Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Salah lagi


__ADS_3

Setelah kepergian Zila yang terlihat jelas wanita itu tengah mengamuk, Zidan segera menyusul sang istri dan tak memperdulikan pekerjaan yang mungkin akan terbengkalai karna sikap Zila. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana meredam amarah wanita itu. Zidan tidak tahu kenapa Zila jadi mudah marah seperti itu setelah hamil. Ia berharap anaknya nanti tidak menjadi sosok pemarah seperti sikap Zila sekarang.


Zidan masuk ke dalam kamar yang tak terkunci. Terlihat Zila duduk di kursi belajarnya sambil menatap es buah yang ia inginkan di sebuah channel youtube. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan apalagi tatapan matanya yang berair.


"Zila..." Panggilan lembut Zidan tak di gubris oleh Zila. Ia lebih fokus menonton tayangan orang menyantap es buah yang ia inginkan.


Zidan yang melihat sikap acuh sang istri menghela napas kasar. Raut wajah pria itu tampak frustasi tapi mencoba terlihat tenang.


"Kamu benar-benar mau es buah?" tanya Zidan lembut. Dan kini sudah berdiri di samping Zila.


Wanita itu menoleh menatap suaminya. Air mata semakin deras berlinang."Nggak jadi!" jawabnya dengan ketus. Zila kembali fokus dengan nontonannya.


Melihat hal itu justru membuat Zidan tersiksa. Apa wanita hamil selalu seperti ini, meminta sesuatu yang sulit diberikan termasuk es buah. Larut malam seperti ini sangat jarang penjual es buah masih berdagang.


"Ya sudah. Saya belikan. Tapi jangan menangis lagi, ya." Zidan mengusap lembut air mata di pipi Zila lalu mengecup pipi yang memerah itu.


Meskipun begitu, Zila tetap tak mau menatap suaminya.


Zidan meraih jaket hitam miliknya yang tergantung di belakang pintu kamar lalu mulai mengenakannya. Sebelum pergi pria itu kembali mendekati Zila.


"Saya pergi dulu, tapi jangan tidur ya, tunggu saya sampai pulang. Kalau ada apa-apa telpon saya," ucap Zidan.


Lagi, Zila hanya diam tanpa ingin menatap lawan bicaranya. Setelah Zidan keluar dari kamar senyuman lebar tersungging di wajah penuh air mata itu. Zila bangkit dari tempat duduknya lalu berlari menuju balkon apartemen, tidak lama Zidan muncul dan kini sudah menaiki mobilnya.

__ADS_1


"Ke mana harus mencarinya?" gumam Zidan ketika mobilnya sudah keluar dari area apartemen. Ia membuka ponselnya mencari toko es buah yang buka 24 jam walaupun itu mustahil. Mana ada orang menjual es buah di jam seperti ini.


Sepanjang menjalankan mobilnya Zidan selalu menatap ke arah pinggir jalan, bisa saja ada pedagang es buah mangkal di sana atau sedang menjajakan dagangannya di tengah malam seperti ini. Jalanan yang Zidan lewati sudah mulai sepi oleh pengendara yang berlalu lalang.


Satu jam lebih berlalu, tapi Zidan tak kembali juga ke apartemen, membuat Zila yang menahan kantuknya hampir tertidur. Saat ini wanita tersebut tengah menunggu sang suami di depan televisi.


"Lama banget..."


Zila sudah tak tahan lain ingin tidur. Tapi ia juga menginginkan es buah. Saat matanya hampir tertutup sempurna suara pintu terbuka refleks membuat Zila membuka matanya lebar.


Wanita itu menatap Zidan sudah datang. Tapi, mana es buahnya?


"Mana es buahnya?" Zila menengadahkan kedua tangannya pada Zidan.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya lalu memberikannya pada Zila. Wanita itu memekik kegirangan. Ia segera membawa es buah itu ke dapur untuk ia pindahkan ke mangkok. Lain lagi dengan Zidan yang menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dengkuran halus terdengar dari pria itu, sepertinya Zidan benar-benar mengantuk. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul


"Ih, kok nggak ada kolang-kalingnya." Zila berdecak kesal. Ia memang ingin es buah tapi yang ia incar kolang-kalingnya bukan buah-buahannya.


Ia melangkah mendekati Zidan yang sudah nyaman dengan posisinya sekarang.


"Om, kenapa nggak ada kolang-kalingnya. Kan aku minta ada kolang-kalingnya."


Zidan mendesis mendengar suara gerutuan Zila. Ia membuka matanya yang tampak sangat berat.

__ADS_1


"Nggak ada Zila. Habiskan yang ada dulu, besok kita beli."


Wajah Zila semakin masam."Kalau nggak makan itu, aku nggak bisa tidur."


Brak!


Zidan banyak-banyak mengelus dadanya sabar kala istri kecilnya itu dengan sengaja menghempaskan mangkok berisi es buah itu ke atas meja dengan sangat kuat.


"Sini, saya buat kamu tidur."


Kali ini, pria itu benar-benar dibuat gemas oleh Zila. Ia bangkit dari sofa lalu tiba-tiba membuat seluruh pakaiannya membuat Zila menatap bingung.


"Apaan sih, lepas! Hpm..."


Zidan menarik Zila membuat wanita itu berada dalam kungkungan suaminya. Belum sempat menyemburkan kemarahannya Zidan sudah membukam dengan bibirnya. Kedua kaki mungil itu bergerak gelisah dan tubuh yang menggeliat berusaha lepas dari kurungan Zidan yang saat ini menginginkan tubuhnya.


Suara decapan dan d*sahan mengisi ruang televisi saat ini. Dan suara decitan sofa mengiringi kegiatan panas keduanya. Pakaian keduanya juga sudah berserakan di lantai dan aroma percintaan menyeruak di ruangan itu.




Pagi mulai menyapa. Semua orang sudah kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa kecuali dua orang yang tertidur nyenyak di atas sofa yang muat menampung tubuh keduanya yang kini berpelukan tanpa sehelai benang pun menutupi kecuali selimut yang Zidan ambil dari kamarnya kemarin malam.

__ADS_1


Zidan perlahan membuka matanya kala rembesan sinar matahari berhasil masuk melalui sela-sela gorden lalu menerpa permukaan wajahnya. Ia menatap sekitar ruangan yang sudah berantakan karna kelakuan mereka berdua tadi malam. Kini, tatapannya jatuh pada Zila yang menggeliat kecil dan semakin merapatkan tubuh polosnya pada sang suami.


Wanita itu benar-benar tertidur sangat-sangat nyenyak setelah di gempur suaminya. Sepertinya Zidan akan melakukan ini lagi bila Zila kembali cerewet dan merengek.


__ADS_2