Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Penghinaan


__ADS_3

• Maaf ya bila cerita yang aku buat tidak sesuai realita yang ada. Sehat-sehat buat reader yang baca cerita ini. luv luv💕


Zila memegangi bagian kepalanya yang terasa pusing. Perlahan ia membuka matanya setelah hampir 20 menit tak sadarkan diri. Saat membuka mata Zila sudah di sambut oleh sosok ibu Ani dan dokter jaga yang langsung menghentikan obrolan mereka berdua. Kini, dua wanita itu menatap ke arahnya dengan tatapan yang berbeda, seorang menyiratkan sesuatu.


"Akhirnya kamu sadar. Hampir 20 menit kamu pingsan," ucap dokter jaga yang khusus memberikan pengobatan pada para murid Bina Bangsa.


Zila tampak kikuk, ia bangkit dari brangkar. Tubuhnya terasa sangat lemas. Ingatan sebelum jatuh pingsan di dalam kelas bergulir dalam kepalanya. Ibu Ani menatap lekat muridnya itu seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Apa sebelumnya kamu sering seperti?" tanya bu Ani.


Zila terdiam sejenak mendengar itu dan sedetik kemudian ia mengangguk. Bu Ani dan dokter jaga yang bernama Erni itu saling pandang dengan tatapan yang sulit terbaca oleh Zila.


"Kamu murid yang baik dan jarang melakukan kesalahan ataupun melanggar peraturan sekolah selama ini, tapi..."


Bu Ani menjeda ucapannya. Kening Zila mengkerut tak paham dengan ucapan yang gurunya ucapkan padanya. Dan kenapa tiba-tiba bu Ani membahas masalah ini?


Wanita berusia 50 tahunan itu menghela napas berat."Ibu masih tidak percaya dan tidak berpikir sedikit pun bila ada salah satu murid yang hamil saat dia masih menjalankan pendidikannya di sini."


Deg


Tubuh Zila langsung menegang. Ia menatap bu Ani yang memberikan tatapan kekecewaan padanya. Apa ia ketahuan sedang hamil?


"Dokter Erni sudah memeriksanya dan kamu positif hamil."


Zila menatap dokter Erni yang memberikan tatapan iba padanya seolah ia patut di kasihani dengan kondisinya sekarang. Ia tertunduk, mengigit bibir bawahnya kuat.


"Seperti peraturan sekolah yang ada, kamu mungkin akan di keluarkan dari sekolah ini karna akan merusak citra sekolah."


Air mata Zila langsung meluruh mendengar ucapan bu Ani. Ia menggelengkan kepalanya kuat.


"Jangan, Bu. Aku masih mau sekolah..." Zila tak dapat menahan isak tangisnya. Ia turun dari brangkar dan hampir limbung ke samping bila tidak menyeimbangkan badannya.


Zila menggapai tangan bu Ani. Dokter Erni hanya diam menonton, ia tidak memiliki hak untuk ikut campur masalah ini walaupun dalam hati merasa iba pada Zila. Zaman sekarang anak remaja banyak terjerumus dalam pergaulannya bebas termasuk berhubungan badan tanpa ada status pernikahan.


"Maaf Zila, kali ini kamu tidak bisa bertahan di sekolah ini. Besok panggil kedua orang tua kamu ke sini. Ibu akan mengkonfirmasi masalah ini pada bapak kepala sekolah."

__ADS_1


Air mata Zila semakin meluruh mendengarnya. Bu Ani melepaskan genggaman tangan Zila di tangannya lalu keluar dari ruang UKS. Badan Zila langsung meluruh ke lantai dengan rasa sakit yang menghantam dadanya. Ia tidak ingin putus sekolah karna masalah ini, bukan keinginannya hamil.


Dokter Erni mendekat ke arah Zila. Dokter wanita itu mengusap punggung Zila yang bergetar dengan lembut.


"Sabar ya, Nak. Siapa ayah dari anak kamu? Minta pertanggung jawabannya."


Zila diam tak menjawab, ia sibuk menangisi nasib sial yang ia dapatkan hari ini. Seseorang yang sedari tadi mengintip melalu jendela yang terbuka di ruang UKS tersenyum smirk. Rencana buruk tersusun di kepala gadis berseragam SMA itu pada Zila.


Zila, wanita itu melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kelas. Ia mengusap kasar air mata yang terus meluruh membasahi wajah pucatnya. Rasanya untuk bernapas saja sangat sulit karna rasa sakit di dadanya seolah rongga dadanya di remas sangat kuat. Zila memalingkan wajahnya ketika berpapasan dengan murid yang lain.


Baru saja memasuki kelas Zila di sambut lemparan kertas yang di bentuk seperti bola. Anak murid dalam kelas tersebut melempari Zila dengan kertas bahkan ada yang melempar dengan botol minum. Tangisan Zila semakin tak tertahankan memegangi kepalanya yang mendapatkan lemparan botol minum. Tubuh wanita itu bergetar ketakutan menatap tatapan benci dan marah oleh teman sekelasnya.


Plak!


Tamparan yang sangat keras membuat wajah Zila terhempas ke samping. Ia menatap ke arah Kayla yang mendaratkan tamparan di wajahnya. Zila memegang pipinya yang kini terasa ngilu dan perih.


"J*lang seperti kamu tidak pantas sekolah di sini!" Kayla mendorong Zila sampai membuat wanita itu mundur beberapa langkah.


"Apalagi sekarang hamil anak haram, jijik banget satu kelas dengan J*lang. Sudah berapa kali di gilir laki-laki?" sambung Kayla menatap hina pada Zila yang mengepalkan kedua tangannya.


Kayla menatap puas melihat wajah Zila yang terlihat tertekan.


"Sudah! Jangan ada yang menghina Zila! Berita ini belum tentu benar!" bela Dina dengan suara lantang sesaat sebelumnya diam melihat tindakan buruk semua orang pada Zila.


"Kamu nggak usah bela, Zila. J*lang kayak dia nggak pantas di bela!" ucap Kayla menatap sengit pada Dina.


"Diam! Jaga ucapan kamu, kita tidak tahu kebenaran beritanya kalaupun Zila hamil apa urusannya dengan kamu? Memangnya kalau Zila hamil ngerugiin kamu? Iya?" ucap Dina berusaha membela temannya. Meskipun tak menampik rasa kecewa di benak Dina pada Zila.


Sementara Zila yang kini menjadi objek hanya diam tertunduk di belakang Dina.




Zidan menutup pintu apartemen, pria itu baru saja pulang dari kafe karna urusan pekerjaan. Pria itu melepaskan beberapa kancing atas kemeja yang ia kenakan. Kening Zidan mengkerut mendapati tas Zila sudah berada di atas sofa, ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1: 00 siang seharusnya Zila belum pulang jam seperti ini.

__ADS_1


Kaki panjang Zidan melangkah menuju kamar, baru saja membuka pintu ia sudah di sambut suara tangisan Zila yang sesegukan. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di bantal meredam suara tangisan yang terdengar memilukan.


"Zila, kamu kenapa?" tanya Zidan yang kini duduk di samping kasur. Ia menarik Zila agar bangkit dari kasur.


Ia bisa merasakan tubuh gemetar sang istri. Zila mengangkat kepalanya, ia langsung bangkit dari tengkurapnya lalu berhambur memeluk suaranya.


"Om..." Tangisan Zila semakin menjadi-jadi.


"Kamu kenapa?" Zidan melepaskan pelukan Zila yang enggan melepaskannya tapi Zidan memaksa pelukan itu terlepas.


Mata Zidan langsung melebar menatap pipi Zila yang memar."Ini kenapa?" tanya nya tegas.


"Di tampar!" jawab Zila yang kembali memeluk Zidan.


"Siapa yang menampar kamu?" Raut kemarahan terlihat jelas dari wajah pria berusia 28 tahunan itu.


"Aku di tampar sama Kayla, Om. Terus aku di keluarin dari sekolah karna hamil..." Zila sesegukan mengatakan itu.


"Kamu bilang apa tadi yang terakhir, saya kurang dengar."


Zila berdecak kesal. Ia tidak suka mengulang ucapannya saat moodnya buruk."Aku hamil gara-gara, Om!" teriak Zila.


Badan Zidan langsung kaku mendengarnya. Senyuman lebar terukir di bibirnya.


"Kamu hamil anak saya?" Pertanyaan bodoh itu meluncur di bibir Zidan.


"Iyalah anak Om! Sama siapa lagi aku buatnya!" sentak Zila.


Perut Zidan terasa menggelitik mendengar kabar yang benar-benar membahagiakan itu. Senyuman penuh binar kebahagiaan terlihat di sana.


______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa like dan komennya itu mood booster banget buat aku😇

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2