
"Kalau belum siap tidak pa-pa. Saya sabar menunggu," ucap Zidan kala melihat ke terdiaman Zila beberapa menit.
Bibir wanita itu seolah berat untuk menceritakan masa lalunya yang mengingatnya saja sudah membuat dada sesak.
"Aku akan menceritakan semuanya. Aku hanya sedikit berat untuk mengatakan hal ini. Bagaimana pun Om harus tahu tentang masa lalu ku," balas Zila dengan napas yang memberat.
Zidan tersenyum. Ia meraih kedua tangan Zila lalu menggenggamnya erat."Apapun masa lalu kamu saya tidak akan mempermasalahkannya. Yang penting kamu jujur dan terbuka dengan saya."
Zila hanya menampilkan senyum tipis. Ia menarik napas dalam-dalam seolah untuk menceritakan semua itu, ia butuh begitu banyak oksigen dan tenaga. Karna ini trauma yang sangat melekat di kepalanya.
"Jadi, saat umurku 15 tahun, aku mengalami pelecehan dan hampir di perkosa oleh Zavieer ketika semua orang tidak ada di rumah. Zavieer selalu mencari kesempatan untuk mendekati, Om. Awalnya hanya sebuah sentuhan tapi semakin lama Zavieer semakin kurang ajar."
Zila tertunduk dalam menceritakan hal tersebut. Ia meremas roknya dengan kuat. Air mata tak sanggup ia bendung.
"Kak Dafa, tidak pernah percaya dengan kelakuan buruk temannya padaku. Dia lebih mempercayai Zavieer."
Zila menangis terisak-isak dengan tubuh gemetar. Zidan langsung memeluk wanita muda itu. Walaupun awalnya ia terkejut mendengar cerita yang istrinya lontarkan. Dan mendadak hatinya meletup-letup serta panas mendengar dan melihat raut ketakutan dari wajah Zila. Ada rasa tak terima dengan perlakuan buruk yang istrinya dapatkan di masa lalu dan itu karna Zavieer.
"Sudah, jangan diceritakan lagi bila kamu tidak sanggup melanjutkannya," ucap Zidan lembut. Ia mengusap kepala Zila dengan penuh kasih sayang. Dan mengusap air mata yang membasahi pipi berisi itu.
Wanita muda itu mendongak menatap suaminya."Apa Om marah dengan ku? Apa Om..."
"Sstt...saya tidak marah. Semua orang memiliki masa lalu yang buruk dan sisi menyedihkannya. Yang terpenting saya tetap menjadi laki-laki pertama dan satu-satunya yang mendapatnya. Lupakan kejadian buruk itu jika itu sangat menyakitkan untuk diingat. Fokus dengan masa sekarang. Kalau Zavieer menganggumu lagi, cepat katakan dengan saya," ucap Zidan yang semakin erat memeluk tubuh mungil itu.
__ADS_1
Zila menatap lekat Zidan. Ia tak menyangka respon pria itu akan seperti ini. Ia kira suaminya akan memojokkan ataupun menghakiminya karna masalah ini. Sebenarnya masih ada beberapa cerita yang belum ia beberkan pada Zidan.
"Kenapa melihat saya seperti itu, hmm?" ucap Zidan yang mulai menyadari tatapan tak biasa dari istri kecilnya tersebut.
"Om benar-benar nggak marah?" Zila masih tak percaya dengan respon positif suaminya.
Alis Zidan mengkerut."Untuk apa saya marah? Kamu tidak percaya dengan ucapan saya?" Kini, Zidan yang balik bertanya.
Zila menundukkan kepalanya lalu menggeleng lemah. Wanita muda itu masih benar-benar tak yakin dengan respon Zidan yang begitu mudah menerima masa lalu kelam yang pernah ia alami.
Tangan Zidan terulur mengusap pucuk kepala Zila."Mau ke rumah bunda apa pulang ke apartemen?"
Zila terdiam sejenak."Ke rumah bunda."
•
•
Satu minggu berlalu dan selama itu Zavieer tidak pernah muncul di hadapannya seperti yang sebelumnya pria itu lakukan padanya. Ia hanya berharap pria gila itu benar-benar tidak di muncul lagi. Jangan sampai ketidak munculannya hanya tak tik belaka. Setelah kedua orang tuanya pulang dari Singapura ia akan protes dengan ayahnya yang membebaskan Zavieer dari penjara.
Wanita yang mengenakan piyama tidur bergambar Hello Kitty itu berbalik melangkah ke kasur. Baru saja hendak membaringkan tubuhnya di kasur suara Zidan membuat moodnya langsung memburuk.
"Kamu sudah selesai datang bulannya?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Zidan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma harum tubuh pria itu menyeruak dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Dengan handuk yang melingkar di pinggang ia melangkah mendekati Zila yang sudah was-was. Sudah dari kemarin pria itu selalu menanyakan hal itu.
"Kalau sudah memang kenapa?" Zila menatap tak bersahabat pada suaminya. Jangan sampai pria itu menagih yang kemarin.
"Saya ingin di layani," balasnya dengan santai.
Zila terperangah.
"Ng-nggak bisa Om, aku capek." Hanya kata itu yang menjadi alasan untuk menolak kemauan suaminya.
"Kamu lupa dengan janji kamu yang kemarin?"
"Kalau Om ngerjain tugas aku, aku janji ngasih Om jatah sampai puas."
Zila meneguk ludahnya kasar. Ia kira pria itu akan lupa dengan janjinya yang beberapa hari lalu, saat ia masih datang bulan. Ternyata tidak.
"Bagaimana sudah ingat?"
Zila terperanjat kaget kala mendapati Zidan sudah berada di sampingnya. Mata pria itu menatap liar ke arah tubuhnya. Dengan cepat Zila menutupi tubuhnya dengan selimut.
______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.