Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Sebuah ketakutan


__ADS_3

Kita di pertemukan dalam keadaan asing dan kini kita di pisahkan ketika rasa cinta itu melambung tinggi.


___


"Maaf, Bapak tidak bisa ikut masuk ke dalam." Suster berdiri di tengah pintu kala Zidan hendak masuk ke ruang UGD.


"Tolong izinkan saya masuk, istri saya pasti membutuhkan saya," ucap Zidan yang memaksa masuk. Pancaran penuh kekhawatiran dan kesedihan bercampur jadi satu dalam benak Zidan saat ini.


"Tidak bisa, Pak. Anda cukup tunggu di luar." Setelah mengatakan itu, Suster menutup pintu ruangan tersebut dan menguncinya dari dalam.


Zidan menatap nanar pintu yang tertutup rapat itu dengan perasaan yang bergejolak tak karuan. Pria itu mengusap kasar wajahnya dan pakaian yang terdapat bercak darah Zila di sana. Air mata tak sanggup Zidan tahan untuk tidak merembes jatuh membasahi wajahnya. Bayangan Zila akan meninggalkannya membuat rasa takut yang begitu mencekam dan mencekik.


Zidan mondar-mandir di depan ruangan tersebut. Dengan perasaan gelisah dan takut. Mengingat kondisi Zila tengah hamil besar. Ia tidak pernah menyangka Zila akan terpeleset di kamar mandi dan membuat istrinya seperti ini. Terbesit rasa bersalah dalam benak Zidan, seharusnya ia tidak membawa Zila ke sekolah. Seharusnya ia meninggalkan Zila di rumah.


Tapi apa mau di kata bila ini juga bagian dari sebuah takdir.

__ADS_1


Setengah jam mondar-mandir di depan pintu ruang UGD dengan perasaan yang mencekik di rongga dada, kini pintu terbuka lebar menampilkan sosok dokter wanita yang membuka maskernya. Raut wajah dokter wanita itu terlihat mendung membuat perasaan takut dalam benak Zidan semakin menjadi-jadi.


"Bagaimana keadaan istri saya? Lalu, kandungannya juga bagaimana?" tanya Zidan penuh harap menatap dokter Ayu.


Dokter Ayu menghela napas berat."Jika istri anda tidak mengandung, mungkin dia hanya luka ringan saja di bagian panggul atau kepala. Tapi, karna keadaannya tengah hamil membuat kondisinya kritis. Karna benturan yang cukup kuat dibagian pinggul membuat terjadinya kontraksi atau tekanan berlebih yang memicu leher rahim terbuka dan menyebabkan janin masuk ke jalan lahir. Jadi, tidak ada jalan lain kecuali melakukan operasi caesar. Padahal bayi itu belum waktunya lahir tapi keadaannya sekarang sangat darurat."


Mulut Zidan terbungkam saat mendengar penjelasan dokter Ayu. Kedua kakinya mendadak melemas.


"Kami butuh tanda tangan Bapak untuk menyetujui operasi ini."


Suami mana yang tak sakit hati dan menderita dengan apa yang menimpa istri tercintanya apalagi ini menyangkut dua nyawa sekaligus.


"Kami akan melakukan yang terbaik." Hanya kata itu yang keluar dari mulut dokter Ayu. Karna ia menjamin akan menyelamatkan keduanya.


Zidan menggeleng."Bukan jawaban itu yang saya inginkan, tapi apakah istri dan anak saya akan selamat bila melakukan operasi itu?!"

__ADS_1


Zidan kembali menanyakan hal yang sama. Jawaban yang dokter Ayu lontarkan membuat rasa resah dalam benaknya.


Dokter Ayu tertunduk sejenak."Kami hanya bisa menjanjikan akan melakukan yang terbaik untuk istri dan anak anda. Dan hasilnya serahkan pada Tuhan."


Setelah mengatakan itu dokter Ayu berlalu pergi dari hadapan Zidan yang diam membeku.


"Silahkan tanda tangan di sini, Pak." Seorang suster menyerahkan sebuah lembaran kertas yang harus Zidan tanda tangani untuk persetujuan operasi dadakan yang harus Zila jalani.


Pria itu membaca dengan teliti setiap bait tulisan yang tersemat di atas kertas tersebut. Dengan tangan yang terasa berat ia menandatangani surat itu dan berharap Zila selamat.


Zidan belum mengabarkan tentang kabar Zila yang saat ini berada di rumah sakit pada orang tua maupun mertuanya.


______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen cerita ini untuk lanjut ke bab selanjutnya:)


__ADS_2