
Zila tampak malas-malasan keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah ia kenakan. Sesekali wanita itu menguap karna rasa kantuk yang masih mendera. Mungkin karna tadi malam ia begadang sampai larut malam mengerjakan PR yang menguras otaknya. Aroma sedap makanan membuat tatapan Zila langsung mengarah ke dapur, mendadak perutnya langsung keroncongan. Kakinya melangkah ke sana dan mendapati Zidan tengah menggoreng telur mata sapi lalu meletakkannya di atas nasi goreng yang sudah pria itu tata rapi di atas piring.
"Akhirnya kamu sudah bangun. Saya kira kamu bangunnya kesiangan," ucap Zidan yang terselip sindiran di dalamnya.
Zila mendengus sebal mendengarnya. Meskipun begitu, ia tetap mendudukkan dirinya di kursi dekat meja makan. Zidan meletakkan nasi goreng buatannya di hadapan Zila.
"Om masak sendiri?" tanya Zila sekedar basa-basi daripada saling diam membisu.
"Iya. Kamu pikir siapa yang membuat ini? Bisa mati kelaparan saya bila menunggu kamu membuatkan sarapan untuk saya."
Lagi, Zidan kembali melontarkan ucapan yang membuat Zila kesal. Sepertinya pria itu marah karna penolakan Zila yang tak mau dibantu mengerjakan PR. Bagaimana tidak ia tolak, pria galak yang mendadak mesum itu meminta imbalan yang membuat tubuhnya menegang.
"Ayo cepat makan, jangan melihat saya seperti itu," ucap Zidan menyadari tatapan sinis yang Zila berikan padanya.
Wanita itu langsung mengalihkan tatapannya dan mulai memakan nasi goreng yang suaminya buat. Awalnya ia ragu untuk memakannya tapi rasa nasi goreng ini lumayan enak walau sedikit hambar.
"Ini, uang jajan untuk kamu."
Tiba-tiba saja Zidan menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah, dan itu membuat kening Zila mengkerut.
"Nggak biasanya ngasih banyak. Kemarin aja aku cuma dikasih dua puluh ribu," celetuk Zila.
"Jangan banyak protes, Zila. Masih untung saya kasih banyak hari ini uang jajan untuk kamu. Nanti setelah jam istirahat pertama jangan lupa ke ruangan saya."
__ADS_1
"Untuk apa ke sana?"
Zidan tidak menjawab, namun tatapan pria itu sudah menyiratkan sesuatu yang membuat perasaan Zila mendadak tak enak.
•
•
"Tumben rambut di gerai pakai segala pakai syal lagi," ucap Dina ketika Zila baru saja masuk ke dalam kelas. Gadis itu terlihat menertawakan penampilan Zila saat ini.
Bagaimana tidak pakai syal, jejak yang suaminya berikan masih tercetak di lehernya. Padahal sudah ia gosok-gosok, tapi tandanya masih membekas. Bila semua murid melihat tanda merah di lehernya, sudah pasti mereka akan berpikiran negatif padanya.
"Kenapa kamu ninggalin aku kemarin di Bar?"
Pertanyaan Zila membuat Dina yang awalnya tertawa kini mengantupkan bibirnya.
Kini, berbalik Zila yang diam dengan kening mengkerut. Seingatnya Dina ada di sampingnya dan saat itu ia tengah meminum alkohol yang Kayla berikan. Tapi setelahnya ia tidak ingat lagi kecuali saat Zidan...
Triiing
Bunyi bel sekolah membuat lamunan Zila langsung buyar. Ia segera mendudukkan dirinya di samping Dina. Apalagi hari ini pelajaran Bu Arum, guru yang terkenal killer.
"Nanti kita lanjut cerita yang tadi," ucap Zila yang langsung diangguki Dina.
__ADS_1
Sedangkan Kayla menatap Zila yang tak jauh dari tempat duduknya dengan pandangan rumit. Ia penasaran dengan sosok pria yang tiba-tiba membawa Zila pergi dari Bar kemarin. Apalagi dari postur tubuh pria itu begitu familiar baginya. Dan karna pria itu rencananya gagal ingin mempermalukan Zila.
Tak terasa bel istirahat pertama sudah berbunyi. Anak-anak dalam kelas berhamburan keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sejak tadi keroncongan. Berbeda dengan Zila yang keluar dari kelas langsung menuju ke ruangan suaminya. Walaupun ia kesal dengan pria itu, ia tetap mematuhi ucapannya.
Baru beberapa langkah keluar dari kelas mata Zila tak sengaja menangkap sosok Zidan yang tengah berjalan beriringan dengan bu guru Arini. Mereka berdua tampak akrab di tambah bu Arini terlihat tersenyum-senyum kala menatap Zidan yang serius membicarakan sesuatu.
"Ganjen banget," celetuk Zila tanpa sadar. Ia masih berdiri mematung di tempat ia berdiri sekarang tanpa mengalihkan tatapannya dari suaminya yang kini berjalan ke arahnya.
"Lho, Zila. Kenapa diam di tengah jalan? Kamu nggak ke kantin?" ucap bu Arini ketika Zila berdiri di tengah koridor seolah sedang menghadang keduanya.
Zila tak menggubris ucapan bu Arini. Tatapannya mengarah pada Zidan yang terlihat santai dengan raut wajah yang datar. Entah mengapa ada sesuatu yang aneh dalam perasaannya melihat keduanya.
"Saya permisi, Bu, Pak." Zila memilih beranjak dari hadapan keduanya dan kembali menuju kelas.
Zidan membalikkan badannya menatap kepergian istrinya.
Wanita itu semakin mempercepat langkahnya menuju kelas. Hingga ucapan Dina terngiang di telinganya.
"Laki-laki itu baik kalau ada maunya. Kalau kita nggak memberikan keuntungan buat dia, ya tentu dia cari perempuan lain."
______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Maaf ya part kali agak pendek. Soalnya aku nggak enak badan. dan semoga besok bisa nulis part yang lebih panjang lagi:)
Jangan lupa jaga kesehatan untuk semuanya:)