Suami Biadab

Suami Biadab
Sean Biadab


__ADS_3

David kembali dengan pikiran yang bercabang kemana-mana, kalau Rara bukanlah kekasih saudara kembar Sean lalu siapa kekasih Seon sebenarnya? alasan Apa yang membuat slime sangat yakin kalau Rara adalah kekasih adiknya?


Dengan pikiran yang berkecambuk tak karuan David pergi menemui Sean, dia ingin bertanya apa yang membuat saya begitu yakin kalau Rara adalah kekasih adiknya?


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya David lalu duduk di seberang Sean.


Sean menghentikan aktivitasnya kemudian menatap David dengan tatapan kesal karena telah mengganggunya bekerja.


"Cepat katakan," titah Sean.


"Sebenarnya apa yang membuat anda yakin kau Rara adalah kekasih adik anda?" tanya David.


Raut wajah Sean berubah, seketika dadanya bergemuruh, percikan dendam bergejolak mendengar pertanyaan David.


"Apa kamu tidak ingat dengan syal merah yang dia gunakan saat pertama kali melamar pekerjaan, itu adalah syal yang dibeli oleh Seon, saat kami liburan di Belanda," jawab Sean.


"kenapa Anda yakin sekali kalau syal itu adalah yang kalian beli, bukankah banyak sekali syal merah seperti itu di dunia ini," sahut David.


sayang tertawa lalu beranjak dari kursi kebesarannya.


"Aku masih ingat dengan motif syal itu, di syal itu ada inisial SR, yang menurut Seon waktu itu s adalah namanya dan r adalah nama kekasihnya, bukankah nama Rara berinisial r?" ungkap Sean.


Sean teringat kembali akan saudara kembarnya Seon, dia yang lahir 5 menit lebih dulu daripada sayang tentu sangat menyayangi adiknya.


Dibanding Seon, wajah Sean jauh lebih tampan, mereka berdua adalah kembar namun bukan kembar identik, bukan seperti animasi U dan I yang memiliki wajah yang sama.


"Tapi masalahnya apa benar, Syal itu adalah milik Rara?"


David mohon pamit untuk kembali bersamaan Rara yang masuk ke dalam ruangan Sean.


Mendengar pertanyaan David membuat Sean berfikir namun berhubung rasa dendamnya yang besar membuatnya mengabaikan itu semua, baginya Rara tetaplah pembunuh adiknya Seon.


Melihat Rara yang sudah kembali Sean pun mengambil berkas di meja kerjanya lalu mendekati meja kerja Rara.

__ADS_1


"Kerjakan berkas ini, secepatnya!" Titan Sean.


Lagi-lagi Rara mendapatkan tugas di luar nalar, berkas yang Sean berikan kali ini menggunakan tulisan Jepang, lalu bagaimana Rara mengerjakan itu semua?


"Maaf tuan, saya tidak bisa," kata Rara.


"Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus menyelesaikan berkas ini secepatnya," sahut Sean tidak peduli.


Rara hanya mengangguk, meski dia tidak tahu bagaimana mengerjakan berkas tersebut, sekolah hanya diploma 1 tentu membuat Rara tidak memahami apapun tentang bahasa asing apalagi Rara tidak mengambil jurusan bahasa, di samping itu laptop di depannya menggunakan bahasa Indonesia bukan bahasa Jepang.


Tak tahu harus bagaimana cara mencoba mengerjakan pekerjaan lainnya, hingga jam kerja usai Rara masih belum mengerjakan berkas yang diminta Sean, tentu hal ini mengundang amarah Sean.


Plak


Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Rara, wanita Malang yang terus disiksa oleh suaminya sendiri.


"Berkas itu berkas penting, kenapa kamu tidak mengindahkan ucapanku," maki Sean.


Sebenarnya Sean cukup tahu dan paham kalau Rara tidak mungkin bisa mengerjakan berkas menggunakan tulisan Jepang, namun ini dijadikan Sean ajang untuk menyiksa Rara.


Sean segera menarik rambut Rara dengan kuat, dia tidak terima kalau Rara menatapnya dengan tajam dan juga melawan ucapannya.


"Ini adalah tugas kamu sebagai sekretaris aku jadi jangan banyak alasan," maki Sean.


"Saya tidak beralasan tapi semua memang fakta," sahut Rara.


Sean yang kesal karena Rara terus menyahut pun menarik rambut Rara dan membawa Rara menuju sofa, kemudian dia melempar tubuh Rara ke sofa.


Sean mencengkeram dagu Rara dengan kuat sangat nampak sekali kalau Rara tengah kesakitan namun sayang seakan tak punya hati dia masa bodoh dengan itu.


"Siapa yang memintamu untuk menyahut ucapanku hah!" teriak Sean tepat di depan Rara.


Rara yang ketakutan pun menangis, entah apalagi yang akan diperbuatkan padanya.

__ADS_1


"Menangislah dengan keras, percuma tangismu karena tidak akan ada yang bisa menolong kamu," kata Sean dengan tertawa keras.


David yang ingin pamit pulang mendengar suara jeritan Rara, entah siksaan apa lagi yang diterima oleh Rara, David yang tidak kuat mendengar jeritan Rara memutuskan untuk pergi daripada masuk ruangan Sean.


"Kuatkan dirimu Ra, aku akan bantu selidiki siapa pemilik Syal itu, apa benar dirimu atau ada orang lain yang sengaja menjebak kamu," batin David.


Rara pulang dengan tubuh yang sakit semua, siksaan Sean kali ini benar-benar membuatnya ingin mengakhiri hidupnya, Rara berjalan tak tentu arah, dia berharap ada mobil yang menabraknya dari belakang, supaya dia bebas dari siksaan Sean.


Bisa saja Rara melarikan diri saat ini namun ancaman Sean yang ingin melenyapkan nyawa paman dan bibitnya jika Rara kabur tentu membuatnya berpikir ulang untuk melarikan diri.


"Aku membencimu Sean," teriak Rara saat dirinya berada di atas jembatan.


Melihat air sungai yang mengalir deras, membuat Rara ingin meloncat dari atas jembatan untung Dafa yang saat itu melintas segera memarkir motornya dan menghampiri Rara.


"Apa yang ingin kamu lakukan Ra?" tanya Daffa.


"Aku ingin mati Mas, supaya aku bisa menyusul kedua orang tuaku," jawab Rara dengan menangis.


David tentu tidak akan membiarkan Rara bunuh diri, dia segera menarik tangan Rara dan mengajaknya untuk pulang, Rara sekuat tenaga meronta namun tenaga Daffa jauh lebih kuat daripada tenaganya apalagi dirinya sudah kehabisan tenaga karena mendapat siksaan Sean tadi.


"Aku tidak sanggup Mas," kata Rara dengan menangis.


Daffa segera melajukan motornya ke rumah Sean, padahal hari ini dia rencananya dia ingin pulang ke rumah nya sendiri mengingat besok adalah hari dimana dia akan diwisuda.


Sesampainya di rumah Sean, Daffa membawa Rara masuk namun tiba-tiba Rara pingsan sehingga Daffa mau nggak mau menggendong Rara menuju kamar Sean namun karena kamarnya terkunci dari dalam jadi Daffa membawa Rara ke kamar tamu.


Dari dekat nampak pipi Rara lebam-lebam, lehernya juga memerah, Daffa menggelengkan kepala melihat luka-luka yang ada di tubuh Rara.


"Anda biadab sekali tuan?" batin Daffa dengan mata yang membasah.


Daffa mencoba mengompres luka Rara, dia berharap Rara segera sembuh, beberapa saat kemudian Rara siuman, dia mengeluhkan sakit di seluruh tubuhnya, dia juga ingin melepas tubuhnya karena kulitnya terasa perih jika memakai baju.


"Ra apa yang kamu lakukan?" tanya Daffa.

__ADS_1


Bola mata Daffa membola melihat punggung Rara.


__ADS_2