
Perdebatan antara menantu dan mertua tentang kehamilan Zila mulai mereda. Papa Satya dan Zidan sudah duduk manis di sofa yang tersedia di ruangan itu. Sementara Zila menyantap makanan yang suaminya belikan. Kali ini ekpresi wanita itu tampak masam tak jauh beda saat memakan bubur.
"Gado-gadonya kenapa nggak ada cabenya? Kan aku pesan yang banyak cabenya," ucap Zila yang tersirat kekesalan di dalamnya.
Mama Reni yang tengah mengupaskan buah jeruk untuk sang putri menghentikan pergerakkan tangannya lalu memfokuskan tatapannya pada Zila. Termasuk Zidan yang kini bangkit dari tempat duduknya.
"Perempuan hamil tidak baik makan yang pedas-pedas, Zila. Zidan udah benar membelikan yang nggak ada cabenya," sahut mama Reni.
"Aku lagi pengen banget makan yang pedas-pedas. Kenapa sih apa yang aku mau nggak pernah di turuti. Kalian semua sama aja nggak sayang aku."
Tubuh mungil itu bergetar dengan isak tangisnya perkara gado-gado tanpa cabe. Zidan yang melihatnya sedikit panik. Pria itu mendekat pada sang istri lalu mengusap punggung Zila lembut.
"Keadaanmu belum pulih, Zila. Apalagi sekarang sedang hamil jadi tidak boleh mengonsumsi makanan yang memang dilarang dokter termasuk makanan yang pedas," ucap Zidan berusaha memberi pengertian pada Zila selembut mungkin.
"Tuh, benar kata Zidan. Nanti kalau kondisi kamu sudah membaik boleh makan pakai cabe. Sekarang di tahan dulu ya, Sayang." Mama Reni mengusap air mata yang merembes di pelupuk mata Zila.
Papa Satya yang melihat itu membuatnya menerawang ke masa lalu di mana saat Zila masih kecil dulu. Putrinya itu akan menangis sampai tak bersuara lagi jika sesuatu yang ia inginkan tidak tercapai. Dan sekarang semuanya terulang kembali saat Zila hamil.
"Zila!" Mama Reni meninggikan suaranya kala Zila dengan sengaja membanting makanan yang ia pegang tadi ke lantai."Jangan kekanak-kanakan seperti itu!"
Zidan yang melihat itu menarik Zila dalam pelukannya. Seolah menyembunyikan sang istri dari kemarahan mertuanya.
"Sudah, tidak apa-apa, Ma. Mungkin karna hamil Zila jadi seperti ini," ucap Zidan membela. Karna akhir-akhir ini sikap Zila memang sangat menyebalkan dan sulit dipahami.
Mama Reni meredam gemuruh amarah dalam benaknya. Tindakan Zila benar-benar tidak sopan dan ia tidak menyukai itu. Dan lihat sekarang lantai ruangan ini sudah kotor dengan sambal kacang.
"Tidak usah marah-marah seperti itu. Tinggal turuti saja kemauannya," timpal papa Satya yang memang tipe orang tidak ingin ribet.
"Papa tidak tahu apa-apa jadi lebih baik diam. Zila ini sedang hamil nggak boleh makan sembarangan!" Mama Reni menatap marah pada suaminya.
Zidan semakin erat memeluk tubuh mungil Zila yang mulai tenang tidak seperti tadi terus merengek.
Setelah drama makanan yang tidak sesuai keinginan Zila. Pada akhirnya Zidan mengalah dan memberikan apa yang istrinya inginkan setelah kedua mertuanya sudah pergi dari ruangan ini. Bukan apa-apa, ia hanya takut mendapatkan kemarahan mama Reni.
Kini, Zidan tengah memasukkan beberapa barang ke dalam tas ransel kecil karna hari ini dokter sudah memperbolehkan Zila untuk pulang apalagi kondisi wanita itu berangsur membaik.
"Bunda meminta kita menginap di rumahnya lagi, apa kamu mau?"
Dengan cepat Zila menggeleng."Aku mau di apartemen aja."
Menurutnya lebih enak tinggal di apartemen daripada di rumah mertuanya, tentu bunda Melati akan terus mengajaknya bicara dan membahas soal kehamilan. Dan saat ini ia sangat tak mood untuk membahas apapun.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu saya kemasi barang dulu setelah itu kita pulang," ucap Zidan.
Zila duduk di sisi brankar dengan kedua kaki yang menjuntai. Sebelum pulang suster sudah menggantikan perban yang baru di kepalanya. Beberapa hari menginap di sini sudah membuat ia bosan.
"Bisa jalan sendiri, hmm?" tanya Zidan ketika sudah selesai mengemasi barang milik Zila.
Wanita itu terdiam sejenak, lalu menunduk menatap kedua kakinya."Nggak bisa, kaki ku masih lemas, nggak kuat berdiri," jawabnya dengan bibir mencebik.
"Ya sudah, saya gendong."
Zidan merengkuh tubuh mungil itu lalu menggendongnya dan Zila melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Pria itu melangkah keluar dari ruangan itu, sebelumnya Zidan sudah membayar uang administrasi perawatan Zila di sini.
"Sampai rumah mau langsung tidur, ngantuk," ucap Zila seraya menyembunyikan wajahnya di leher Zidan.
"Iya, nanti sampai rumah langsung tidur. Tapi harus mandi dulu. Dua hari kamu nggak mandi."
Zila menggeleng kuat."Nggak mau, aku lagi sakit. Lihat ini." Ia menunjuk luka di kepalanya.
"Lukanya cuma di kepala, Sayang, bukan di badan."
Wanita itu memutar bola matanya malas dan tak berniat membalas ucapan suaminya lagi. Sepanjang melangkahkan kaki di Koridor terlihat para pengunjung dan petugas rumah sakit menatap ke arah Zidan dan Zila dengan pandangan yang berbeda-beda. Bahkan ada yang mengira mereka berdua adik kakak karna raut wajah Zila yang terlihat sangat muda dan Zidan terlihat lebih dewasa.
Zidan menurunkan Zila ketika sudah sampai di area parkiran lalu membuka, kan, pintu mobil untuk wanita tersebut. Zila segera masuk ke dalam mobil tanpa ingin bertanya atau mengeluarkan sepatah katapun.
"Langsung pulang aja, aku mau istirahat." Zila menyandarkan kepalanya di bahu jok mobil dengan raut wajah yang terlihat lesu.
Zidan mengangguk samar lalu mencium kening sang istri singkat. Sepanjang perjalanan pandangan mata Zila hanya fokus menatap keluar jendela, menatap setiap pengendara dan gedung yang mereka lewati.
Sesekali pria itu menoleh ke arah Zila lalu mengusap kepala Zila lembut. Tidak butuh waktu lama kini mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di lobby apartemen. Mata Zidan memicing kala mendapati seseorang yang ia kenal tengah berdiri di depan lobby apartemen.
Zidan turun dari mobil. Ia menatap wanita paruh baya itu menoleh padanya. Naila yang melihat Zidan langsung melangkahkan kakinya mendekat pada pria itu.
"Zidan, tolong cabut laporan itu, saya mohon. Kayla sangat tersiksa di sana. Saya mohon Zidan." Naila memohon pada Zidan dengan kedua mata yang langsung menumpahkan air mata begitu deras.
Keadaan Naila saat ini terlihat tak karuan apalagi sekarang putrinya tengah di tangan pihak kepolisian.
"Saya tahu kesalahan Kayla memang sangat fatal. Tapi beri dia kesempatan. Saya janji Kayla tidak akan melakukan hal buruk seperti itu lagi."
Tanpa diduga Naila bersimpuh di hadapan Zidan dan itu membuat pria tersebut sedikit terkejut. Naila menyatukan kedua tangannya memohon.
"Maaf sebelumnya, Bu. Saya tidak bisa membebaskan Kayla." Setelah mengatakan itu Zidan berlalu pergi seraya menarik Zila yang baru saja keluar dari mobil.
__ADS_1
"Om laporin Kayla ke polisi?"
"Hmm."
"Kenapa? Aku kira Om cuma ngeluarin dia dari sekolah aja."
Zidan menoleh ke arah Zila."Tindakan dia sudah sangat keterlaluan, jadi biarkan dia membayar semua kesalahannya di penjara."
Zila terdiam mendengar itu. Ia menoleh ke belakang di mana Naila merunduk penuh kesedihan menatap ke arah mereka berdua. Sebenarnya ia kasihan dengan apa yang menimpa Kayla. Ia juga tidak menduga suaminya akan bertindak sejauh ini.
"Tapi kasihan Kayla__"
"Jangan bahas itu." sela Zidan cepat. Zila langsung mengantupkan bibirnya.
Naila mengusap kasar air matanya. Dua satpam berjaga di depan lobby apartemen dan itu membuat ia sulit mengejar Zidan. Tidak ada siapapun yang bisa membantunya kecuali pria itu sendiri.
•
•
Malam semakin larut tetapi Zidan masih sibuk dengan lembaran tugas muridnya yang belum ia periksa setelah beberapa hari libur mengurus Zila. Lain lagi memeriksa data-data yang baru saja dikirim anak buahnya. Saat pria itu tengah fokus pada selembar kertas di tangannya, Zila masuk ke dalam ruang suaminya.
Wanita itu memilin-milin ujung bajunya kala melangkah mendekati Zidan yang tak menyadari kehadirannya. Ia sedikit ragu mengatakan ini, tapi jika tidak mengatakannya sudah pasti malam ini ia tidak akan bisa tidur.
"Om Zidan..."
"Apa Sayang?" Zidan menoleh ke arah Zila yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Om, sibuk nggak?"
"Kamu butuh sesuatu?"
Dengan ragu-ragu Zila mengangguk."Aku mau es buah kolang-kaling."
Raut wajah Zidan langsung berubah seketika. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12: 00 malam.
"Ini sudah tengah malam, Zila. Tidak ada yang jualan es buah."
Wajah Zila langsung masam."Padahal aku mau banget. Tapi, ya sudahlah kalau nggak mau beliin."
Belum sempat Zidan membalas ucapan sang istri, Zila sudah keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Brak!
Dengan sengaja Zila membanting pintu sangat keras membuat sebuah foto figura hampir jatuh karna ulah wanita itu.