Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Pil KB?


__ADS_3

• Visual Zidan Ahmad



"Kamu sudah janji dengan saya, dan sudah seharusnya istri melayani suami. Punya kamu sudah saya jebol jadi jangan banyak alasan lagi," ucap Zidan yang tak ingin mendapatkan penolakan.


Zila memalingkan wajahnya. Mendadak wajahnya jadi panas, membayangkan adegan ranjang yang akan mereka lakukan nanti sudah membuat badannya panas dingin.


"Saya sudah tidak sabar. Seminggu saya menahannya..." bisik Zidan serak.


Tubuh Zila semakin menegang. Ia menoleh menatap suaminya yang menatap dirinya dengan tatapan tak biasa. Zidan menatap ke arah bibir ranum istrinya, ia mendekatkan wajahnya secara perlahan.


Zila refleks memejamkan matanya kala sapuan benda kenyal nan dingin di bibirnya. Seluruh tubuhnya langsung membeku kala menerima ciuman yang Zidan berikan. Mendadak tubuhnya melemas seolah tenaganya terkuras hanya karna sentuhan yang diberikan.


Zidan menjauhkan tubuhnya dari Zila yang perlahan membuka matanya. Ia menatap lekat mata hitam pekat pria tersebut.


"Kali ini saya tidak ingin di tolak," ucapnya serak dan berat.


Zila tersentak ketika Zidan merengkuh pinggangnya lalu menarik dirinya merapat pada tubuh suaminya. Lagi, Zidan memberikan kecupan basah yang terasa menggelikan di tengkuknya. Kali ini wanita muda itu seolah pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan. Mungkin ia bisa menolak tapi tidak dengan tubuhnya yang menginginkan lebih. Zila meremas sprei kala Zidan menyesap dan memberikan gigitan kecil dibagian lehernya.


Suara ******* lembut dari Zila membuat Zidan semakin terbakar dalam gairahnya yang membara. Tangannya dengan nakal bergerak nakal hendak melepaskan kancing bagian atas piyama Zila. Namun, wanita muda itu segera menahan tangannya.


"Nanti sakit kayak kemarin..." ucap Zila lirih. Mengingat bagaimana pengalaman pertama saat melakukan ini dan membuat bagian intinya terasa sakit. Bahkan saat pipis saja perih.


Zidan mengusap lembut pipi Zila."Saya akan melakukannya dengan lembut."


"Bohong!" Zila menepis kasar tangan Zidan di wajahnya."Kemarin Om brutal banget mainnya! Terus maksa pula!" ucapnya dengan ketus. Mengingat pergumulan mereka pagi hari waktu itu.


Zidan mengulas senyum tipis dan berusaha sabar saat dirinya ingin segera menerkam istri kecilnya tersebut."Itu pengalaman pertama saya, jadi sedikit tak sabaran."


Zila mendengus mendengarnya.


"Tapi ya Om_"

__ADS_1


"Kapan kita melakukannya bila kamu terus mengajak saya bicara?".


Terlihat pria itu sudah tak sabaran. Bagian inti tubuhnya sudah menegang, ingin segera dipuaskan.


Zila hendak melanjutkan ucapannya, namun Zidan langsung menyumpalinya dengan ciuman yang cukup rakus dan menuntut. Suara erangan dan ******* mengisi ruangan ber-AC yang awalnya terasa dingin kini berubah terasa memanas bersamaan dengan pergulatan yang mereka berdua lakukan. Aroma cairan percintaan menyeruak dalam ruangan tersebut.


Zila meremas rambut tebal Zidan yang memberikan kecupan di lehernya dengan gerakkan pria tersebut yang menyentak-nyentak bagian inti tubuh keduanya. Rasanya benar-benar nikmat, dan Zila akui itu.




Napas keduanya terengah-engah setelah melakukan pergumulan sebanyak tiga ronde. Tenaga Zidan seolah tak habis-habisnya untuk mencari kepuasan dari tubuh istri kecilnya setelah seminggu menahan hasrat yang berusaha direndam.


"Om, lepas..." Zila dengan tenaga yang masih tersisa setelah dihajar habis-habisan oleh suaminya, menyingkirkan tangan Zidan yang melingkar di perutnya.


Bukannya melepaskan pria itu semakin mengeratkan lilitan tangannya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zila. Sesekali tangannya dengan nakal mengusap bagian inti tubuh sang istri. Zila berdecak kesal.


Dengan susah payah ia membuka laci di samping ranjang, mengambil pil yang ia beli di apotek beberapa hari lalu. Ya, ia membeli pil penunda kehamilan. Gila saja di usia-18 tahun harus hamil, dan ia juga belum siap bila benih Zidan tumbuh di rahimnya.


"Om..."


"Om!" Zila mengeraskan suaranya membuat tidur Zidan terusik.


"Hm..." Zidan hanya membalas dengan deheman dan sedikit membuka matanya.


"Om ada naruh obat di laci ini?" tanya Zila seraya menunjuk ke arah laci.


Lagi, Zidan hanya membalas dengan deheman singkat. Pria itu kembali larut dalam mimpinya setelah tenaganya terkuras. Berbeda dengan Zila yang menggerutu kesal. Kenapa juga pria itu menaruh obat di laci yang sama. Dan sekarang yang mana obat pil menunda kehamilan. Tidak mungkin ia minum keduanya, bisa mati keracunan yang ada.


Setelah menghabiskan beberapa menit mengamati dua botol pil tersebut. Dan mengikuti kata hatinya Zila menegak pil yang ada di tangan kanannya. Dan berdoa semoga yang ia minum pil yang benar.


Wanita muda itu meletakkan pil yang ia yakini pil penunda kehamilan itu di laci paling bawa dan pil yang satunya ia letakkan di laci atas. Zila tak langsung tidur, ia memilih membersihkan badannya yang terasa lengket dan aroma asing yang menyelimuti badannya saat ini.

__ADS_1


Baru saja hendak bangkit Zila meringis kesakitan dibagian intinya. Kenapa masih sakit? Padahal ini bukan pertama kalinya ia melakukan ini bersama Zidan. Dengan susah payah ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi ia menoleh ke arah Zidan yang larut dalam mimpinya setelah mendapatkan pelepasannya.


Zila geleng-geleng kepala, ia kira pria itu akan menggendongnya ke kamar mandi seperti novel online yang ia baca tapi ternyata tidak. Dasar tidak romantis.


Siulan di pagi hari sudah menyapa indra pendengaran Zila yang pagi ini hanya sarapan roti dan selai coklat. Ia memutar bola matanya malas kala mendapati Zidan dengan wajahnya yang terlihat sangat cerah secerah matahari pagi hari ini.


Pria itu membenarkan kerah kemeja yang membalut tubuhnya lalu menarik kursi di samping Zila.


"Sudah pintar kamu melayani suami," ucap Zidan terkekeh singkat setelahnya meminum dengan pelan kopi yang istrinya buatkan.


Zila hanya diam seraya menyumpal kasar potongan roti terakhir ke mulutnya. Berbeda dengan Zidan yang begitu menikmati sarapannya dengan hikmat.


"Lain kali jangan nyimpan obat di laci yang sama."


Ucapan Zila membuat Zidan menoleh. Satu alis pria itu tertarik.


"Maksud kamu apa?"


Zila mendengus kesal."Om jangan naruh obat di laci yang sama! Nanti ketukar bagaimana? Mana kemasannya sama pula. Aku nggak mau hamil." Napas Zila menggebu-gebu mengatakan itu.


Berbeda dengan Zidan. Raut wajahnya langsung menjadi datar. Ucapan terakhir Zila menyentil hatinya.


"Kenapa tidak mau hamil?" Zidan menatap Zila dengan tatapan yang rumit.


"Nanti aku dikeluarin dari sekolah. Lagian ya Om, aku nggak mau hamil di umurku yang sangat muda. Aku mau kuliah dan ngejar cita-cita aku dulu."


Tidak ada balasan dari Zidan kecuali tatapan tajam yang menyiratkan sesuatu.


______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.

__ADS_1


See you di part selanjutnya.


__ADS_2