Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Amarah Kayla


__ADS_3

"Ini Sayang, Bunda buatkan jamu supaya kamu cepat hamil. Cukup minum ini satu kali sehari tapi harus rajin juga main di ranjang dengan Zidan," ucap bunda Melati menyerahkan botol itu kepada Zila.


Sementara Zila menatap ke arah suaminya. Ia bingung harus mulai dari mana berbicara dengan mertuanya.


"Eh, kalian berdua kenapa diam? Zila, nggak suka minum jamu?" tanya bunda Melati kala melihat  raut wajah menantunya yang sedikit berbeda seolah menyiratkan sesuatu.


Zidan menghela napas berat lalu mengambil botol jamu itu dari tangan Zila."Dia tidak usah minum ini, Bun."


"Memangnya kenapa? Bunda buatnya susah-susah lho." Raut wajah bunda Melati tampak sedih.


"Zila sudah hamil, jadi tidak perlu minum ini."


Bunda Melati langsung membekap mulutnya mendengar pernyataan itu dari Zidan. Ia mundur beberapa langsung lalu menatap Zila dengan pelupuk mata yang berkaca-kaca.


"Kamu hamil, Zil?"


Zila mengangguk disertai senyuman haru melihat reaksi bunda Melati. Senyuman lebar mengembang di wajah keriput itu, bunda Melati tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia langsung memeluk dan mencium gemas pipi menantunya itu.


"Akhirnya Zidan junior sudah launcing. Bunda akan segera gendong cucu..." Bunda Melati memekik kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.


Zidan mendekati Zila, lalu melingkarkan tangannya di bahu sang istri."Kamu bisa lihat, kan, kehamilan kamu menjadi kebahagiaan orang lain."


Zila mendongak menatap suaminya. Ucapan yang Zidan lontarkan seolah merobohkan tembok yang wanita itu bangun yang menganggap kehamilan di usia muda merenggut semua kebebasannya padahal nyatanya tidak.


"Bunda kira kemarin hasilnya negatif, eh ternyata positif. Aduh, ini hadiah yang sangat membahagiakan tahun ini. Akhirnya bisa pamer cucu juga sama teman-teman. Nanti kamu ikut Bunda ya."


Air muka Zila langsung berubah mendengar kalimat terakhir mertuanya. Perasaannya mendadak tidak enak.


"Bolehkan Zidan Bunda bawa Zila. Sudah lama lho kita berdua nggak quality time." Wanita paruh baya itu menatap penuh harap pada putranya.


Tanpa pikir panjang Zidan langsung mengangguk mengiakan. Zila berdecak pelan menatap suaminya. Ia benar-benar tidak ingin pergi ke mana-mana. Tapi ia juga tidak memiliki kuasa untuk menolak ajakkan mertuanya.


"Syukur lah. Kalau begitu Bunda panggil bibi dulu buat masak besar. Anggap aja merayakan kehamilan Zila. Atau nanti kita buat pesta di rumah ini agar semua warga komplek tahu kalau Zila hamil?" Bunda Melati tersenyum-senyum dengan apa yang ia rencananya dalam kepalanya.


Maklum cucu pertama jadi harus gebyar perayaannya.


Bahu Zila langsung merosot setelah bunda Melati pergi dari hadapan mereka berdua.


"Mau minum?" tawar Zidan memberikan segelas air es yang lalu di terima Zila, wanita minum seperti orang yang sangat kehausan.


"Aku capek."


"Kalau capek istirahat. Mau saya gendong?"


Bukannya senang mendapatkan tawaran seperti itu dari suaminya, Zila malah memasang wajah masamnya. Padahal ucapan yang ia lontarkan itu sebagai kode agar Zidan melarang bunda Melati mengajaknya pergi keluar tapi malah sebaliknya. Huh, dasar suami tidak peka!


Semua orang berkumpul di meja makan yang sudah berjejer banyak makanan di atas meja. Bunda Melati menyusun hidangan di atas meja tersebut. Kali ini makanan yang dibuat sangat banyak tentu untuk merayakan kabar membahagiakan ini.


"Zila harus makan yang banyak, ya. Perempuan hamil itu mudah capek jadi harus banyak makan."


"Sudah, Bun, ini terlalu banyak." Zila menghentikan pergerakan tangan bunda Melati yang menaruh banyak nasi di piringnya bahkan sudah menggunung.

__ADS_1


"Ih, ini terlalu sedikit Sayang. Zila harus makan banyak, lihat tuh badan kamu aja kurus krempeng kayak gitu, pasti Zidan jarang ngasih makan, ya," celetuk bunda Melati asal.


"Bunda..." tegur Zidan yang tak terima dengan tudingan sang bunda. Sedangkan yang di tegur tampak tak menghiraukannya.


"Zidan, kamu jadi pindah rumah?" tanya ayah Ratno di sela-sela menyantap makanannya.


"Jadi, Yah. Pembangunannya baru 80% dan mungkin minggu depan rumah itu akan jadi, karna para pekerja tinggal menyelesaikan bagian belakang dan halaman rumah," balas Zidan.


Ya, sebelum menikah dengan Zila, Zidan sudah membangun sebuah pribadi yang tidak jauh dari sekolah tempat ia mengajar dan tempat itu sangat strategis karna berdekatan dengan toko pembelanjaan.


"Terus apartemen kamu mau diapain kalau kamu pindah dari sana?" Kali ini bunda Melati yang melontarkan pertanyaannya.


Sedangkan Zila hanya diam menikmati makanannya dan menyimak obrolan ketiganya.


"Sepertinya akan aku jual, Bun. Lumayan kan uangnya buat modal usaha kafe."


"Jangan usaha kafe saja Zidan, cari usaha yang lain contohnya seperti usaha di bidang jasa. Setidaknya nanti bisa di wariskan ke anak," usul ayah Ratno.


"Memangnya Om Zidan kerja apa selain guru?" Ucapan Zila membuat ketiganya kompak menatap Zila.


"Lho, kamu belum tahu pekerjaan Zidan?" Bunda Melati menampilkan ekpresi terkejutnya.


Dengan polos Zila menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini keterlaluan Zidan, seharusnya istri di kasih tahu kerjaan kamu apa," ucap bunda Melati.


"Itu tidak terlalu penting Bunda, yang penting uang ngalir terus untuk Zila."


"Benar juga kata kamu, Zidan," ucap bunda Melati membenarkan ucapan putranya. Kini, tatapan wanita paruh baya itu beralih pada Zila."Zidan itu punya restoran. Dia memang dari dulu ingin buka usaha kuliner. Cabang restoran Zidan juga ada di Bali. Kapan-kapan minta Zidan bawa kamu ke sana, ya," paparnya.


Zila terperangah mendengarnya, ia menatap suaminya dengan tatapan percaya. Berarti banyak uang dong.




"Wah, nggak nyangka ya Zila sudah hamil saja."


Ucapan salah satu teman sosialita bunda Melati, membuat wanita paruh baya itu semakin mengembangkan senyuman lebarnya. Saat ini bunda Melati yang di temani Zila tengah menghadiri pesta salah satu teman sosialitanya yang berlangsung di sebuah gedung hotel.


"Kan sudah aku bilang dari awal kalau menantu ku ini subur, pastilah cepat hamil. Di usia seperti ini lagi masa subur-suburnya, jadi kalau kalian mau cari mantu cari yang masih muda seperti ini."


Bunda Melati tersenyum penuh bangga. Apalagi kehamilan Zila menjadi kesempatan untuk bunda Melati pamer pada semua orang seolah kehamilan Zila sesuatu kebanggaan untuknya.


"Rencananya juga, aku mau ngadain pesta syukuran untuk menantu kesayangan ku ini." Bunda Melati menatap Zila di sampingnya yang hanya tersenyum kikuk, bingung harus bereaksi apa lagi.


Sepanjang pesta berlangsung Zila hanya diam dan menikmati makanan yang tersedia di sana. Tidak ada satu orang pun yang ia kenal di sini, setidaknya ia tidak mati kutu seperti orang linglung di sini.


Tatapan Zila tak sengaja bertubrukan dengan seseorang yang dari tadi memperhatikannya dengan tatapan tajam. Kayla, gadis itu tak menyangka akan bertemu dengan Zila. Ia hanya menemani orang tuanya menghadiri pesta ini.


Zila mengalihkan tatapannya ke arah lain, asalkan jangan bertatapan dengan Kayla. Kalau ia tahu Kayla menghadiri pesta ini sudah pasti ia menolak ikut ke sini.

__ADS_1


"Bunda, aku ke toilet dulu, ya," ucap Zila yang mendadak merasa mual.


"Mau Bunda antarkan ke toiletnya?" tawar bunda Melati. Zila menggeleng.


"Nggak usah, Bun, aku cuma sebentar."


Wanita paruh baya itu mengangguk.


Zila bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke toilet yang tidak jauh dari pesta itu berlangsung. Baru saja masuk Zila memuntahkan cairan kental di wastafel. Selalu seperti ini, semenjak hamil ia selalu mual dan muntah-muntah. Zila terus memuntahkan isi dalam perutnya sampai rasa ingin muntah itu hilang.


Zila membersihkan mulutnya dan menatap pantulan bayangan dirinya dalam cermin, namun kali ini seseorang sudah berdiri di belakangnya. Air muka Zila terlihat kesal melihat Kayla. Ia berbalik badan.


"Pakai cara kotor apa sampai pak Zidan jadi suamimu?" tanya Kayla.


Zila memilih tak menggubris pertanyaan Kayla karna menurutnya tidak ada gunakan. Ia melangkahkan kakinya hendak keluar dari toilet tapi dengan gerakkan cepat Kayla mendorong dirinya hingga tubuhnya membentuk wastafel cukup kencang.


"Apaan sih!" Zila menatap marah pada Kayla.


"Jawab pertanyaan aku! Pasti kamu pakai tubuh kamu supaya pak Zidan terikat dengan kamu! Dan anak yang kamu kandung ini hasil anak hubungan gelap!"


Plak!


Belum sempat Kayla melanjutkan ucapannya Zila sudah melayangkan tamparan sangat keras.


"Jaga ucapannya mu itu! Rasa iri dan dengki kamu itu membuat kamu tidak bisa berprasangka baik dengan ku! Kamu kira aku perempuan nakal yang dengan mudah menyerahkan tubuhku pada laki-laki? Iya? Tapi sayangnya tuduhan kamu itu tidak benar, bapak Zidan sendiri yang melamar aku. Kamu tahu sendiri kan laki-laki manapun akan menyukaiku," ucap Zila memanas-manasi Kayla yang sudah terbakar.


Kayla mengepalkan kedua tangannya dan hendak melayangkan tamparannya namun langsung terhenti karna ucapan yang Zila lontarkan.


"Menamparku sama saja membahayakan dirimu. Suamiku pemilik sekolah dan bisa saja menendang kamu dari sekolah. Atau lebih parah lagi setelah di keluarkan sekolah lain tidak akan menerima kamu karna memiliki kelakuan buruk karna sudah berani menampar istri pak Zidan."


Zila menatap mengejek pada Kayla yang perlahan menurunkan tangannya. Tubuh gadis itu bergetar menahan amarah yang sudah di ubun-ubun namun gagal untuk menyalurkan amarahnya yaitu menghajar Zila.


Ternyata seru juga menggunakan kekuasaan suaminya, Zila bersorak penuh kemenangan dalam hati.


Melihat tidak ada perlawanan dari Kayla, Zila memilih keluar dari toilet.


"akh..."


Seolah kerasukan dadakan Kayla menarik rambut Zila lalu membenturkan tubuh wanita itu berkali-kali sampai ia puas ke tembok hingga bercak darah menetes di lantai.


√ Visual Azila Si Mantu Kesayangan



______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa like dan komennya ya.


See you part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2