
"Jangan bergerak!"
Suara keras seorang polisi yang mengancungkan pistol pada Zavieer, membuat pria itu menggeram penuh kekesalan. Sedangkan Zila dibantu satu orang polisi memapah Zidan keluar dari kamar. Tentu, Zidan tidak mungkin datang ke sini tanpa melakukan persiapan yang matang termasuk menghubungi polisi. Karna ia tahu Zavieer senekat apa termasuk melukainya seperti ini.
"Ayo Pak, cepat bawa suamiku ke rumah sakit..." lirih Zila yang menangis sesegukan melihat keadaan Zidan.
Sementara pria yang ditangisi merasa hatinya menghangat dan perutnya terasa menggelitik mendengar Zila mengakui statusnya bagi wanita tersebut.
"Baik, Dek. Kamu jangan khawatir, kita akan membawanya ke rumah sakit."
Polisi membantu memasukkan Zidan ke dalam mobil setelah Zila membuka pintu mobil. Dan tak lama Zavieer di geret paksa keluar dari vila setelah sebelumnya memberontak dan hendak kabur. Mata Zavieer menatap penuh dendam pada Zidan yang kini berada dalam mobil.
Andai Zavieer bisa membunuh pria itu maka ada kepuasan dalam benaknya, tapi sekarang ia kalah dan harus kembali jadi tahanan polisi. Segala ungkapan kebencian dan kemarahan terus terlontar dalam hatinya.
Suara sirena mobil polisi menjadi pusat perhatian para penduduk yang tinggal tidak jauh dari villa. Di mobil yang berbeda dengan Zavieer, Zila menangis sesegukan menatap Zidan yang dari raut wajahnya terlihat tenang. Tidak ada tanda-tanda pria itu blingsatan kesakitan kecuali Zila yang menangis histeris seolah suaminya di ujung maut.
"Jangan menangis, simpan air matamu itu, saya tidak apa-apa," ucap Zidan menatap sendu Zila. Segaris senyum terukir di bibir pucat Zidan.
Zila menggeleng kuat."Nggak, ini semua gara-gara aku. Maafin aku, Om..." lirih Zila sampai terbatuk-batuk karna terlalu lama menangis.
Tangan Zidan terulur mengusap puncak kepala istrinya walaupun pergerakan yang ia lakukan menciptakan rasa sakit dibagian perutnya yang terluka.
"Jangan merasa bersalah seperti itu, sudah tugas saya menjaga kamu. Kamu bukan hanya sekedar istri tapi seseorang yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya."
Ucapan yang Zidan lontarkan mampu menyentil hati Zila. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya menatap netra sehitam malam itu. Zila langsung menundukkan kepalanya dengan rasa panas yang menjalar di kedua pipinya. Sebelah alis Zidan terangkat melihat reaksi Zila. Mendadak wanita itu langsung diam membisu, tidak ada tangisan yang terdengar dari mulut mungil itu.
Kini, mobil polisi yang menjadi tumpangan keduanya sudah sampai di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari Villa. Polisi pria dengan postur tubuh besar itu kembali membantu Zidan keluar dari mobil. Sedangkan Zila segera memanggil-manggil suster untuk segera melakukan tindakan mengobatan pada suaminya.
•
•
__ADS_1
"Zila!" Suara keras bunda Melati membuat Zila yang tengah berdiri di depan ruangan tempat Zidan di obati sekarang, menoleh ke arah sumber suara.
"Zidan mana, Nak? Apa dia baik-baik saja?" Raut wajah bunda Melati penuh kekhawatiran dan panik. Bagaimana tidak panik, Zidan anak semata wayang dan aset berharga mereka.
"Om Zidan masih di dalam, Bun." Zila menjawab dengan kepala tertunduk. Ia merasa bersalah atas musibah yang menimpa Zidan apalagi melihat wajah kekhawatiran dari mertuanya membuat rasa bersalah itu semakin besar
"Memangnya Zidan kenapa sampai ditusuk orang? Padahal Zidan itu nggak suka cari keributan dengan orang lain apalagi sampai seperti ini," cerocos bunda Melati.
"Ini karna aku, Bun."
Ucapan Zila membuat bunda Melati langsung terdiam. Ia menatap rumit pada menantunya tersebut.
"Maksudnya apa?"
Zila menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan mertuanya."Karna menyelamatkan aku, Om Zidan jadi kayak gini. Maafkan aku Bunda." Ia memilin ujung bajunya takut-takut mendapatkan semburan kemarahan sang mertua.
Hening beberapa saat.
Raut kekhawatiran dari wajah wanita paruh baya itu langsung menghilang dan tergantikan dengan tatapan hangat pada menantunya. Berbeda dengan Zila yang mengkerutkan keningnya dengan perubahan mendadak bunda Melati.
"Suami itu harus seperti itu, tapi Bunda harap Zidan baik-baik saja. Jangan sampai kamu jadi janda muda," ucap bunda Melati yang terlalu jauh dari pembahasan.
Berbeda dengan Zila yang hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapan sang mertua. Namun, rasa lega membuat ia tenang.
Baru saja bunda Melati hendak kembali membuka suara, pintu tempat ruangan Zidan berada sekarang terbuka. Zila langsung menghampiri dokter pria yang mengobati suaminya tersebut keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?" tanya Zila penuh kekhawatiran.
Sementara bunda Melati sudah masuk ke dalam ruangan tempat putranya berada sekarang. Ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Zidan. Sementara suaminya, Retno sudah di jalan menuju ke rumah sakit ini.
"Anda tenang saja, pasien baik-baik saja. Luka dibagian perutnya tidak terlalu dalam. Hanya perlu istirahat total tanpa melakukan aktivasi berat untuk proses pemulihan," jawab dokter pria yang mengenakan kaca bening itu.
__ADS_1
"Berarti harus di rawat?" Zila kembali melontarkan pertanyaannya.
Dokter itu menggeleng."Tidak perlu. Karna kondisinya tidak terlalu parah. Lagi pula pasien juga menolak untuk di rawat. Nanti suster akan memberikan resep obat untuk anda tebus. Kalau tidak ada pertanyaan lagi saya permisi."
Dokter pria itu berlalu pergi dari hadapan Zila setelah tidak ada pertanyaan lagi.
"Lain kali kalau mau menyelamatkan istri itu lebih hati-hati lagi Zidan. Kalau mati bagaimana? Untung luka di perut kamu tidak terlalu dalam." Baru saja masuk, bunda Melati langsung cerocos panjang lebar pada putranya.
Zidan menghela napas berat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Bundanya memang sangat cerewet jika ia sakit apalagi mengalami luka seperti ini.
"Om Zidan..." Suara lirih Zila membuat keduanya menatap ke arah Zila yang kini melangkah menghampiri mereka berdua."Maafkan aku. Apa masih sakit perutnya?"
Entah sudah berapa kali wanita itu mengucapkan kata maaf pada suaminya. Seolah yang menimpa Zidan sepenuhnya karna kesalahannya.
"Perut saya sudah tidak sakit lagi. Dan saya mohon berhenti meminta maaf dengan saya, Zila," ucap Zidan tampak tak suka.
"Betul kata Zidan, kamu tidak perlu minta maaf. Tugas suami memang kayak gitu. Sekarang keadaan Zidan sudah membaik. Yang terpenting kamu harus merawat Zidan dengan sepenuh hati, kalau perlu jangan jauh-jauh dari Zidan," ucap bunda Melati menimpali.
Zila mengangguk paham dengan petuah mertuanya tersebut.
"Luka di leher kamu tidak diobati, Zila?" tanya Zidan menatap bagian leher istrinya yang lecet.
Zila menggeleng."Tidak perlu, Om. Luka nya tidak terlalu parah."
"Harus diobati, jangan dibiarkan begitu saja, nanti infeksi. Bunda, tolong panggilkan suster untuk mengobati Zila," ucap Zidan melirik bunda Melati di sampingnya. Zila kembali menggeleng menolak, namun Zidan tak peduli dengan penolakannya.
Wanita paruh baya itu mengangguk. Sebelum pergi bunda Melati berbisik pada Zidan. "Manfaatkan kondisimu sekarang."
_______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.