
Tiga hari berlalu, tapi kondisi Zila masih sama, wanita itu masih betah menutup matanya dengan alat medis yang menancap dibagian tubuhnya. Dan kondisi bayi yang tiga hari baru dilahirkan itu mulai membaik setelah menjalani perawatan intensif.
Tentu, kabar buruk yang menimpa Zila seperti pukulan keras untuk papa Satria dan mama Reni. Apalagi Zila merupakan anak perempuan mereka satu-satunya. Dan Zidan, jangan tanyakan pria itu. Satu pukulan cukup keras dari papa Satria ia dapatkan dibagian wajahnya yang kini mulai memudar memarnya. Pria paruh baya itu beranggapan Zidan tidak becus menjaga Zila.
"Setelah Zila sadar dan pulih, dia tinggal di rumah kami saja," ucap papa Satria membuka suara saat semua orang yang ada di sana berkumpul melihat keadaan Zila yang belum sadar dan masih koma.
Zidan yang mendengar itu hanya diam karna kalaupun ia menolak tentu mertuanya itu akan marah karna mereka berdua takut ia tidak bisa menjaga Zila saat sudah pulih nanti.
"Kami setuju saja dengan keputusan pak Satria. Yang terpenting Zila dirawat dengan baik di sana," ucap bunda Melati menimpali
"Tentu, saya akan merawatnya dengan baik karna Zila putri kami dan tidak mungkin kami lalai menjaganya."
Ucapan yang papa Satria ucapan seperti sindiran keras untuk Zidan. Entah mengapa, pria paruh baya itu menyalahkan Zidan atas apa yang menimpa Zila. Mengingat papa Satria juga sudah mewanti-wanti agar Zila tidak hamil di usia muda. Dan pria paruh baya itu beranggapan Zila mengalami koma karna mengandung saat usianya masih sangat muda.
Bunda Melati menyenggol lengan suaminya setelah melihat respon besannya tersebut. Sementara ayah Retno mengangguk samar, paham dengan apa yang istrinya maksud.
"Aku tidak masalah Zila tinggal di mana saja, yang terpenting Zila cepat sadar dari komanya, Pa. Dan aku sadar, semua yang menimpa Zila memang tanggung jawabku," ucap Zidan.
"Baguslah bila kamu sadar."
•
•
__ADS_1
Setelah mereka puas melihat keadaan Zila. Kini, ruangan tempat Zila dirawatkan sekarang kembali sepi hanya menyisakan Zidan yang selalu setia berada di samping sang istri. Tampak pria itu tengah duduk di sofa dan fokus menatap layar laptop di pangkuannya. Sudah beberapa hari ia libur bekerja sampai pekerjaannya menumpuk termasuk data keuangan yang baru saja karyawannya kirim dan harus ia periksa.
Eugh...
Suara lenguhan membuat pergerakan jari Zidan terhenti di keyboard laptop. Ia mendongak menatap ke arah brankar. Terlihat ada pergerakan dari jari-jari Zila. Zidan bangkit dari sofa dan mendekati brankar tempat Zila berbaring sekarang.
"Sayang, kamu sadar?" Zidan mengusap kepala Zila lembut.
Rasa haru timbul dibenak Zidan kala melihat kedua mata indah itu mulai terbuka. Zila perlahan membuka matanya hingga pandangan matanya tampak jelas. Rasa pusing langsung menyergap kepalanya di tambah rasa sakit dibagian perutnya.
Zidan tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya kala Zila sudah sadar. Pria itu mendaratkan berkali-kali ciuman dikening Zila.
"Ha-haus..."
"Sakit..." Zila meringis kesakitan di bagian perutnya.
"Tunggu ya Sayang, Mas panggil dokter dulu," ucap Zidan yang bergegas keluar dari ruangan itu memanggil dokter Ayu.
Selang beberapa menit dokter Ayu masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Zidan. Dokter wanita itu memeriksa kondisi tubuh Zila yang masih lemah. Apalagi tatapan Zila terlihat sayu dan lemas.
"Kondisi istri Bapak saat ini masih lemah. Tapi, anda tidak perlu khawatir perlahan kondisinya akan pulih. Saya akan memberikan obat pereda nyeri agar istri Bapak tidak merasakan kesakitan lagi," ucap dokter Ayu.
Zidan mengangguk."Terima kasih, Dok."
__ADS_1
"Suster akan mengantarkan obat itu ke sini. Dan, saya turut senang istri Bapak sudah sadar dari koma."
Lagi, Zidan kembali mengangguk dan kali ini dengan senyuman lebar yang terpatri di wajahnya. Tatapan pria itu kini beralih pada Zila yang tampak diam dengan pandangan mata menatap ke arah langit-langit ruangan. Mungkin tubuhnya masih terasa lemas membuat sang istri tidak mengeluarkan suara.
"Mas bahagia kamu sudah sadar, Sayang." Zidan memeluk Zila dengan hati-hati mengingat masih alat medis yang menancap di tubuh istrinya."Sayang, apa kamu ingin melihat anak kita?"
Zila yang menatap lurus ke atas langit-langit ruangan itu kini menatap ke arah Zidan."Anak?"
Zidan mengangguk.
Perlahan tangan Zila meraba-raba perutnya yang datar. Karna obat bius yang disuntikkan oleh dokter membuat Zils lupa dengan operasi caesar yang sebelumnya ia jalani.
"Se-sekarang anak kita di mana?" tanya Zila tersendat-sendat. Ada rasa bahagia yang meluap dalam benak Zila dan ia tidak sabar bertemu dengan anaknya.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Mas minta suster untuk membawanya ke sini."
Zila mengangguk lemah dengan segaris senyuman terukir di bibirnya. Zidan kembali keluar dari ruangan itu untuk meminta suster memindahkan putranya yang tengah berada di ruangan NICU di pindahkan ke ruangan tempat Zila di rawat sekarang.
Sekitar 15 menitan suster masuk ke dalam ruang rawat Zila dengan kotak inkubator tempat bayi mungil itu berada sekarang. Zila yang melihat itu tak sanggup menahan kristal-kristal di netra coklatnya untuk tidak meluruh.
_____
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya:)