Sangat manja, tidak bisa apa mengelap baju sendiri," Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri sembari menatap Rara dan juga David.
Rara hanya tertawa melihat Daffa begitu pula dengan David.
"Oh ya, bisa kan aku membawa Albert untuk makan bersama diluar, sungguh aku sangat merindukannya," kata David.
"Nggak boleh," sahut Daffa.
__ADS_1
"Come on Daffa, dia itu keponakan aku masa iya kamu melarang aku untuk mengajaknya jalan-jalan, tenang aku tidak akan mengambilnya darimu," Lagi-lagi David menggoda Daffa.
Rara mengelus pundak Daffa, Albert sangat menyayangi David tidak ada salahnya membiarkan mereka berdua pergi keluar.
"Sudahlah mas, nggak papa," bujuk Rara.
Daffa menghela nafas tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengijinkan David membawa Albert untuk makan diluar.
"Baiklah," kata Daffa dengan pasrah.
David segera pergi ke kamar Albert untuk mengajaknya keluar.
"Albert ayok kita jalan-jalan," ajak David.
Dengan senang Albert langsung mengiyakan ajakan David dia segera mengambil tasnya lalu ikut David.
David membawa Albert berkeliling banyak hal yang Albert ceritakan pada David termasuk keinginannya untuk jadi peretas handal.
"Kenapa ingin jadi peretas?" tanya David dengan heran.
"Ya untuk membantu negara saja uncle," jawab Albert dengan terkekeh.
David menggelengkan kepala, biasanya anak seusia Albert memiliki cita-cita menjadi polisi, dokter, guru, atlit sedangkan Albert malah ingin menjadi peretas.
"Tapi uncle jangan bilang mommy karena nanti mommy pasti marah," imbuh Albert.
"Ya jelas mommy kamu marah," sahut David.
"Iya, mommy ingin Albert menjadi seperti Daddy karena bisa membantu orang-orang yang sakit," tukas Albert.
Tak berselang lama mobil David memasuki parkiran restoran, dia sengaja membawa Albert ke restoran steak Wagyu, dia cukup tau kesukaan Albert yaitu steak daging.
"Hore kita makan steak," teriak anak kecil ini.
David segera membawa Albert masuk ke dalam restoran, kemudian dia memesan dua steak Wagyu.
Setelah makanan datang, Albert langsung saja menyantap steak Wagyu di depannya tapi dia menyingkirkan asparagus yang ada di piringnya.
David tersenyum melihat Albert.
"Persis sekali," batin David.
Mereka berdua asik makan bahkan Albert mengajak David untuk balapan makan.
"Nggak, nggak jelas uncle kalah." David menolak ajakan Albert.
"Paman cemen," ejek Albert.
Bukan masalah cemen, jika balapan makan jelas Albert kalah mengingat mulutnya masih sangat kecil.
Saat asik makan, tiba-tiba sebuah tangan mengagetkan David.
__ADS_1