Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Akhir


__ADS_3

Zila dengan hati-hati bangkit dari kasur setelah memberikan ASI pada putranya, Saga. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 19: 00 malam. Hampir satu jam ia menyusui dan menenangkan bayi mungil tersebut yang begitu rewel. Meskipun begitu, Zila benar-benar menikmati perannya sebagai ibu muda di usia 19 tahun.


Wanita itu bangkit dari kasur sebelum pergi ia menutupi tubuh mungil Saga dengan selimut dan meletakkan guling di sisi kanan dan kiri putranya. Perutnya terasa perih mungkin karna menyusui ia jadi mudah lapar.


"Buat apa, Bi?" tanya Zila ketika sudah berada di dapur. Terlihat bibi Lia tengah memotong sayur wartel dan daun bawang.


"Eh, Non Zila." Bibi Lia tampak kaget kala mendapati majikannya sudah berada di sampingnya dan tengah memperhatikan kegiatan yang ia lakukan."Bibi buat soup daging, Non. Kata pak Zidan, Non Zila suka soup daging jadi Bibi buatkan."


Zila manggut-manggut mendengar itu. Ia memang suka makanan yang berkuah-kuah contohnya soup daging.


"Bibi sudah lama kerja dengan bunda Melati?"


"Lumayan lama, Non, sekitar 5 tahunan."


Zila terdiam sejenak."Berarti Bibi belum nikah waktu itu?"


"Bibi mah umur 19 tahun sudah nikah, tapi sayang suami Bibi meninggal karna kecelakaan kerja. Jadi, umur 24 tahun Bibi nekat merantau ke kota ini untuk mencari kerjaan. Bibi juga punya keponakan yang harus Bibi nafkahi. Sebelumnya Bibi pernah hamil tapi keguguran," ucap bibi Lia berusaha menutupi kesedihan yang melingkupi perasaannya saat ini.


Zila yang mendengar itu tampak iba. Ia tidak bisa membayangkan bila berada di posisi bibi Lia.


"Kalau boleh tahu umur keponakan Bibi berapa tahun?"


"Seumuran Saga, 2 minggu kemarin baru lahiran. Tapi, adik bibi meninggal setelah melahirkan."


Lagi, Zila terkejut mendengar hal itu.


"Maaf ya Bi, aku nggak bermaksud buat Bibi sedih," ucap Zila merasa bersalah.


Wanita berusia 30 tahunan itu tersenyum."Tidak apa-apa, Non. Malahan Bibi yang nggak enak karna curhat masalah ini. Sekarang mah yang terpenting keponakan dan orang tua Bibi terjamin di kampung dengan Bibi bekerja di sini."


Baru saja Zila hendak membuka mulut sepasang tangan melingkar di perutnya, membuat wanita itu terkejut sama halnya dengan bibi Lia.


"Iih, Mas Zidan!" Zila memukul tangan sang suami yang masih melingkar erat di perutnya. Ia melirik bibi Lia yang mengalihkan pandangan matanya dan fokus memotong sayur.


"Saga, mana?" tanya Zidan seraya memberikan hujaman ciuman di pipi Zila. Pria itu baru saja pulang dari tempat kerjanya.


"Di kamar lagi tidur. Lepas, ah." Zila mencubit kecil tangan suaminya dan tentu hal itu membuat Zidan melepaskan pelukannya.


"Sana, Mas mandi dulu." Zila mendorong Zidan agar menjauh darinya. Ia benar-benar malu dengan bibi Lia.


"Bareng ke kamarnya, Sayang. Mas, capek banget hari ini."


Lagi, Zidan kembali memeluk Zila. Sepertinya ayah satu anak ini semakin manja. Zila menghela napas berat lalu menggiring suaminya menuju kamar.

__ADS_1


Sementara bibi Ani yang melihat itu tertawa lucu. Melihat mereka berdua membuat ia merindukan mendiang suaminya.


Saat sudah memasuk kamar, Zidan menatap ke arah sang putra yang tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka, membuat ia semakin lucu dan menggemaskan.


"Mandi dulu sebelum nyentuh Saga," Peringat Zila kala Zidan hendak menyentuh putranya.


Bayi sangat rentan terkena penyakit infeksi yang salah satu media penularan melalui tangan dan Zila benar-benar posesif tentang kesehatan putranya.


Zidan yang hendak menyentuh putranya mengurungkan niatnya."Baiklah," ucap Zidan dengan ekpresi sedih yang di buat-buat. Padahal ia ingin sekali menggendong dan mencium makhluk kecil itu.


"Memangnya di sekolah sibuk banget, ya?" tanya Zila seraya melepaskan kancing kemeja milik suaminya.


"Hmm...sebentar lagi akan memasuki ujian.  Apalagi tanggung jawab sekolah itu perpindah tangan pada Mas, Zila. Besok juga Mas harus reservasi restoran cabang yang ada di Bandung."


Zila yang mendengar itu manggut-manggut. Ya, minggu-minggu ini suaminya memang sangat sibuk dengan pekerjaan yang di gelutinya sekarang.


"Nanti malam Mas ingin mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Zidan seraya menarik pinggang ramping Zila agar semakin merapat dengannya.


"Ke mana?"


"Rahasia, Sayang. Sekarang Mas mau mandi dulu supaya bisa gendong Saga." Zidan mencubit pelan pipi Zila membuat sang empu mengulum senyumannya dengan tingkah sang suami.


Semenjak kelahiran putra pertama mereka berdua, rumah ini semakin hangat dan di lingkupi kebahagiaan. Sekarang Zila sudah sangat bahagia dengan pernikahan dan perannya sebagai ibu. Ia pikir setelah menjadi ibu rumah tangga sangat menyusahkan dan semakin mengekangnya apalagi ia memiliki impian untuk menjadi wanita karier tapi sekarang impian itu langsung lenyap begitu saja entah ke mana.




Zidan juga terlihat sangat tampan dengan kemeja hitam lengan pendek yang ia kenakan dipadukan celana kain hitam selutut. Pakaian pria itu terlihat santai.


"Mas..." Panggilan Zila membuat pria itu menoleh dan tak lama senyuman terukir di bibir Zidan.


"Kamu sangat cantik, Sayang," puji Zidan. Zila tersipu malu mendengarnya meski sudah sering mendengar pujian itu dari mulut suaminya.


"Mas, memangnya kita akan ke mana? Lalu, Saga bagaimana?"


"Kamu tenang saja, ada bibi Lia yang menjaga. Sekarang ayo ikut Mas. Ada kejutan untukmu."


"Kejutan apa?" Mata Zila langsung berbinar-binar mendengar kata hadiah.


"Rahasia, sekarang ayo kita jalan." Zidan menarik lembut tangan Zila menuju pintu utama. Terlihat mobil Lamborghini hitam sudah terparkir di depan teras.


Sepanjang perjalanan menaiki mobil, Zila menatap ke arah luar jendela mobil dan begitu menikmati pemandangan luar walaupun yang ia pandang bangunan dan rumah-rumah yang dilewati. Sudah lama ia tidak keluar rumah. Bukan karna tidak diperbolehkan keluar tapi ia terlalu sibuk dan fokus menjaga putranya.

__ADS_1


"Kita sebenarnya akan ke mana sih, Mas? Kenapa semakin sepi jalanannya."


Zidan melirik sekilas Zila tanpa mengatakan apapun. Wanita itu semakin heran dan kebingungan. Ia tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya.


Tidak lama mobil yang Zidan kendarai berhenti di tempat parkir yang sudah di sediakan. Angin bertiup cukup kencang dan rasa dingin yang begitu menusuk ke pori-pori. Zila keluar dari mobil dan disuguhkan pemandangan pantai yang diselimuti kegelapan hanya ada beberapa tiang lampu yang menerangi.


"Dingin..." gumam Zila memeluk dirinya. Zidan yang melihat istrinya kedinginan menyampirkan jaket hitam miliknya.


"Maaf ya Sayang Mas mengajak kamu ke sini, karna Mas pikir kamu akan senang. Tapi tenang saja kejutan yang kamu dapatkan akan membuat kamu sangat bahagia," ucap Zidan.


Pasangan suami istri itu mulai melangkahkan kakinya menuju ke sebuah meja dan kursi yang disekitarnya dihias lampu-lampu lampion begitu indah. Zila tertegun melihat pemandangan di depan matanya. Ia melepaskan genggaman tangan suaminya dan berjalan mendekati meja yang terdapat buket bunga mawar putih. Bunga favoritnya.


Tangan Zila terulur mengambil buket bunga itu lalu menghirup dalam aromanya yang begitu wangi. Ia berbalik badan, namun mendadak tubuhnya mematung kala Zidan bersimpuh di hadapannya dengan memegang kotak kecil berwarna merah yang terdapat cincin permata di dalamnya.


"Azila Putri Amara, mau kah kamu menjadi teman hidupku selamanya dan menjadi satu-satu orangnya yang  aku cintai dan sebaliknya?"


Zila membekap mulutnya antara terkejut, haru, dan bingung.


"Maksud kamu apa, Mas?" Saat ini Zila benar-benar tidak paham kenapa Zidan melamarnya sedangkan status mereka sudah menikah.


Zidan tersenyum lalu bangkit."Pernikahan kita terjadi karna keterpaksaan. Dan Mas ingin kamu menerima lamaran Mas tanpa ada paksaan, Zila. Tapi karna kamu benar-benar menerima, Mas."


Wanita itu berhambur dalam pelukan Zidan dengan tangisan yang tak tertahankan. Ia benar-benar terharu bercampur bahagia.


"Aku terima lamaran kamu, Mas." Zila semakin mengeratkan pelukannya pada Zidan.


Pria itu mengusap lembut punggung Zila dan mendaratkan ciuman di kening wanita itu.


"Sekarang di pakai dulu cincinnya," ucap Zidan setelahnya menguraikan pelukannya.  Pria itu mengusap cairan kental yang meleleh di hidung Zila.


Zila menatap lekat cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Senyuman lebar penuh kebahagiaan terbingkai di bibir Zila. Ia tidak menyangka pernikahan yang terjadi antara ia dan suaminya akan berakhir sebahagia ini.


"Ayo kita menari," ajak Zidan dan sukses membuat mata Zila melotot kaget. Dan tak lama setelah Zidan mengatakan itu dua orang datang menghampiri mereka berdua.


Terdengar alunan musik gitar yang dimainkan seorang pria dan nyanyian merdu seorang wanita. Zidan mengulurkan tangannya pada Zila yang tampak ragu-ragu menyambutnya.


Mereka berdua mulai menari seperti tarian biasanya. Zana tampak menikmati tariannya. Wanita itu berputar-putar di hadapan suaminya.


Zidan merengkuh pinggang Zila dan menyatukan kedua kening mereka berdua.


"Mas mencintai kamu, Zila."


"Aku lebih mencintaimu Mas Zidan."

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2