Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Kembali terulang


__ADS_3

Zavieer menggendong dan membawa  Zila keluar dari toilet, sebelumnya ia melihat keadaan di luar terlalu dahulu. Beruntung toilet yang Zila masuki, toilet yang terletak paling ujung dan sepi dari lalu lalang para murid yang lain.


Pria yang mengenakan jaket hitam itu membawa Zila ke belakang sekolah. Di mana di sana ada pintu gerbang yang menghubungkan ke jalan raya. Tentu, rencana yang Zavieer lakukan ini tidak sendiri tapi di bantu oleh orang dalam.


"Ini upah untukmu." Zavieer memberikan begitu banyak lembaran merah pada satpam sekolah tersebut. Bila sudah berhubungan dengan uang, siapapun akan rela melakukan apapun termasuk membantu kejahatan yang Zavieer lakukan sekarang.


"Terima kasih Bos." Satpam itu terlihat sumringah mendapatkan uang yang pria itu berikan hingga tersenyum lebar.


Zavieer hanya mengangguk dan setelahnya masuk ke dalam mobil. Ia menoleh ke arah Zila lalu mengusap pipi wanita itu yang terasa lembut di tangannya.


"Kamu hanya milikku, tidak ada yang boleh memisahkan kita berdua termasuk orang tuamu," ucap Zavieer penuh damba menatap Zila.


Saat hendak menjauhkan tangannya dari wajah Zila, mata Zavieer menajam kala mendapati bercak merah di leher wanita tersebut. Ia menatap lekat-lekat dan menyentuh bagian leher Zila.


"Kissmark? Siapa yang melakukan ini?" desis Zavieer yang mendadak emosi. Hanya ia yang boleh memberikan tanda ini di tubuh Zila.


Siapa pria yang berani melakukan ini?


"Apakah sekarang kamu sudah mempunyai kekasih Zila?" Zavieer mencengkram wajah Zila hingga meninggalkan bekas kemerahan karna cengkraman yang Zavieer berikan.


Andai Zila tidak pingsan, mungkin wanita itu akan berteriak kesakitan karna perlakukan kasar yang Zavieer lakukan sekarang.


"Laki-laki itu harus mati! Tidak boleh ada yang menyentuhmu! Kamu milikku Zila!!"


Zavieer berteriak seperti orang kesetanan. Ia bukan hanya cemburu tapi lebih dari itu. Pria itu memukul-mukul stir mobilnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di tangannya.




"Dina..."


Panggilan Zidan membuat Dina yang baru saja keluar dari gerbang menoleh. Gadis itu mengkerutkan keningnya kala Zidan menghampirinya.

__ADS_1


"Mana Zila? Apa dia masih di kelas?" tanya Zidan menatap Dina. Hampir setengah jam ia menunggu istrinya di tempat biasa.


Gadis itu menggeleng."Saya tidak tahu, Pak. Tiba-tiba Zila tidak kembali lagi ke lapangan saat olahraga tadi. Saya kira Zila izin pulang," jawab Dina, mengingat hari ini para murid di pulangkan lebih awal karna mendadak para guru mengadakan rapat.


Bisa saja Zila pulang lebih dulu karna ada urusan. Karna bukan sekali temannya itu pulang tanpa memberitahu alias membolos.


"Tasnya ada di kelas?"


Dina mengangguk."Tasnya masih ada di kelas, Pak."


Raut kekhawatiran dan cemas mulai terlihat dari wajah Zidan. Dan pikirannya langsung mengarah kejadian kemarin.


"Kamu boleh pergi," ucap Zidan setelahnya Dina beranjak dari hadapan gurunya tersebut dengan rasa penasaran di benaknya. Akhir-akhir ini ia merasa pak Zidan memang memiliki kedekatan khusus dengan Zila.


Zidan kembali masuk ke dalam sekolah. Ada yang janggal dengan kepergian istrinya dari sekolah tanpa meminta izin padanya.


Sementara di sebuah kamar dengan taburan bunga di atas kasur, seorang wanita terbaring tak sadarkan diri di sana. Semerbak aroma bunga mawar dan rokok menyeruak dalam ruangan tersebut. Dan di sisi ruangan tersebut Zavieer duduk di sofa dengan pandangan mata yang tak teralihkan dari Zila. Ya, ia membawa Zila ke sebuah Villa yang tidak terlalu jauh dari pusat perkotaan.


Pria itu meneguk wine di temani sebatang rokok. Ia menunggu Zila bangun dari pingsannya. Sangat mengasyikkan jika ia melakukannya saat wanita itu sadar. Ia akan memberikan memori indah yang tak terlupakan oleh  Zila.


Zavieer bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiri Zila yang terlihat linglung menatap ruangan yang ia tempati sekarang.


"Sudah sadar sekarang?"


Suara serak dan berat Zavieer membuat Zila menoleh. Wajah Zila langsung pucat disertai seluruh badan yang menegang kala menatap Zavieer di hadapannya. Ia menatap kanan kirinya seolah mencari seseorang.


"Ke-kenapa aku ada di sini? Apa yang kamu inginkan?" Suara Zila bergetar dan berusaha melawan rasa takutnya menghadapi Zavieer.


Seberusaha apapun ia agar terlihat kuat nyatanya air mata tak bisa ia kontrol untuk meluruh bebas seolah menggambarkan perasaan Zila saat ini, yaitu takut. Ia benar-benar sangat takut.


Zila refleks menjauh kala Zavieer mendudukkan dirinya di samping ranjang berdekatan dengannya. Wanita itu terlihat was-was. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


"Aku ingin mengulang apa yang kita lakukan dulu," ucapnya disertai seringaian jahat.

__ADS_1


Zila menggeleng kuat. Cukup sekali ia mengalami perlakukan buruk Zavieer yang meninggalkan trauma yang sangat melekat di kepalanya.


"A-aku mohon lepaskan aku. Jangan lakukan itu lagi." Zila menatap memohon pada Zavieer. Hanya kalimat itu yang ia harapkan bisa meluluhkan hati pria itu agar melepaskannya.


Zavieer tak menjawab melainkan bangkit dari sisi ranjang. Dan tanpa aba-aba ia menarik kedua kaki wanita itu yang kini semakin dekat dengannya. Zila  menangis histeris mendapatkan perlakukan ini. Ia takut. Tiba-tiba saja ingatan tiga tahun itu kembali bergulir di kepalanya seperti bencana besar.


Om Zidan! Hatinya berteriak memanggil suaminya.


"Sstt...jangan menangis sayang." Zavieer mengusap air mata yang meluruh semakin deras.


Zila tidak mengatakan apapun kecuali menangis tak mengeluarkan suara. Ia benar-benar shock dan takut.


Tangan Zavieer membelai lembut pipi Zila dan menghirup rakus aroma tubuh yang benar-benar membuat ia mabuk kepayang. Aroma tubuh Zila masih sama seperti tiga tahun yang lalu.


"Lepaskan aku..." jerit Zila serak dan hampir tak terdengar. Ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika tangan Zavieer menelusup masuk ke dalam bajunya lalu mengusap permukaan perutnya.


Kini, tangan Zavieer merayap kebagian celana Zila. Wanita itu semakin histeris dan berusaha memberontak mempertahankan dirinya.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat Zavieer menghentikan kegiatan menyenangkan saat ini. Pria itu menggeram kesal lalu menjauhkan dirinya dari Zila. Ia melangkah ke arah pintu lalu membukanya. Terlihat seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu dan langsung membicarakan sesuatu pada Zavieer yang Zila sendiri tidak bisa mendengarnya.


Dengan badannya yang terasa lemah dan lemas Zila bangkit dari kasur. Ini kesempatannya untuk pergi dari sini. Pandangan matanya mengedar hingga matanya terfokus pada balkon. Baru saja hendak melangkah tarikan yang sangat kasar membuat Zila menubruk dada kokoh Zavieer.


"Ingin kabur? Kamu tidak akan bisa ke mana-mana." Zavieer tersenyum licik. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zila lalu berbisik."Ingin melihat binatang di bunuh?"


Kening Zila mengkerut, apa maksud ucapan pria itu?


_______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2