Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Impian yang pupus


__ADS_3

Tatapan Zila bergulir. Tangannya gemetar serta berkeringat dingin. Bagaimana bisa ia hamil. Seingatnya ia sudah meminum pil KB. Apa jangan-jangan pil yang ia minum salah? Mengingat di dalam laci kemarin terdapat dua botol obat dengan bentuk yang sama persis.


"Bagaimana ini?" lirih Zila. Matanya menatap ke arah perut datarnya. Pendidikannya belum selesai tapi harus mendapatkan masalah seperti ini. Masih begitu banyak keinginan dan cita-cita yang belum tercapai termasuk impiannya yang ingin kuliah ke luar negeri.


Lain lagi bila semua teman sekolahnya tahu tentang kehamilannya. Tentu, itu akan berdampak besar bagi dirinya. Terlalu larut dalam pemikirannya sampai tak sadar Zidan masuk ke dalam toilet. Pria itu merasa khawatir dengan sang istri yang terlalu lama dalam toilet.


"Zila kamu kenapa?" tanya Zidan kala mendapati Zila terduduk di lantai. Raut wajah pria itu tampak cemas berbalut rasa khawatir.


Zila yang menyadari kehadiran sosok suaminya segera bangkit. Dengan cepat ia mengambil tespeck yang ia lempar sebelumnya ke lantai.


"Aku tidak apa-apa." Tanpa menatap Zidan. Setelah mengatakan itu Zila segera keluar dari toilet tanpa memperdulikan tatapan heran suaminya. Bahkan Zidan belum sempat melontarkan pertanyaannya, Zila menjauh darinya.


Wanita itu melangkah lebar dan melewati bunda Melati dan ayah Retno yang terkejut dengan kemunculan menantunya. Wanita paruh baya itu bangkit dari sofa dan hendak menyusul Zila, namun...


Brak!


Suara bantingan pintu kamar yang sangat kasar membuat bunda Melati terkejut bukan main sama halnya dengan ayah Retno. Tidak lama Zidan keluar dari dapur dan hendak menyusul sang istri.


"Zidan, Zila kenapa?" Bunda Melati menahan pergelangan tangan Zidan ketika hendak melewatinya.


Pria itu melirik ayah Retno sekilas dan beralih menatap bunda Melati."Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Zila. Tapi, sepertinya suasana hatinya saat ini sedang buruk."


"Apa jangan-jangan hasilnya negatif? Ya ampun kasihan Zila." Bunda Melati tampak sedih dengan terkaannya."Pasti Zila berharap hasilnya positif, kan?" ucapnya menatap suaminya.

__ADS_1


Sementara Zidan langsung diam mendengar itu. Namun, pandangan matanya menyiratkan sesuatu."Lebih baik Ayah dan Bunda pulang dulu, sepertinya Zila butuh ruang. Maksudku dia mungkin akan lebih tertutup lagi jika kalian masih di sini," ucap Zidan memberikan pengertian.


Bunda Melati mengangguk." Ya sudah, kami berdua pulang. Tapi kalau ada apa-apa dengan Zila langsung telpon Bunda ya." Wanita paruh baya itu sangat khawatir dengan Zila.


"Jaga Zila baik-baik." Ayah Retno menepuk pelan bahu telanjang Zidan, setelahnya berlalu pergi keluar dari apartemen dengan perasaan tak karuan.


Di kamar, Zila membuka laci lalu mengambil dua botol obat di sana. Ia mengetik sesuatu di layar ponselnya setelahnya memfoto pil yang ia konsumsi kemarin. Saat ini jantungnya berdetak lebih kencang dengan badan yang melemas. Ia masih tidak percaya dengan kondisinya sekarang. Tangan Zila terulur menyentuh perut datarnya, di dalam perut ini sudah tumbuh benih yang ia sendiri belum siap untuk mengandungnya.


Suara pintu  terbuka membuat Zila melirik sebatas ekor matanya. Zidan masuk ke dalam kamar, beruntung pria itu memiliki kunci cadangan kamar ini.


"Zila..."


Wanita itu menatap ke arah suaminya yang kini melangkah mendekatinya. Aura yang ditunjukkan Zila tampak suram dan Zidan merasakan hal itu.


"Kamu kenapa?" tanya Zidan menatap lekat wajah Zila.


Sepertinya itu pil menyubur kandungan. Kamu bisa bawa pil itu ke sini supaya mbak teliti lagi.


Zila tercengang membaca pesan dari kakak sepupunya yang merupakan seorang dokter kandungan. Ia meneguk ludahnya kasar. Apa ia yang salah beli pil?


"Kenapa?"


Zila mendongak menatap Zidan."Tidak apa-apa." Ia hendak berbalik badan  namun tiba-tiba ia urungkan. Wanita itu menatap curiga pada suaminya.

__ADS_1


"Ini pil KB. Aku sengaja mengonsumsi ini supaya tidak hamil," ucap Zila seolah menegaskan ia menolak untuk mengandung dalam waktu dekat. Walaupun rencana langsung hancur lebur karna dua garis merah di tespeck. Ia mengatakan ini hanya ingin melihat reaksi suaminya.


"Apa kamu sadar, pilihan kamu itu egois?"


Zila diam. Ia memang egois, tapi ia juga tak ingin impian yang ia rancang jauh-jauh hari langsung pupus. Ia juga tak menyangka di usia semuda ini menjadi istri orang. Bahkan terlintas dipikiran saja tidak pernah.


"Saya memilik hak atas pilihan kamu itu. Termasuk masalah anak," desis Zidan yang tampak auranya tak mengenakan.


Wanita itu mengeratkan genggaman tangannya pada ponsel yang ia pegang sekarang."Sudah, jangan bahas itu lagi."


Seketika mood Zila semakin memburuk. Besok ia harus ke rumah sakit untuk meyakinkan dirinya tentang kehamilan ini, bisa saja tespeck ini salah. Tanpa Zila sadari senyuman samar-samar terukir di bibir Zidan. Senyuman yang menyiratkan sesuatu.


"Apa jangan-jangan Zila kena mental?"


Ayah Retno mendesah lelah mendengar setiap ucapan aneh yang istrinya lontarkan. Setelah keluar dari apartemen bunda Melati terus membahas tentang perubahan sikap Zila tadi.


"Bisa saja, kan, karna hasilnya negatif Zila jadi sedih dan tidak terima? Sepertinya aku harus cari ramuan berkhasiat supaya Zila cepat hamil," ucap bunda Melati sambil sercing-sercing ramuan di internet.


"Kita tidak usah ikut campur dengan urusan mereka berdua. Zila juga belum mengatakan hasilnya negatif ataupun positif," balas ayah Retno yang fokus menyetir mobil.


"Tanpa Zila mengatakan apapun aku sudah tahu jawabannya. Hasilnya negatif. Setiap perempuan juga akan sedih kalau tahu kecebong suaminya gak bisa berkembang biak maka nya hasilnya negatif."


______

__ADS_1


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa like dan komen. See you di part selanjutnya:)


__ADS_2