Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Kapal Azila & Zidan


__ADS_3

"Sayang..." Zidan menggoyang pelan tubuh sang istri yang saa ini sangat nyenyak dalam tidurnya. Beberapa kali pria itu mencium gemas pipi memerah itu.


"Jangan ganggu." Zila menggeram rendah dan menepis tangan Zidan di tubuhnya. Ia semakin mengeratkan selimut yang membalut tubuh polosnya.


Pria itu menghela napas berat. Ia memilih mengenakan pakaiannya terlebih dahulu setelah baru memindahkan Zila ke kamar.


Zidan memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai termasuk pakaian Zila. Setelah selesai mengenakan pakaiannya kini pria itu menarik Zila ke dalam pelukannya lalu  menggendongnya. Wanita itu menggeliat tak karuan dalam gendongan suaminya.


Dengan hati-hati Zidan meletakkan Zila di atas kasur. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 08: 00 pagi dan hari ini ia ada rapat di sekolah.


"Zila, hari ini saya ada rapat, kamu saya tinggal di sini sendirian, ya."


"Hmm..." Zila hanya membalas dengan deheman singkat.


Zidan tersenyum tipis lalu kembali mendaratkan kecupan di pipi Zila. Pria itu menjauh dari kasur lalu membuka tirai yang menutupi jendela terbuat dari kaca itu. Zila mengkerutkan keningnya merasakan biasan cahaya matahari menerpa wajahnya. Zidan menoleh lalu tersenyum menatap sang istri yang tampak terganggu dengan cahaya dari luar namun tak sedikit pun untuk membuka mata.


Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah itu baru berangkat menuju ke sekolah. Untuk saat ini Zila ia larang untuk sekolah sampai keadaan sang istri memungkinkan masuk sekolah kembali. Padahal Zidan ingin Zila homeschooling di rumah saja.


Tiga jam berlalu, dua mata indah itu perlahan terbuka. Zila mengucek matanya lalu mengedarkan pandangnya pada kamar yang ia tempati sekarang. Sepi, itu yang Zila rasakan. Dengan susah payah wanita itu bangun dari kasur lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas di bahu ranjang. Tangan kanan Zila terulur mengambil segelas air putih yang selalu di sedia suaminya. Seperti orang kehausan, Zila meneguk air putih itu sampai tandas.


Perlahan kedua kaki Zila menapak ke lantai yang terasa dingin. Ia turun dari kasur dan tubuhnya hampir limbung jika ia tidak berpegangan pada sisi meja yang ada di sampingnya. Entah mengapa saat bangun tidur pandangan matanya berkunang-kunang serta kedua kakinya melemas. Dengan langkah pelan Zila melangkah menuju ke kamar mandi.


Tidak lama saat wanita itu masuk ke kamar mandi, pintu apartemen terbuka. Tampak Zidan kembali ke apartemen dengan membawa dua  plastik putih besar yang berisi barang belanjaan. Beruntung hari ini rapat hanya berlangsung selama satu jam. Sebelum meletakkan belanjaan itu ke dapur, Zidan menuju ke kamar terlebih dahulu, melihat keadaan sang istri.


Saat masuk ke dalam kamar, ruangan itu kosong. Hanya menyisakan kasur yang sedikit berantakan. Namun, terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Zidan melangkahka  kakinya menuju ke kamar mandi lalu mengetuk pintunya.


"Zila, setelah mandi ke dapur!" ucap Zidan cukup keras. Tidak ada jawaban kecuali gemericik air yang semakin deras di dalam sana. Setelah mengatakan itu Zidan memilih keluar dari kamar untuk membawa barang belanjaannya ke dapur.

__ADS_1


Sekitar beberapa menit membersihkan badannya Zila keluar dari kamar setelah berpakaian. Wanita itu terlihat segar.


"Om, beli apa?" Zila langsung melontarkan pertanyaannya kala melihat Zidan tengah menyusun barang belanjaan yang baru saja di beli ke dalam lemari dapur.


"Saya membeli bahan dapur termasuk cemilan kamu. Biasanya malam lapar, kan?"


Zila mengangguk. Yaa, akhir-akhir ini ia jadi sering bangun malam karna kelaparan. Zidan menegakkan tubuhnya setelah menyusun barang-barang di lemari bawah. Tangan pria itu terulur mengambil sesuatu dalam plastik putih.


"Ini, saya belikan es buah dengan campuran kolang-kaling yang banyak."


Zila terdiam sejenak ketika Zidan menyerahkan itu padanya.


"Memangnya aku minta beliin?" tanya Zila mendongak menatap sang suami yang lebih tinggi darinya.


Kening Zidan mengkerut."Bukannya tadi malam minta ini sampai ngamuk-ngamuk," ucap Zidan mengingatkan bagaimana Zila mengamuk dan berakhir wanita itu tertidur nyenyak setelah kegiatan panas mereka berdua.


Gadis dengan piyama bergambar Doraemon itu melengos pergi dari hadapan suaminya. Tak lupa kedua kaki yang sengaja di hentak-hentakkan, wanita itu persis seperti anak usia lima tahun.


Zidan yang melihat itu hanya bisa memijit pelipisnya. Semenjak hamil Zila menjadi mudah emosi. Mungkin bawaan bayi dalam kandungan sang istri.




Delapan bulan berlalu...


Kini, usia kandungan Zila sudah memasuki usia sembilan bulan. Dan semenjak usia kandungan Zila memasuki tiga bulan, Zidan sudah melarang sang istri untuk sekolah. Bukan apa-apa, pria itu hanya takut terjadi apa-apa dengan kandungan Zila. Apalagi Zila sempat mengalami pendarahan karna terlalu kelelahan.

__ADS_1


"Jelek!" Zila mengepalkan kedua tangannya kala memandangi tubuhnya sendiri di depan cermin. Tubuhnya yang awalnya kurus kini berubah gendut dan sekarang berat badannya hampir 70KG.


Wanita itu melempar kasar dress yang baru saja Zidan belikan. Semenjak tubuhnya seperti ini ia jadi tak percaya diri keluar rumah.


Zila memandangi kedua jarinya yang besar-besar apalagi kakinya yang sekarang membengkak lain lagi dengan wajahnya yang kusam.


"Kenapa lagi, Sayang?"


Zila menoleh ke arah Zidan yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu. Seperti biasa, saat selesai makan malam Zidan akan memberikan susu khusus untuk Zila.


"Badan aku jelek, aku nggak mau ikut Mas Zidan ke pesta!" Air mata menetes dari kedua mata Zila.


Zidan meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja lalu mendekat pada Zila. Pria itu memeluk sang istri yang sudah terisak-isak menangis.


"Istri Mas tidak jelek. Kamu sangat cantik dan lucu." Zidan mengusap lembut punggung Zila lalu mendaratkan kecupan di kening.


Perlahan Zila mendongak menatap suaminya. Zidan mengusap lembut air mata yang semakin merembes membasahi pipi berisi Zila.


"Kata Nita aku jelek. Nanti Mas Zidan cari istri baru."


Zila benar-benar sakit hati dengan ucapan janda anak satu yang rumahnya bersebelahan dengan rumah mereka berdua. Entah kenapa, Nita begitu membenci dirinya semenjak ia memperkenalkan diri sebagai istri Zidan.


"Sstt, jangan didengarkan ya. Perempuan hamil memang seperti ini, bentuk tubuhnya akan berubah, Sayang. Nanti, setelah kamu lahiran kamu akan seperti dulu," ucap Zidan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Zila.


Tangisan Zila sedikit mereda mendengar ucapan suaminya.


______

__ADS_1


Beberapa bab lagi cerita ini akan selesai. Setuju nggak kalau buat seasons 2 nya?! 🙃


__ADS_2