Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Harapan penuh


__ADS_3

Kebahagiaan berumah tangga itu bukan diawali dari istri. Tapi kebahagiaan rumah tangga di awali suami.


_____


Antara kesedihan dan bahagia bercampur jadi satu dalam benak bunda Melati yang kini tengah memandangi cucunya di luar ruang NICU dan kaca bening sebagai sekat diantara mereka berdua. Bayi mungil itu sudah di pindahkan ke ruang NICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Bayi mungil itu di letakkan dalam sebuah kotak inkubator dan selang ventilator menempel di jalur pernapasannya untuk membantu bayi itu bernapas secara stabil mengingat ia dilahirkan prematur.


"Cucu kita sangat mirip dengan Zidan, Yah," ucap bunda Melati tanpa menoleh ke arah ayah Retno yang berdiri di sampingnya.


Wajah bayi mungil itu benar-benar duplikat Zidan. Hanya bibirnya saja menurun Zila. Rambut bayi itu juga tebal dan kulit yang putih kemerahan. Bunda Melati menatap gemas pada bayi yang belum diberi nama itu.


"Semoga kondisi Zila dan cucu kita segera pulih. Bunda juga tidak sabar ingin menggendongnya."


"Kita doakan yang terbaik untuk mereka berdua." Ayah Retno melingkarkan tangannya di bahu Bunda Melati.


Sedangkan di tempat lain Zidan duduk di sisi brankar dengan pakaian khusus membalut tubuhnya yang diberikan suster sebelum memasuki ruangan tempat Zila berada sekarang. Kedua tangan Zidan terulur mengenggam tangan kanan Zila dan mengusap  lembut tangan putih pucat itu.


"Cepat sadar, Sayang. Melihatmu seperti ini benar-benar menyiksa Mas..." lirih Zidan dengan suara yang serak. Melihat Zila terbaring lemah di brankar sudah membuat dadanya seperti dihantam benda yang sangat keras.

__ADS_1


"Anak kita sudah lahir, Sayang. Walaupun saat ini kondisinya sangat lemah karna lahir sebelum waktunya."


Zidan tertunduk sejenak menahan sesak di dadanya sebelum melanjutkan ucapannya."Cepat sadar. Mas benar-benar tidak berdaya melihat mu seperti ini. Anak kita juga pasti membutuhkanmu..."


Dokter Ayu mengatakan Zila mengalami koma karna pendarahan dan koma yang dialami wanita itu entah akan berapa lama. Mengingat Zila juga mengalami cendera dibagian panggul dan mungkin akan membuat Zila mengalami kelumpuhan sementara.


Terlalu larut dalam kesedihan yang mendekap erat dirinya, Zidan sampai tak sadar bunda Melati masuk ke dalam ruangan itu sedangkan ayah Retno berada di luar ruangan karna hanya dua orang yang boleh masuk ke dalam ruangan tempat Zila di rawat sekarang.


"Zidan..." Panggilan lembut bunda Melati membuat pria itu menoleh.


"Lebih baik kamu pulang dulu ke rumah, mandi sekalian ambil beberapa pakaian dan keperluan anak kamu. Zila biar Bunda yang jaga. Kamu sudah makan?"


Bunda Melati menghela napas berat."Jangan siksa dirimu seperti ini, Zidan. Kalau kamu sakit siapa yang menjaga Zila sama cucu Bunda? Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan perbanyak doa."


Zidan menghela napas panjang lalu mengangguk. Mata pria itu terlihat sayu seperti menahan kantuk. Apalagi jarum jam menunjukkan pukul 10: 00 malam.


"Ooh, iya. Kamu sudah memberitahu tentang keadaan Zila sekarang dengan mertua kamu itu?" tanya bunda Melati.

__ADS_1


"Belum, Bun. Tapi, nanti akan aku hubungi."


Bunda Melati mengangguk."Sekarang kamu pulang dulu, biar Zila Bunda yang jaga. Jangan lupa makan di rumah ya."


Zidan mengangguk lemah dan bangkit dari kursi besi itu. Ada rasa berat meninggalkan Zila. Ia ingin terus berada di samping istrinya sampai membuka mata. Tapi ia juga tidak mungkin menyiksa tubuhnya sendiri yang butuh asupan makanan.


"Aku pamit pulang, Bun."


"Hati-hati, ya. Jangan ngebut-ngebut nyetir mobilnya.




Sebelum meninggalkan rumah sakit, Zidan melihat keadaan putra kecilnya di depan ruangan NICU. Senyuman terukir di bibir Zidan menatap putra kecilnya terlelap di dalam kotak yang memberikan kehangatan pada tubuh mungilnya. Karna lahir prematur tubuh bayi itu terlihat sangat kecil berbeda dengan bayi yang lahir normal. Tapi tak apa, yang terpenting kondisi putranya sehat dan baik-baik saja. Dan ia tinggal menunggu Zila sadar dari koma nya.


"Do'a, kan, mama ya Nak supaya cepat sadar. Papa, sudah tidak sabar ingin berkumpul dengan kalian berdua..."

__ADS_1


Ucapan Zidan terdengar serak dan lirih. Namun, di balik itu semua melambung begitu besar harapan Zidan untuk kesembuhan sang istri.


__ADS_2