Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Aku Mau Kerja


__ADS_3

"Sudah selesai memilih bajunya?"


Zila tersentak ketika suaminya sudah berdiri di sampingnya. Ia mendongak menatap Zidan. Lain lagi dengan Dina yang terdiam kala kedatangan gurunya di SMA dulu. Mata Dina menelisik penampilan termasuk rupa Zidan yang masih sama seperti beberapa tahun lalu. Bahkan pria itu semakin tampan.


"Nggak jadi! Mau pulang!" Wajah Zila terlihat masam. Ia melirik sekilas pada Dina. Moodnya langsung hancur karna ucapan teman lamanya. Membahas secara brutal hal negatif tentang berumah tangga.


"Katanya bajunya sudah nggak muat lagi, jadi kenapa nggak jadi beli yang baru? Apa ada masalah, Sayang?" tanya Zidan lembut seraya mengusap kepala sang istri. Ia tahu sekali sifat Zila. Apalagi semenjak hamil yang kedua wanita itu mudah sekali merajuk dan mood yang mudah berubah-ubah. Lebih parah dari hamil pertama.


"Aku jelek jadi buat apa beli baju. Badan aku juga jelek!" rengek Zila yang semakin menjadi-jadi.


Zidan menarik Zila dalam pelukannya, tangannya mengusap lembut punggung sang istri. Ia melirik Dina yang diam mematung. Ia tak menyangka Zila tersinggung dengan ucapannya. Padahal ia mengucapkan itu sesuai sudut pandangnya.


Dina tersenyum kaku kala Zidan menatapnya sekilas.


"Kan beli baju bukan karna kamu cantik atau tidak, tapi karna perlu, Sayang," ucap Zidan berusaha membujuk sang istri."Kamu juga masih sangat cantik, jadi jangan merendahkan diri merasa jelek."


Zila diam. Ia mendongak menatap suaminya yang kini tersenyum lembut padanya. Kedua tangan Zila melingkar erat di pinggang Zidan, menyembunyikan wajahnya di dada kokoh itu.


"Kamu, Dina?"


Dina yang ditanya seperti itu oleh Zidan dengan cepat mengangguk. Ia kira pria itu akan lupa dengannya.


"Apa kabar, Pak?" tanya Dina sekadar basa basi agar ia tak mati kutu karna kecanggungan ini.


"Saya baik," balas Zidan. Pria itu kembali menatap Zila."Kalau begitu kita ke restoran dulu, kamu belum makan siang, kan?"


Zila diam, tak ingin bersuara sama sekali. Mood wanita itu benar-benar buruk.


"Dina, kamu ikut kami berdua ke restoran. Pasti kamu dan Zila ingin banyak mengobrol," ajak Zidan. Karna hampir bertahun-tahun istrinya tak pernah bertemu lagi dengan teman-teman masa sekolahnya dulu.


Dina mengangguk kaku. Zila melirik sekilas pada teman lamanya itu. Hatinya masih dongkol dengan ucapan Dina. Baru saja bertemu wanita itu sudah membuat ia marah dan tersinggung.


Ketiganya berjalan beriringan menuju ke restoran yang ada dalam mall tersebut. Zila mendudukkan dirinya di kursi yang suaminya pilihkan. Saat ini ketiganya berada di restoran seafood.

__ADS_1


"Ini, silahkan dipilih menu makanan dan minumannya." Pelayan restoran datang menghampiri ketiganya lalu memberikan buku menu pada ketiganya.


"Kamu mau makan yang mana, Sayang?"


Zila menggeleng kala suaminya bertanya. Ia tak berselera makan walaupun perutnya terasa perih karna kelaparan. Zidan menghela napas pelan lalu memilih menu makanan yang sekiranya Zila suka atau memakannya nanti.


"Kamu pesan juga, biar saya yang bayar," ucap Zidan. Dina mengangguk kaku.


Sebenarnya wanita itu tidak ingin berada di sini, tapi karna tak enak hati ia tidak memiliki daya untuk menolak ajakan ini apalagi Zidan merupakan gurunya di sekolah dulu.


"Kamu sekarang kerja?"


Pertanyaan terlontar dari bibir Zila setelah beberapa menit memilih diam. Mata Zila memperhatikan penampilan Dina yang mengenakan blazer biru navy dipadukan dengan rok mini selutut.


Dina mengangguk."Iya, aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Andai kamu tidak menikah kamu mungkin juga akan bekerja kantoran atau menjadi wanita karier di luaran sana." Dina terlihat excited mengatakan hal tersebut. Dan sedikit membanggakan posisinya sekarang.


Zidan menggengam tangan Zila kala melihat perubahan raut wajah sang istri.


Sepertinya wanita hamil itu tak ingin kalah.


Dina langsung terdiam. Matanya menatap Zila yang tampak manja dengan suaminya. Apalagi tatapan teman lamanya itu sangat menyebalkan baginya. Dulu mereka berdua sangat akrab tapi setelah tahun-tahun berlalu mereka seperti orang asing saat kembali dipertemukan.




Malam semakin larut namun Zidan masih sibuk dengan lembaran kertas di tangannya. Ia harus menyelesaikan ini semua sebelum besok. Suara pintu yang terbuka membuat perhatian pria berusia 34 tahun itu teralihkan. Zila, wanita itu masuk ke dalam ruang kerja pribadi suaminya. Mata wanita itu terlihat sayu.


"Masih lama nyelesainnya?" tanya Zila yang kini berdiri di samping Zidan.


Wanita itu mengusap-ngusap perutnya dari balik piyama berwarna pink. Matanya menatap pekerjaan yang tengah suaminya selesaikan.


"Ini sudah tengah malam, Zila. Sebaiknya kamu tidur."

__ADS_1


Zila tak menjawab melainkan mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana. Wanita itu menghela napas panjang.


"Mas..."


"Hmm, apa Sayang." Zidan menoleh sekilas pada istrinya.


Zila terdiam sejenak sebelum melontarkan ucapan pada suaminya."Aku mau kerja, nanti setelah anak kita lahir, aku mau kerja."


Pergerakan tangan Zidan terhenti. Ia kembali menoleh ke arah Zila. Tiba-tiba saja istrinya membahas masalah ini.


"Buat apa kerja, kalau semua kebutuhan kamu sudah Mas penuhi. Kamu cukup di rumah menjaga anak kita dan melayani Mas di ranjang."


"Iih, Mas jangan bercanda." Zila merengek kesal. Ia merasa suaminya tengah mengejeknya.


"Aku mau kayak__"


"Kalau kamu bekerja hanya untuk mengikuti orang lain sebaiknya jangan," sela Zidan memotong ucapan Zila.


Pria itu bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah mendekati Zila. Wanita itu menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang saling bertautan. Zidan menghela napas berat melihatnya.


"Kamu benar-benar mau kerja?"


Zila yang mendengar itu mendongakkan kepalanya lalu mengangguk antusias. Tak lupa senyuman yang terpatri di wajahnya.


"Besok, nanti Mas ajak kamu ke tempat kerja yang membutuhkan karyawan baru."


Kedua mata Zila membulat sempurna mendengar hal tersebut."Di kantor?"


Zidan mengangguk."Iya." Anggap saja keinginan Zila saat ini karna keinginan cabang bayi. Entahlah, sikap wanita itu masih seperti anak kecil mungkin karna ia yang terlalu memanjakan. Namun, istrinya adalah ibu yang terbaik untuk anak-anaknya.


______


Apa kalian sudah puas sampai part ini? Atau mau lanjut?

__ADS_1


__ADS_2