Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Kemarahan


__ADS_3

Tubuh Zila merosot ke lantai setelah mendapatkan perlakuan kasar oleh Kayla. Darah segar mengotori lantai toilet tersebut yang menetes dari kepala Zila yang begitu banyak mengeluarkan darah.


Kayla terlihat sangat puas melampiaskan kemarahannya pada Zila. Tidak ada rasa bersalah ataupun prihatin dengan keadaan menyedihkan Zila saat ini. Kayla sedikit merendahkan tubuhnya lalu mencengkram  pipi Zila.


"Ini tidak seberapa dengan sakit hati yang aku rasakan!" Setelah mengatakan itu Kayla menghempaskan wajah Zila dengan kasar.


Sedangkan Zila saat ini sudah tidak sadarkan diri. Kayla mencuci tangannya yang terkena darah Zila lalu berbalik badan hendak keluar, baru berbalik badan raut wajah Kayla langsung berubah terkejut.


Di depan pintu toilet yang sudah terbuka lebar bunda Melati benar-benar shock mendapati menantunya dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Ia menatap Kayla yang terlihat jelas raut wajah yang terkejut bercampur takut.


"Kamu apakan menantu saya!"


"Akh...sakit." Kayla memekik kesakitan kala rambutnya di tarik kasar wanita paruh baya itu.


"Lepas, sakit." Kayla berusaha melepaskan cengkraman tangan bunda Melati di rambutnya yang semakin di tarik.


"Berani-beraninya kamu melakukan ini!" ucap bunda Melati penuh emosi.


"Aku tidak melakukan apapun, Zila sendiri yang mulai," kilah Kayla membela diri.


Bunda Melati mendorong kasar Kayla hingga tubuh gadis itu membentur tembok cukup keras. Bunda Melati menghampiri Zila yang tersandar di tembok dan sudah tak sadarkan diri. Tubuh wanita paruh baya itu bergetar menatap darah yang terus merembes dari kepala Zila.


Sedangkan Kayla sudah melarikan diri entah ke mana, yang jelas gadis itu di selimuti ketakutan karna perbuatan bejatnya diketahui oleh orang tua pak Zidan.


__ADS_1



Zidan melangkah lebar menyusuri koridor rumah sakit. Raut kekhawatiran dan cemas sangat kentara di wajah pria itu. Setelah mendapatkan kabar dari bunda Melati bila Zila dilarikan ke rumah sakit, ia langsung meluncur ke sini. Saat ini pikiran Zidan benar-benar tak karuan.


"Bunda, Zila mana?" tanya Zidan yang kini menghampiri bunda Melati yang duduk di kursi besi.


Wanita paruh baya itu bangkit dari tempat duduknya.


"Zila masih di dalam Zidan," jawab bunda Melati yang berusaha menahan isak tangisnya. Baru saja bahagia karna kabar kehamilan Zila, sekarang ia di selimuti kesedihan dengan kondisi memilukan menantunya.


"Kenapa Zila bisa seperti ini, Bun? kalau tahu Zila akan seperti ini aku tidak akan mengizinkan Bunda membawa Zila pergi." Zidan mengusap frustasi wajahnya.


"Kenapa kamu menyalahkan Bunda! Jelas-jelas yang salah gadis itu, gadis yang sudah membuat Zila seperti ini!"


Kening Zidan mengkerut mendengar pernyataan bunda Melati." Maksud Bunda apa?"


Zidan terdiam dengan rahang yang mengeras. Ia merogoh saku celananya lalu menghubungi salah satu temannya.


"Terjadinya di mana?" tanya Zidan dengan ponsel menempel di telinganya menunggu sambungan telpon terhubung.


"Di toilet Zidan, di sana juga ada sisa darah Zila di temboknya," jawab bunda Melati yang hampir tak terdengar suaranya karna terlalu lama menangisi kondisi Zila yang saat ini apalagi menantunya itu tengah mengandung.


"Keluarga Azila!" panggilan seorang suster yang keluar dari ruang tempat Zila di tangani membuat bunda Melati segera  menghampiri suster itu dengan raut wajah penuh harap.


"Bagaimana keadaan menantu saya, Sus?"

__ADS_1


"Anda bisa langsung masuk ke ruangan ini, dokter akan menjelaskan kondisi menantu Ibu," ucap suster tersebut.


Bunda Melati segera memasuk ke dalam ruangan tersebut. Saat memasuki ruangan itu bunda Melati mendapati Zila dengan perban yang membalut luka di bagian kepalanya dan kondisi Zila masih tak sadarkan diri.


"Zila..." Wanita paruh baya itu menatap lirih menantunya.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Dan kondisi kandungannya juga bagaimana?" tanya Zidan yang kini sudah berdiri di samping sang bunda setelah menelpon temannya.


"Kondisi istri Bapak baik-baik saja termasuk kandungannya. Hanya saja pasien mengalami shock," papar dokter wanita itu.


Ada sedikit kelegaan dalam benak Zidan mendengar itu  terutama bunda Melati yang sangat mengkhawatirkan kandungan Zila.


"Apa menantu saya harus di rawat di sini, Dok?" Kali ini bunda Melati yang bertanya.


Dokter itu mengangguk."Untuk sementara waktu pasien di rawat di sini dulu sampai kondisinya benar-benar pulih. Nanti, suster akan memberikan resep obat karna luka dibagian kepala pasien akan menimbulkan rasa sakit karna mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya."


Zidan mengangguk paham. Setelah menjelaskan kondisi Zila, dokter wanita itu berpamitan keluar dari ruangan itu setelah tidak ada lagi pertanyaan tentang kondisi Zila.


Tangan Zidan terulur mengusap pipi Zila yang terasa dingin dalam sentuhannya.


"Bunda tidak mau tahu, gadis itu harus kamu temukan. Enak saja dia bisa bebas di luaran sana setelah membuat Zila seperti ini," sungut bunda Melati menggebu-gebu.


Zidan diam tak merespon, ia lebih fokus menatap Zila.


______

__ADS_1


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa like dan komen:)


__ADS_2