Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Selingkuh?


__ADS_3

Nita menyadarkan dirinya di bahu kursi. Ia menatap Zila yang menunggu ucapan yang terlontar dari kakak sepupunya tersebut. Tangan Zila saling bertautan satu sama lain dengan perasaan tak karuan. Pagi-pagi ia sudah ke klinik Nita untuk membahas tentang ini.


"Jadi, itu pil penyubur kandungan?" tanya Zila dengan raut wajah yang keruh.


Nita mengangguk."Iya, itu pil penyubur kandungan. Apa sebelumnya kamu tidak memeriksa terlebih dahulu saat petugas apoteker memberikan pil ini?" tanya Nita.


Zila menghela napas berat seraya menggeleng. Ia tertunduk dalam dan hawa panas mulai menyelimuti kedua matanya. Kedua tangannya semakin erat meremas ujung baju yang ia kenakan sekarang.


"Lalu aku harus bagaimana?" Zila menatap berkaca-kaca pada Nita.


"Ya harus kamu terima. Hamil di usia muda tidak terlalu buruk, Zila, apalagi kamu hamil ada suami. Beda lagi kalau kamu hamil di luar nikah," tutur Nita.


Zila menggeleng."Tapi aku belum siap, Mbak."


"Siap ataupun tidak, kamu harus tetap menerima ini apalagi kamu bilang hasil tespecknya garis dua."


"Tapi bisa aja tespecknya salah."


Nita bangkit dari kursi kerjanya lalu melangkah mendekati Zila. Wanita itu menyibak sebatas dada baju yang Zila  kenakan. Zila menatap heran dengan apa yang kakak sepupunya lakukan.


"Sepertinya kamu benar-benar hamil, Zila. Perut  kamu terasa keras di sentuh dan itu sudah menjadi tanda bila kalau kamu hamil. Jika ingin lebih jelas lagi Mbak akan memeriksa kamu lewat USG."


Mata Zila melebar mendengar itu. Mulutnya sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Shock dan terkejut sudah pasti. Ia mengigit bibir bawahnya seolah menimang-nimang tawaran mbak Nita untuk USG.


Sekitar kurang lebih satu menit berperang dengan pikirannya akhirnya Zila mengangguk. Ia juga sedikit penasaran dengan bentuk janin di dalam perutnya.


"Tapi, kamu sudah memberikan suamimu tahu tentang masalah kehamilan kamu?" tanya Nita, membuat Zila yang hendak bangkit dari kursi langsung terhenti dan kembali duduk.


"Belum. Aku malu." Pipi Zila langsung memerah. Nita mengangkat sebelah alisnya, heran.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Bukankah ini kabar yang sangat membahagiakan?"


Zila mencebikkan bibirnya."Soalny aku bilang sama dia minum pil KB, dan tentu nggak akan hamil dalam waktu dekat ini. Tapi malah kebobolan..." lirih Zila dengan tampang memelas.


Ucapan Zila langsung di sambut gelak tawa Nita. Ini benar-benar lucu. Tapi wajar seumuran Zila memang agak labil termasuk perkara seperti ini.


"Sudah, kamu kasih tahu saja suamimu itu. Untuk apa malu toh ujung-ujungnya kamu nanti hamil juga. Tidak baik baru menikah sudah minum KB apalagi di konsumsi dalam waktu yang lama. Jadi ibu muda itu menyenangkan lho," ucap Nita seolah menjanjikan kebahagiaan dari ucapannya tersebut.




"Dari mana saja kamu?" Pertanyaan Zidan membuat Zila terkejut ketika hendak menutup pintu. Wanita itu baru saja pulang dari klinik kakak sepupunya, Nita, dan sekarang ia mendapati suaminya sudah berdiri di belakangnya.


"A...aku ada urusan sebentar," balas Zila bohong.


"Sampai seharian? Dari pagi sampai sore baru pulang, memangnya sepenting apa urusan kamu, hmm? Lihat, seharusnya kamu menjaga dan merawat saya." Zidan memperlihatkan bagian perutnya yang di perban.


"Saya juga begini karna kamu. Saya sulit bergerak bebas." Sepertinya Zidan tak mau kalah.


"Iih Om ini kenapa sih?! Aku baru datang langsung di marahin. Terus, Om maunya apa? Aku puk-puk pantatnya terus aku layani?" ucap Zila ketus.


Jujur saat ini emosinya benar-benar tak stabil. Apalagi menghadapi Zidan yang mulai cerewet. Karna sudah menyelamatkan nya pria itu seolah menganggap ia berhutang budi padanya. Ucapannya saja yang manis waktu menyelematkannya kemarin tapi ujung-ujungnya minta imbalan. Apa semua pria selalu minta imbalan pada istrinya?


"Sudahlah, aku mau istirahat."


Belum sempat Zidan hendak membuka suara wanita itu sudah beranjak dari hadapan suaminya. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamar. Baru saja hendak menjatuhkan pantatnya ke kasur suara dering ponsel milik Zidan di atas nakas membuat perhatian Zila teralihkan.


Wajah wanita itu langsung suram menatap nama penelpon, Bella. Siapa Bella? Selingkuhan? Awas saja Om Zidan bermain api dengan wanita lain di saat ia hamil anaknya.

__ADS_1


"Om Zidan!!"


Suara teriakan Zila menggema mengisi apartemen. Wanita itu melangkah lebar keluar dari kamar, ia menghampiri Zidan yang tengah duduk di ruang TV. Dadanya bergemuruh.


"Ini siapa?" Zila melempar kasar benda pipih itu ke arah Zidan yang tampak terkejut dengan apa yang istrinya lakukan.


Zidan mengambil ponsel miliknya yang jatuh ke lantai setelah di lempar Zila. Ia tersenyum menatap layar ponselnya. Tentu, senyuman yang terukir di bibir suaminya membuat wanita itu semakin tersulut.


"Dia siapa?!" Zila semakin meninggikan suaranya dengan kedua tangan yang terkepal.


Zidan hanya melirik sekilas pada sang istri. Matanya lebih fokus pada layar televisi yang menampilkan saluran sepak bola. Zila ikut bergabung duduk di samping Zidan dengan ekpresi wajah sangarnya.


"Aku nggak nyangka ya modelan kayak Om bisa selingkuh juga. Padahal udah punya istri sama ana_" Zila langsung menjeda ucapannya. Hampir saja keceplosan.


"Kamu tahu tidak, laki-laki selingkuh karna apa?" balas Zidan menoleh pada Zila.


"Karna dalam otaknya cuma mikirin selangk*ngan!"


Cup


"Salah."


Dengan gerakkan cepat Zidan mengecup bibir Zila, membuat wanita itu terkejut. Seolah tidak puas Zidan kembali mencium bibir Zila yang belum sempat menjauh.


"Karna istrinya kurang pintar menyenangkan suami," sambung Zidan yang menyudahi aksinya. Andai bagian perutnya tidak luka, ia akan melakukan lebih dari ini.


_______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya. See you:)


__ADS_2