
Suasana terasa tegang dan mendadak hawa menjadi panas ketika semua guru sudah berkumpul di ruang rapat yang tersedia di sekolah itu. Aura Zidan lebih mendominasi di ruangan tersebut. Zila duduk di samping suaminya dengan perasaan tak karuan apalagi saat ini ia tengah bergabung dalam ruangan yang membuat sekujur badannya panas dingin. Di tambah tatapan para guru mengarah kepadanya seolah ia pelaku kejahatan.
Tidak ada satupun guru yang mengetahui hubungan Zila dengan Zidan. Tentu karna mereka berdua diam untuk merahasiakan ini.
"Zila tetap sekolah di sini walaupun dia sedang hamil."
Suara lantang Zidan mengisi keheningan yang melanda dalam ruangan itu. Dan tiba-tiba bapak Rano selaku kepala sekolah bangkit dari tempat duduknya, menatap ke arah Zidan dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu.
"Maaf Pak Zidan sebelumnya, anda tidak seharusnya mengambil keputusan ini apalagi peraturan yang tertulis di semua sekolah, bila siswi yang hamil di luar nikah ataupun dalam status sudah menikah sekalipun tidak boleh melanjutkan pendidikannya," papar pak Reno tak kalah lantang. Seolah menyadarkan Zidan atas keputusannya yang benar-benar salah besar.
Semua guru mengangguk, mengiakan ucapan pak Rano termasuk bu Arini yang hadir dalam ruang rapat tersebut.
Zila terlihat gelisah di tempat duduknya dan semakin gelisah ketika guru menentang keputusan suaminya. Memang tidak salah juga guru-guru di sini menolak keputusan Zidan, tapi ia masih ingin sekolah. Dan ia heran sebab Zidan berani melontarkan keputusannya itu apalagi di hadapan semua guru yang bisa saja mengancam posisinya sebagai guru di sekolah ini.
Zidan menghela napas pelan, ia melirik Zila di sampingnya yang terlihat gelisah. Kini, tatapan Zidan terotasi penuh pada pak Rano. Sambil menangkup kedua tangannya di atas meja Zidan kembali melontarkan ucapannya.
"Iya, saya tahu keputusan ini salah, tapi..." Zidan menjeda ucapannya dengan tangan kanan terulur mengusap pucuk kepala Zila, dan tentu sikap yang pria itu lakukan membuat semua guru mengernyitkan keningnya."Dia istri saya, dan harus mendapatkan keistimewaan di sekolah ini. Walaupun bertentangan dengan peraturan sekolah. Anda tahu, kan, sekolah swasta ini milik siapa?"
Pak Rano meneguk ludahnya kasar dengan raut wajah yang benar-benar shock dan terkejut dengan apa yang ia dengar, sama halnya guru yang ada di sana.
Brak!
Tidak lama salah satu guru pingsan. Ya, bu Arini jatuh dari kursi dan langsung hilang kesadaran setelah mendengar ucapan Zidan. Wanita yang menaruh perasaan lebih pada Zidan itu tidak bisa mengendalikan dirinya lagi karna sangat shock mendengar hal yang langsung menghujam ke ulu hatinya.
"Jadi, Zila istri Pak Zidan? Berarti yang dia kandung anak Bapak Zidan?" Pak Rano bertanya dengan terbata-bata. Ia benar-benar tak menyangka.
"Ya, jadi Zila tetap sekolah di sini," ucap Zidan tegas."Jadi, bagaimana?" tanya Zidan menunggu jawaban keluar dari mulut pak Rano.
Pria berusia 50 tahunan itu terdiam sejenak dan sedetik kemudian menganggukkan kepalanya. Kali ini ia tidak bisa lagi menentang keputusan dari putra pemilik sekolah ini.
Zila menatap Zidan dengan senyuman tertahan.
__ADS_1
"Mulai besok kamu boleh sekolah." Setelah mengucapkan itu Zidan mencium kening Zila singkat membuat banyak pasang mata semakin terkejut melihatnya.
Berita tentang status Zila yang menjadi istri simpanan atau istri rahasia Zidan kini sudah tersebar di sekolah. Banyak para murid tercengang tak percaya bahkan sebagian dari mereka tak terima karna pengagum sang guru tampan itu. Mungkin ini akan berdampak pada Zila nantinya, tapi saat ini wanita itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
Senyuman penuh binar di bibir Zila dengan kedua tangan memeluk lengan suaminya. Saat ini suasana hati Zila benar-benar sangat baik bahkan tak memperdulikan tatapan sinis para murid kala berpapasan dengannya. Zidan ikut senang melihat bagaimana pancaran kebahagiaan terlihat dari wajah sang istri. Ia akan memberikan apapun untuk Zila selama ia mampu.
"Sudah puas?" tanya Zidan kala mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Zila yang tengah sibuk memasang sabuk pengaman di tubuhnya menatap ke arah Zidan, tak lama senyuma kembali terukir di bibirnya.
"Aku sangat puas, terima Om Zidan..." Zila memeluk Zidan dari samping, kebahagiaan yang Zila rasakan membuat ia tidak bisa mengendalikan ekpresi dan sikapnya.
"Baguslah kalau kamu puas."
"Tapi, kenapa pak Rano langsung menurut dengan ucapan Om? Padahal jabatan kepala sekolah lebih tinggi dari Om yang hanya guru biasa."
Zidan mendekatkan wajahnya dengan Zila, membuat wanita itu bisa merasakan hembusan napas suaminya."Karna sekolah ini milik saya."
Mata Zila langsung melebar mendengarkan dengan mulut yang sedikit terbuka." Ke-kenapa Om baru bilang sekarang sama aku?" tanya Zila. Kalau tahu suaminya pemilik sekolah tu, ia bisa membuat orang-orang yang membencinya bahkan tak suka padanya langsung bungkam dan tak berani padanya.
"Pasti sedang berpikiran jorok." Zidan menyentil kening Zila, membuat wanita itu meringis.
"Apaan sih, Om!" Zila menepis kasar tangan suaminya. Raut wajah yang awalnya berbinar kini dalam sekejap berganti dengan raut wajah merengut.
•
•
Mobil hitam yang Zidan kendarai sudah sampai di area pekarangan rumah orang tuanya. Zidan menoleh ke samping, terlihat Zila begitu menikmati es krim coklat dalam cup besar. Sebelum ke sini wanita itu merengek menginginkan benda dingin itu.
"Jangan seperti anak kecil makannya." Zidan mengusap bagian bibir Zila yang blepotan.
__ADS_1
Wanita itu tak terganggu dengan sentuhan suaminya di bibirnya, ia sibuk memasukkan es krim ke dalam mulutnya.
"Ayo turun," ajak Zidan.
Pria itu membuka, kan pintu mobil untuk Zila lalu menggandeng tangan sang istri memasuki rumah orang tuanya yang sudah terbuka lebar pintunya.
"Mantu Bunda..."
Baru memasuki rumah, keduanya langsung di sambut suara pekikan bunda Melati. Wanita paruh baya itu berjalan ke arah menantunya lalu langsung memeluk Zila yang hampir limbung karna belum siap menerima pelukan mendadak mertuanya.
"Gimana kabar kamu, Nak? Oh iya, kamu pasti sedih kan mikirin hasil kemarin ya? Sabar ya Zila, Bunda tahu bagaimana perasaan kamu. Tapi kamu tenang saja, Bunda sudah menyiapkan ramuan supaya kamu cepat isi," pekik bunda Melati penuh semangat.
"Lain kali hati-hati kalau mau peluk Zila, Ma," tegur Zidan yang hanya dibalas tatapan sekilas orang tuanya.
Zila menatap bingung pada bunda Melati, ia tidak paham dengan ucapan yang mertuanya lontarkan. Ia melirik ke arah yang kini Zidan sudah berlalu masuk ke dalam rumah.
"Maksud Bunda apa? Aku nggak paham," ucap Zila.
"Tidak usah dipikirkan ucapan bunda tadi, yang penting kamu ikuti apa yang Bunda suruh."
Bunda Melati menarik Zila menuju ke dapur tempat ia menyimpan ramuan yang ia buat sendiri.
"Ini apa Bunda?" Zidan yang tengah membuka kulkas dan hendak mencari minuman dingin mendapati botol berukuran sedang yang terdapat cairan hijau di dalamnya.
Bunda Melati dengan cepat merampas botol itu dari tangan Zidan."Jangan pegang-pegang! Ini buat Zila!" ucapnya.
"Ini Sayang, Bunda buatkan jamu supaya kamu cepat hamil. Cukup minum ini satu kali sehari tapi harus rajin juga main di ranjang dengan Zidan," ucap bunda Melati menyerahkan botol itu kepada Zila.
Sementara Zila menatap ke arah suaminya.
_____
__ADS_1
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa like dan komen:)