
Setelah sepeninggal bunda Melati, mendadak keduanya diam penuh kecanggungan terutama Zila yang hanya bisa menundukkan kepalanya. Mulutnya seolah tersumpal sesuatu hingga sulit untuk mengeluarkan sepatah katapun untuk sekedar basa-basi.
"Kamu masih merasa bersalah dengan saya?" Zidan membuka suara setelah beberapa menit dilanda keheningan.
Wanita itu mengangkat kepalanya menatap Zidan lalu mengangguk.
Tangan Zidan terulur menggapai tangan Zila lalu menggenggamnya."Kalau begitu saya minta satu permintaan. Anggap saja sebagai imbalan saya menyelamatkan kamu."
Zila meneguk ludahnya kasar. Mendadak perasaannya tidak enak. Kenapa suaminya malah menjurus ke sana padahal ia hanya merasa bersalah bukan berarti ia harus memberikan imbalan agar rasa bersalah itu hilang ataupun sebagai balas budi.
"Saya mau anak. Umur saya sudah 28 tahunan dan saya menginginkan keturunan."
Nah benarkan. Pantas saja perasaannya tidak enak.
"Tapi aku masih sekolah, Om. Nanti kalau aku ketahuan hamil bisa-bisa dikeluarin dari sekolah. Aku juga mau fokus ke pendidikan," balas Zila yang hanya beralibi saja. Ia memang tidak ingin hamil di usianya yang masih sangat muda.
"Kalau urusan itu mudah. Kamu tetap bisa sekolah biarpun sedang hamil."
Sebelah alis Zila terangkat."Masa sih? Tapi peraturan sekolah sudah begitu, mana bisa dilanggar tanpa mendapatkan sanksi?" timpal Zila.
"Bisa. Nanti saya yang urus. Kamu lupa punya suami guru?"
Lagi, pria itu tersenyum dan semakin erat menggenggam tangan Zila. Sedangkan wanita itu menatap heran dengan ekpresi wajah suaminya yang menunjukkan binar penuh harapan. Lain lagi dengan Zila yang tampak cemas.
•
•
Zila membuka pintu apartemen lalu menggiring Zidan masuk ke dalam sana. Setelah pengobatan di rumah sakit selesai mereka berdua memutuskan untuk pulang walaupun bunda Melati sempat menawarkan mereka berdua untuk menginap di rumah.
Zidan masih merasakan nyeri dibagian perutnya dan tidak bisa leluasa untuk bergerak. Zila dengan hati-hati mendudukkan suaminya di sofa. Ia benar-benar menepati ucapannya untuk mengurus Zidan sebaik mungkin.
"Om, tunggu di sini. Aku ambilkan pakaian Om dulu," ucap Zila berniat mengganti pakaian suaminya di tambah pakaian Zidan kenakan sudah kotor terkena bercak darah.
Zidan mengangguk dan menyandarkan tubuhnya ke bahu sofa dengan tangan kanan memegangi sisi perutnya yang diperban. Zila berlalu pergi dari hadapan suaminya. Ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, baru beberapa langkah masuk ke dalam ia memegangi perutnya yang terasa bergejolak. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi dalam perutnya. Tiba-tiba dorongan dari dalam membuat ia tidak bisa menahan gejolak rasa mual dan ingin memuntahkan isi dalam perutnya.
"Kayaknya aku nggak enak badan," gumam Zila menatap pantulan wajahnya yang terlihat pucat. Dan mendadak rasa pusing mulai mendera.
__ADS_1
Zila keluar dari kamar mandi lalu mengambil pakaian Zidan dalam lemari dengan rasa pusing yang melanda di kepalanya. Sepertinya ia harus minum obat, jangan sampai ia sakit dan berakhir tidak bisa merawat suaminya.
"Kamu kenapa?" Zidan melontarkan pertanyaan kala Zila baru saja keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat pucat.
"Nggak tahu, Om. Tiba-tiba mual terus kepala aku pusing," keluh Zila.
"Nanti minum obat, mungkin kamu kelelahan."
Zila mengangguk.
"Om bisa buka sendiri bajunya?"
Zidan menggeleng."Bagaimana bisa saya membuka baju sendiri, bergerak saja perut saya sudah sakit. Kamu yang bukain."
Zila menghela napas pelan. Dengan ragu-ragu tangannya menjulur membuka kancing pertama bagian atas. Mendadak rasa gugup mulai menyelimuti perasaannya di tambah Zidan tampak fokus memandangi wajahnya.
Wanita itu dengan hati-hati melepaskan kemeja yang Zidan kenakan. Sebelum meletakkan kemeja kotor Zidan, entah sengaja atau tidak Zila menghirup dalam aroma dari kemeja tersebut. Aroma yang membuat sesuatu dalam dirinya membuncah.
"Jangan dicium, kemeja saya kotor," ucap Zidan mengingatkan.
Zila yang mendengar itu terlihat malu sendiri kedapatan Zidan menciumi kemeja miliknya. Tiba-tiba ia sangat menyukai aroma pakaian putih ini.
Pintu apartemen terbuka lebar bersamaan dengan kemunculan bunda Melati yang membawa beberapa kantong kresek diikuti dari belakang oleh suaminya, Retno.
"Bunda kenapa ke sini? Bukannya sudah pulang?" tanya Zila menatap heran sekaligus kaget dengan kedatangan mendadak mertuanya.
"Maunya sih begitu, tapi Bunda khawatir dengan Zidan. Bunda ingin memastikan lagi keadaan putra Bunda ini," balas bunda Melati seraya mencubit pipi Zidan yang langsung menepis pelan tangan orang tuanya.
Terlihat Zidan tampak tak suka. Orang tuanya terlalu berlebihan.
"Ooh begitu. Tapi seharusnya Bunda juga nggak usah repot-repot bawah makanan sama buah-buahan." Zila menatap ayah mertuanya mengeluarkan buah-buahan dan makanan matang dari kresek lalu meletakkannya di atas meja.
"Tidak apa-apa, Zila. Buah-buahan itu obat alami untuk menyembuhkan luka. Apalagi Zidan lukanya di perut."
"Kalau nggak minum obat lukaku juga tidak akan sembuh, Bunda," celetuk Zidan.
Bunda Melati berdecak mendengar ucapan putranya."Kalau nggak paham diam! Bunda lebih paham soal begituan, benarkan Zila?"
__ADS_1
Zila mengangguk ragu-ragu. Walaupun ia tak yakin buah-buahan bisa menjadi obat alternatif seperti luka.
"Muka kamu kenapa pucat, Zila, sakit?" tanya bunda Melati yang baru menyadari wajah menantunya tampak pucat.
"Nggak tahu, Bun. Mungkin kelelahan," balas Zila.
Tiba-tiba senyuman lebar terpatri di wajah wanita paruh baya itu."Kamu sempat mual-mual, nggak?"
Zila mengangguk mengiakan pertanyaan bunda Melati."Bukan hanya mual Bun, tapi muntah juga."
Bunda Melati melirik suami dan putranya dengan senyuman lebar. Ia mengambil sesuatu dalam tas tentengannya dan menyerahkan benda tipis nan kecil pada Zila. Ia memang sengaja menyiapkan benda ini.
"Tespeck?" ucap Zila menatap heran pada benda yang mertuanya berikan.
Zidan mengangkat sebelah alisnya melihat benda yang dipegang istrinya sekarang.
"Coba di tes dulu, mungkin kamu hamil."
Zila terdiam. Matanya fokus menatap benda yang ada di tangannya. Tidak mungkin ia hamil, jelas-jelas ia minum pil KB.
"Ayo coba Zila. Bunda mau lihat hasilnya." Bunda Melati tampak tak sabaran.
"Takutnya negatif Bunda."
"Nggak apa-apa kalau negatif, berarti Zidan harus lebih usaha lagi buatnya." Ucapan ambigu bunda Melati berhasil menciptakan semburat merah di pipi Zila.
Zidan maupun ayah Retno saling pandang. Namun, segurat harapan timbul di benak pria berusia 28 tahunan. Dengan pertimbangan singkat Zila terpaksa mencobanya, walaupun ia tak yakin hasilnya positif. Bagaimana bisa positif bila ia minum pil KB.
"Aduh, semoga saja positif ya, Mas. Aku mau punya cucu," ucap bunda Melati pada suaminya sesaat Zila sudah memasuki toilet yang ada di dapur.
"aaakh!!"
Zila berteriak histeris. Wanita itu langsung melempar kasar tespeck yang baru saja ia coba. Garis dua terpampang jelas di benda panjang nan pipih itu. Zila meluruhkan tubuhnya dengan raut wajah yang shock dan gemetar.
_______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya. Seperti biasa update tiap malam ya:)