
Meski tubuh yang terasa lemah dan lemas tak mengurungkan niat Zila yang ingin menggendong putranya. Hatinya menghangat serta perutnya terasa menggelitik melihat mahkluk kecil yang sangat ia tunggu kehadirannya ke dunia.
Suster dengan hati-hati membaringkan bayi yang belum diberi nama itu di samping Zila. Mengingat Zila baru sadar dari koma dan kondisi perut yang baru menjalani operasi caesar membuat wanita itu tidak bisa duduk secara normal, hanya bisa berbaring. Dan kondisi bayi itu juga membaik. Selang ventilator sudah di lepas dari hidung bayi tersebut. Hanya saja bayi itu tidak bisa terlalu lama berada di luar inkubator karna membutuhkan kehangatan.
Zila mencium pipi putih kemerahan putranya dengan rasa haru dan juga syukur. Rasa sakit di perutnya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang ia rasakan sekarang.
"Dia sangat tampan..." ucap Zila tanpa mengalihkan pandangan matanya dari makhluk kecil di depannya sekarang.
Mata Zila berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bisa melahirkan bayi selucu dan setampan ini.
"Tentu dia tampan, Sayang, karna kita membuatnya dengan penuh cinta," timpal Zidan yang kini sudah berdiri di samping Zila.
Pria itu mengusap kepala sang istri lalu mengecup keningnya dengan penuh syukur. Ia sangat bahagia kondisi istri dan anaknya mulai membaik. Zila yang mendapatkan ciuman Zidan di kening memejamkan matanya.
"Apa Mas sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Zila yang terdengar lemah dan tersendat-sendat.
Zidan mengangguk."Namanya Saga Adelio Ahmad. Nama yang sudah Mas siapkan jauh-jauh hari."
Zila terdiam sejenak dan setelahnya senyuman tercipta dibibir pucatnya."Namanya sangat bagus."
"Tentu. Mas sangat bahagia kamu sudah sadar, Zila. Mas benar-benar tak berdaya melihat kamu terbaring di brankar dengan keadaan koma..." Zidan menatap lirih Zila.
__ADS_1
Bagaimana bisa ia tidak lemah bila sumber kebahagiaan dan cintanya dalam keadaan tidak baik. Dan Zidan berjanji akan menjaga istri dan anaknya sebaik mungkin. Ia tidak ingin kejadian ini terulang lagi.
Brak!
"Mantu bunda!" Suara bantingan pintu dan disusul suara pekikan bunda Melati yang cukup keras membuat Saga, bayi itu terkejut dan tak lama suara tangisan Saga menggema dalam ruangan itu.
"Bunda, jangan teriak-teriak," tegur Zidan yang geleng-geleng kepala dengan tingkah orang tuanya itu.
Bunda Melati hanya cengengesan mendapatkan teguran putranya. Saat mendapat kabar Zila sadar, bunda Melati segera kembali ke rumah sakit. Sebelumnya ia pulang ke rumah bersama suaminya.
"Bagaimana kondisi badan kamu, Sayang? Apa sakit?" tanya bunda Melati menatap ke arah perut Zila.
Zila yang tengah menenangkan Saga yang tengah menangis kini menatap ke arah sang mertua."Hanya sakit sedikit, Bun. Tapi dokter sudah memberikan obat anti nyeri," balasnya.
"Bunda tadi sampai minta ngebut sama sopir agar segera sampai ke rumah sakit. Bunda, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu Zila. Tiga hari kamu koma benar-benar membuat kami dirundung kesedihan termasuk Zidan. Suamimu ini sampai jarang makan karna memikirkan keadaan mu."
"Bunda..." tegur Zidan tak suka dengan paparan orang tuanya. Meskipun itu fakta.
Sedangkan Zila menatap ke arah suaminya.
"Kamu sudah telpon mertuamu itu, Zidan? Nanti marah lagi kalau tidak dikasih tahu," ucap bunda Melati berbisik pada Zidan agar tidak terdengar oleh Zila.
Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin Satria kembali memyindir-nyindir putranya. Menurutnya sikap besannya itu begitu mudah menyalahkan orang lain tanpa tahu kebenarannya. Tapi mau bagaimana lagi, Zila putri satu-satu mereka yang membuat mereka mengkhawatirkan berlebihan.
__ADS_1
"Nanti aku telpon, saat ini aku ingin fokus dengan Zila dan anakku," jawab Zidan dengan suara pelan di telinga bunda Melati.
"Sayang, kalau perutnya masih sakit beritahu, Mas, ya."
Zila mengangguk. Zidan mengusap kepala Zila dengan penuh kasih sayang.
"Lihatlah, anak kita sangat lucu sekali. Sini cium dulu..."
Zidan mencium gemas pipi Zila yang memekik dan mendorong wajah suaminya."Ih, seharusnya kamu cium Saga, bukan aku!" Zila mendelikkan matanya kesal.
"Lebih menggemaskan mama nya dari pada anaknya."
Zila mengulum bibirnya mendengar itu. Semburat merah menghias pipi putih pucat wanita karna salah tingkah dengan ucapan suaminya.
Bunda Melati yang diabaikan kehadirannya diantara mereka bertiga hanya diam memperhatikan. Meskipun begitu, ia ikut bahagia. Senyuman yang tiga hari tak pernah terlihat di bibir putranya kini kembali terukir. Bunda Melati berdoa semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan pada keluarga kecil putranya.
_______
Maaf ya malam tadi nggak up
Beberapa hari ini aku sakit gara-gara pulang kehujanan. Doakan semoga aku cepat sembuh.
Terima kasih😇
__ADS_1
Nanti malam up lagi.