
Zidan duduk di samping brankar dengan kedua tangan mengenggam tangan kanan Zila. Sedangkan bunda Melati sudah pulang ke rumah, walaupun ada niat ingin menginap di sini tapi Zidan melarang, bukan tanpa alasan pria itu melarang sang bunda menginap di sini.
Selama berada di ruangan itu Zidan hanya diam, namun kedua matanya tak lepas memandangi wajah damai Zila yang terpejam rapat matanya. Meskipun terlihat diam dan tenang dari raut wajahnya, Zidan menahan amarah yang bergejolak dalam dadanya.
Eugh...
Suara lenguhan dan pergerakan Zila di atas brankar membuat lamunan Zidan buyar. Perlahan manik indah itu terbuka, Zila memegangi bagian kepalanya yang di perban. Ia tampak meringis kesakitan merasakan nyeri yang menusuk-nusuk di kepalanya.
"Jangan di pegang nanti makin sakit," ucap Zidan menepis lembut tangan Zila yang menekan bagian perban di kepalanya.
"Sakit..." ringis Zila kesakitan.
"Iya, Sayang. Tunggu sebentar dokter akan segera datang," ucap Zidan berusaha menenangkan Zila seraya mencium sekilas pipi sang istri.
Tidak lama setelah Zidan menekan bel di samping brankar dokter yang menangani Zila datang dengan satu suster yang mendampinginya.
"Apa lukanya terlalu dalam sampai dia kesakitan seperti ini?" Zidan langsung melontarkan pertanyaan nya kala dokter wanita itu sudah berdiri di samping brankar.
"Bukan hanya luka yang cukup dalam saja yang membuat pasien merasakan nyeri seperti ini, tapi karna trauma di kepalanya. Kemungkinan besar benturan yang sangat keras membuat kesadarannya memutar ulang saat kepalanya terbentur," papar dokter itu jelas.
"Apa ini akan sembuh?"
"Tentu, ini hanya sakit sementara saja. Setelah kondisinya sudah membaik dia tidak akan merasakan sakit seperti ini. Untuk sementara saya akan memberikan obat pereda nyeri kepala." Dokter itu menyuruh suster untuk mengambilkan obat yang dia minta.
"Tapi, istri saya sedang hamil, apa boleh mengonsumsi obat seperti ini?" Ia harus benar-benar teliti dan sangat hati-hati untuk obat-obatan yang akan Zila konsumsi karna kondisinya yang tengah hamil.
Dokter itu tersenyum tipis."Anda tenang saja, obat ini aman di konsumsi selama kehamilan."
Dokter itu memberikan tablet obat pada Zidan.
"Anda bisa langsung meminum, kan, obat ini pada istri anda. Jika nyeri masih belum hilang langsung panggil saya lagi. Kalau begitu saya permisi."
Dokter wanita itu berpamitan pergi dari ruangan rawat tersebut dan kini menyisakan Zidan yang menarik lembut tubuh sang istri untuk bangun.
__ADS_1
"Minum dulu obatnya," ucap Zidan memasukkan satu butir obat ke mulut Zila setelahnya memberikan segelas air putih agar obat tertelan.
"Om, aku tadi..."
"Sstt, saya sudah tahu semuanya. Sekarang istirahat lagi ya. Jangan di pikirkan masalah tadi, biar saya yang akan mengurus semuanya." Zidan mengusap air mata yang merembes dari pelupuk mata Zila.
Tindakan yang Kayla perbuat menciptakan rasa trauma di benak Zila. Dan membuat kepalanya sakit bila mengingat itu.
"Saya janji, akan mengurus masalah ini sampai tuntas dan kamu tunggu hasilnya."
Zila menganggukkan kepalanya. Air mata kembali merembes membasahi wajah putih pucat itu. Zidan kembali membaringkan Zila ke brankar dengan penuh ke hati-hatian.
"Masih sakit kepalanya?"
Zila menggeleng lirih. Namun, tangannya bergerak menggapai tangan Zidan."Jangan tinggalkan aku..."
Zidan yang mendengar itu terdiam sejenak dan sedetik kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis terukir di bibirnya. Zila kembali memejamkan matanya, merasakan nyeri di kepalanya yang sedikit mereda. Sebelah tangannya masih setia menggenggam tangan Zidan begitu erat, seolah takut suaminya akan pergi meninggalkannya.
Beberapa menit berlalu, dengkuran halus terdengar lembut di telinga Zidan yang perlahan melepaskan genggaman tangan Zila di tangannya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berniat akan keluar dari ruangan ini sebentar. Sebelum pergi Zidan kembali mengusap wajah Zila.
•
•
"Maaf, ada keperluan apa anda malam-malam mengetuk rumah saya?" tanya Naila yang was-was, apalagi ia hanya berdua saja di rumah ini.
Zidan, pria itu melirik arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 22: 30 malam.
"Perkenalkan saya Zidan Ahmad, guru tempat Kayla sekolah sekarang. Mohon maaf sebelumnya menganggu anda malam-malam seperti ini, apa Kayla nya ada?" tanya Zidan dengan sopan tanpa terlihat kemarahan yang tergambar di wajahnya.
Naila mengangguk dan membuka lebar pintu lalu mempersilahkan Zidan masuk ke dalam.
"Tunggu sebentar ya Pak Zidan, saya memanggil Kayla dulu," ucap Naila tanpa menanyakan lebih lanjut alasan Zidan ingin menemui Kayla.
__ADS_1
Sambil menunggu Kayla datang, Zidan menatap setiap sudut ruangan tersebut yang tampak sederhana, mengingat rumah Kayla terletak di sebuah permukiman yang tidak jauh dari jalan raya. Zidan ingin segera menyelesaikan masalah ini malam ini juga. Tindakan Kayla sudah sangat keterlaluan dan membahayakan nyawa Zila maupun kandungannya.
Tidak lama suara derap langkah kaki membuat perhatian Zidan mengarah pada sumber suara. Tubuh Kayla langsung menegang mendapati Zidan sudah berada di ruang tamu dan menghunuskan tatapan tajam padanya di balik wajahnya yang terlihat tenang. Mama nya hanya mengatakan ada seseorang yang mencarinya tanpa menyebut orang itu siapa.
Kayla meneguk ludahnya susah payah seolah melekat di tenggorokannya. Sekujur tubuh Kayla gemetar dengan keringat dingin yang mulai membasahi.
"Ayo cepat jalannya, Kayla," ucap Naila menarik tangan Kayla yang enggan menghampiri Zidan.
Meskipun begitu, kakinya dengan terpaksa melangkah mendekati Zidan.
Kini, ketiganya sudah duduk di sofa. Kayla tak berani menatap Zidan di sebrangnya, ia hanya bisa menunduk dan menerka-nerka ucapan apa yang akan keluar dari mulut pria itu setelah ia melakukan kekerasan pada Zila. Tapi jujur, ini di luar kendalinya yang di selimuti amarah.
"Saya langsung ke intinya saja," ucap Zidan membuka suara."Saya tidak tahu motif kamu apa sampai melukai istri saya. Yang jelas tindakan kamu ini sudah sangat keterlaluan."
Naila mengkerutkan keningnya mendengar ucapan Zidan.
"Saya mungkin bisa memaafkan tindakan kamu yang kemarin, saat menampar istri saya. Dan saya berpikir kamu akan berhenti untuk melakukan tindakan itu setelah tahu status Zila. Tapi ternyata kamu semakin menjadi-jadi." Zidan tersenyum miring dan dibalik senyuman nya itu menyiratkan sesuatu.
"Jadi, mulai saat ini kamu saya keluar kan dari sekolah Bina Bangsa dan masalah ini akan saya bawa kerana hukum." Mutlak, kali ini keputusan Zidan sudah tidak bisa diganggu gugat walaupun nantinya ia akan mendapatkan kencaman atas tindakannya tersebut karna mengeluarkan salah satu murid karna masalah pribadi.
Tubuh Kayla semakin gemetar dan lidah yang tiba-tiba kaku. Naila bangkit dari tempat duduknya.
"Maksud anda apa tiba-tiba mengeluarkan Kayla dari sekolah, hah? Lalu, kerana hukum, maksudnya apa?" Naila tampak tak terima dengan ucapan Zidan.
Pria itu bangkit dari tempat duduknya."Perbuatannya sebanding dengan hukuman yang akan dia dapatkan. Jika anda ingin mengetahui masalah ini lebih jelas lagi, anda bisa tanya kan langsung dengan Kayla."
Kini, tatapan Naila beralih pada Kayla."Kamu berbuat apa, Kayla?!" tanya Naila dengan sarkas.
Kayla hanya diam dengan air mata yang meluruh dengan sorot mata yang menyiratkan dendam. Bukannya sadar atas kesalahannya, Kayla semakin membenci Zila.
________
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan memberikan like dan komen:)
Tandai kalau typo!