
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor sekolah, Zidan terus menggandeng tangan Zila. Beberapa hari ini Zidan selalu membawa istrinya ke manapun, ini cara agar Zila tidak terlalu bosan dan jenuh terkurung dalam rumah. Terkadang wanita itu akan memikirkan hal-hal negatif saat menyendiri contohnya ucapan pedas orang-orang tentang bentuk tubuhnya, maka dari itu Zidan membawa Zila keluar meski hanya di tempat kerjanya.
"Mas, malu..." Zila menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh Zidan kala berpapasan dengan adik kelasnya dulu. Sedangkan teman seangkatannya sudah lulus beberapa bulan kemarin.
"Istri guru kenapa harus malu, hmm?" Zidan menatap Zila di sampingnya. Wanita itu tampak menggemaskan dengan dress pink yang berukuran oversize.
"Tetap aja malu, badan aku gendut."
"Zila, jangan jadikan alasan bentuk tubuh membuat kamu tidak percaya diri. Wajar perempuan hamil tubuhnya sedikit besar. Sini..."
Zidan menarik Zila ke sampingnya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zila.
"Wah, tumben bawa istri, Pak?" ucap bu Arini yang tak sengaja berpapasan dengan keduanya.
Wanita berusia 30 tahunan lebih itu tersenyum ramah pada keduanya. Tidak ada rasa benci di mata bu Arini seperti dulu yang ia tunjukkan pada Zila setelah tahu anak muridnya itu istri dari pria pujaan hatinya. Bu Arini menerima lapang dada sekarang.
"Sengaja saya bawa, jaga-jaga saja," balas Zidan di akhiri tawa ringan.
Bu Arini tersenyum menanggapinya."Namanya juga hamil tua jadi harus lebih siaga lagi Pak Zidan. Semoga saja lahirannya lancar ya. Pasti anaknya nanti mirip Bapak Zidan."
Zila hanya diam menatap interaksi keduanya.
"Kalau begitu saya permisi yang pak Zidan, Zila." Bu Arini berpamitan pada keduanya. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas yang akan ia ajar.
Zidan kembali menggiring Zila menuju ke ruangannya.
__ADS_1
"Selama saya mengajar kamu jangan ke mana-mana ya Sayang. Kalau ada apa-apa bisa minta tolong guru lain."
Zila mengangguk. Zidan membuka pintu ruangannya yang langsung tercium aroma terapi lavender. Mata Zila seketika terpaku pada tumpukan makanan di atas meja termasuk ciki-ciki kesukaannya.
"Ini Mas yang beli?" Zila mengambil satu ciki di atas meja.
"Iya, kamu suka ngemil jadi saya suruh Satpam membelikan di minimarket sebrang. Setidaknya kamu tidak bosen di sini."
Selama kehamilan nafsu makan Zila berkali-kali lipat bertambah dan itu yang menjadi alasan kenapa tubuh wanita itu semakin berisi.
"Duduk dulu di sofa," titah Zidan yang langsung di turuti Zila.
Wanita itu membuka bungkusan ciki lalu memakannya. Sedangkan Zidan tengah menyiapkan beberapa buku paket sebelum mengajar ke kelas 12.
"Zila, Mas pergi mengajar dulu ya. Kalau ngantuk tidur saja di sana." Zidan menunjuk sebuah ruangan yang merupakan kamar pribadi yang sengaja ia buat untuk beristirahat.
"Bayi nya nendang-nendang, Mas. Kayaknya senang di sapa sama ayahnya," pekik Zila merasakan tendangan dalam perutnya. Rasanya sangat geli dan sedikit sakit.
Zidan yang merasakan itu dari telapak tangannya tampak bahagia. Ini adalah momen yang selalu membuat ia bahagia bercampur haru. Zidan menempelkan pipinya di perut Zila. Merasakan tendangan sang anak di dalam sana.
"Apa sakit?" Zidan menegak tubuhnya dan kini menatap sang istri.
"Sedikit aja sakitnya," balas Zila seraya mengusap-ngusap perut buncitnya.
"Anak Papa tidak boleh nakal di dalam sana, kasihan Mama..."
__ADS_1
Zila terkekeh mendengar ucapan suaminya. Ia mengusap rambut tebal Zidan yang memberikan ciuman di perutnya. Ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan untuk Zila. Dan mungkin ia akan merindukan momen ini saat anaknya lahir nanti.
Setelah puas mencium dan mengusap perut Zila, Zidan menegakkan tubuhnya. Ia harus mengajar dan tidak bisa berlama-lama di sini.
"Mas pergi dulu ya, Sayang," ucap Zidan seraya mencium kening Zila. Pria itu mengusap puncak kepala sang istri dan setelahnya keluar dari ruangan itu.
Setelah Zidan pergi, Zila kembali mengambil beberapa makanan yang ada di atas meja. Wanita itu benar-benar tidak bisa menahan n*fsu makannya yang semakin besar
•
•
Dua jam berlalu, kini anak-anak murid Bina Bangsa berlarian keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi nyaring. Para guru keluar dari kelas masing-masing setelah selesai mengajar termasuk Zidan. Pria itu melangkah lebar, tak sabar segera sampai di ruangannya. Kening Zidan mengkerut kala melihat beberapa guru dan murid berkerumun di depan ruangannya tempat Zila berada sekarang.
"Ada apa ini?" Zidan menerobos masuk ke dalam kerumunan itu. Tidak ada yang berkata apapun tapi yang jelas raut wajah mereka terlihat panik.
Saat Zidan masuk ke dalam, dua guru pria menggendong Zila yang sudah bersimbah darah. Lantai di ruangan itu sudah kotor oleh cairan merah milik Zila. Dress yang Zila kenakan sudah berlumuran darah. Mendadak kaki Zidan melemas.
"Istri saya kenapa?!" Zidan mengambil alih tubuh lemah Zila. Wajah wanita itu pucat pasi dengan pernapasan yang memberat
"Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan istri Pak Zidan, tapi yang jelas ibu Ani sudah menemukan Zila seperti ini di kamar mandi. Sepertinya Zila terpeleset," ucap pak Roni menduga.
Tubuh Zidan gemetar, dan kini pandangan matanya beralih pada perut Zila.
Suara sirine ambulan berbunyi nyaring. Di dalam mobil putih itu Zidan tak lepas menggengam tangan Zila. Ia tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Mata pria itu berkaca-kaca menahan rembesan air mata yang ingin terjun bebas membasahi wajah Zidan.
__ADS_1
"Bertahan ya, Sayang..." Zidan mengecup tangan Zila yang mulai terasa dingin.