Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Penangkapan


__ADS_3

Zidan dengan telaten menyuapi Zila bubur yang baru saja diantar oleh suster. Terlihat wanita itu terpaksa menelan bubur yang terus suaminya sodorkan.


"Buburnya nggak enak, hambar," ucap Zila menjauhkan tangan Zidan kala kembali menyuapinya.


"Memang seperti ini rasanya, Sayang." Entah sejak kapan panggilan Zidan berubah sayang pada Zila. Tapi yang pasti, panggilan itu selalu berhasil membuat pipi wanita itu merona bahkan salah tingkah.


"Nggak mau, aku nggak suka." Zila membuang muka ke arah lain asalkan jangan pada Zidan yang berusaha membujuknya memakan bubur hambar itu apalagi soup ikan yang diberikan suster juga hambar.


Zidan menghela napas pelan lalu meletakkan mangkok bubur yang masih tersisa setengah itu ke atas meja.


"Sekarang maunya makan apa, hmm?"


Zila yang mendengar itu perlahan menatap Zidan."Aku mau makan gado-gado yang cabenya banyak." Entah mengapa ia ingin memakan itu.


Sebelah alis Zidan terangkat mendengar permintaan Zila."Apa tidak ada yang lain, Sayang? Jangan gado-gado."


"Aku maunya itu, aku mau makan itu," rengek Zila dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Entah sejak kapan wanita itu jadi lebih sensitif ketika sesuatu yang ia ingin tidak dikabulkan.


Contohnya tadi malam Zila memaksa Zidan untuk tidur satu brankar dengannya tanpa menerima penolakan. Dan pada akhirnya Zidan mengikuti kemauan Zila setelah drama tangisan wanita itu yang begitu panjang.


"Baiklah, tunggu sebentar ya," ucap Zidan bangkit dari tempat duduknya. Zila mengangguk penuh semangat.


Pria itu mencium kening Zila sebelum keluar dari ruang rawat sang istri. Kondisi Zila sudah mulai membaik dan kemungkinan hari ini akan segera pulang ke apartemen.


Melihat suaminya sudah keluar dari ruangan ini, Zila kembali membaringkan tubuhnya di brankar dan mengambil ponsel milik Zidan di atas meja yang berdekatan dengan brankar. Wanita itu sibuk mengutak-atik ponsel suaminya mencari hiburan di sana.


Terlalu asik dengan benda pipih itu Zila sampai tak menyadari dua orang masuk ke dalam ruangannya.


"Zila..." panggilan mama Reni berhasil menarik perhatian Zila yang dengan cepat kembali bangun dari brankar.


Mama Reni dan papa Satya menghampiri putri bungsunya yang tampak berbinar-binar menatap keduanya.


"Kenapa baru datang?" Zila menatap lirih pada kedua orang tuanya.


"Maaf sayang, Zidan baru mengabari tadi malam dan pagi tadi kami baru bisa pulang ke Indonesia. Tapi kamu baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?" tanya mama Reni penuh kekhawatiran. Tentu, kabar Zila yang dilarikan ke rumah sakit membuat ia dan suaminya sangat khawatir.


Setelah pesawat sudah mendarat di bandara, mama Reni dan papa Satya segera menuju ke rumah sakit tempat sang putri di rawat sekarang.

__ADS_1


"Papa juga sudah tahu kabar Zavieer yang hampir melukai dan melecehkan kamu, Zila," ucap Satya yang terlihat raut bersalah dari wajahnya."Seharusnya Papa tidak tidak mengabulkan permohonan Bramatio yang memohon agar Zavieer di lepasnya."


Zila yang mendengar itu terdiam sejenak."Sudah tidak apa-apa, lupa kan saja yang kemarin itu. Yang terpenting aku baik-baik saja, Ma, Pa." Setelah mengucapkan itu Zila tersenyum.


"Aku sangat merindukan kalian berdua dan sekarang aku ingin memberi kabar bahagia kalau aku hamil."


"Apa!!" Keduanya kompak memekik keras dengan ucapan yang Zila lontarkan barusan.


"Kamu hamil? Bagaimana bisa, Zila? Kamu belum lulus sekolah dan sekarang hamil!" Ucapan itu terlontar dari papa Satya.


Zila yang melihat reaksi sang papa langsung menundukkan kepalanya.


"Namanya juga kebobolan." Zila masih menunduk tak berani menatap mata papa Satya yang tampak tak senang dengan kabar ini.


"Tapi kamu masih sangat muda, Zila. Papa takut terjadi apa-apa dengan kamu karna hamil di usia dini!"


"Sudah, Pa. Percuma ngomong panjang lebar, tidak akan membalikkan keadaan. Yang terpenting Zila dan kandungannya baik-baik saja sekarang," ucap mama Reni menengahi.


Pria paruh baya itu mendengus. Bukan tak bahagia dengan kabar ini tapi ia takut hal buruk terjadi dengan Zila.


Suara pintu terbuka membuat ketiganya menatap ke arah pintu. Terlihat Zidan berdiri di ambang pintu dengan membawa kantong kresek hitam. Zidan tersenyum ramah kala mendapati mertuanya sudah ada di sini, ia kira mereka akan datang sore nanti.


Sedangkan Zila menatap lapar pada gado-gado yang suaminya belikan.


"Kenapa kamu ingkar janji?" Ucapan papa Satya membuat  pergerakan Zidan terhenti.


"Maksud Papa apa?" Zidan menampilkan raut bingungnya dengan apa yang mertuanya ucapkan.


"Tentang Zila. Kemarin sudah saya katakan jangan gauli Zila kecuali dia sudah lulus sekolah," ucap papa Satya sedikit meninggikan suaranya. Tentu, saat Zila lulus nanti usia wanita itu bertepatan 19 tahun.


"Sudah, jangan bahas itu, Pa. Namanya juga sudah rezeki."


Zila mengangguk membenarkan ucapan sang mama.


Zidan terdiam sejenak dan sedetik kemudian tersenyum tipis."Aku memang salah, Pa, karna melanggar janji yang sudah aku setujui. Aku juga sulit untuk menahan diri apalagi kami tinggal dalam satu atap dan mustahil tidak melakukan itu. Aku juga menginginkan anak dari Zila." Dengan santai Zidan mengatakan itu.


Air muka papa Satya semakin keruh mendengar balasan Zidan.

__ADS_1




Naila terdiam mematung  kala mendapati dua polisi berdiri di depan pintunya sekarang.


"Apa benar ini rumah Kayla?"


Dengan ragu-ragu Naila mengangguk. Mendadak perasaannya tidak enak.


"Kami dari pihak kepolisian datang untuk menjemput Kayla. Ini surat izin penangkapannya." Salah satu polisi dengan postur tubuh gemuk  memberikan amplop yang langsung di terima Naila.


Wanita itu menggelengkan kepalanya kala membaca surat tersebut."Anak saya tidak salah! Ini hanya masalah sepele!"


Bagi Naila apa yang Kayla lakukan hanya kenakalan remaja yang sudah biasa dan tidak perlu di perbesar. Toh, Zila juga baik-baik saja.


"Maaf, Ibu. Kami harus membawa saudara Kayla ke kantor polisi. Jadi, mohon kerja samanya."


Naila tetap menggeleng."Kalian tidak boleh membawa anak saya! Pergi kalian dari sini!" Wanita paruh baya itu menghalangi dua polisi itu di depan pintu agar tidak masuk ke dalam rumahnya.


Dan tentu keributan itu membuat Kayla keluar dari kamarnya karna merasa terganggu dan melangkah ke sumber suara. 


"Mama ada apa_" Ucapan Kayla langsung terjeda. Ia meneguk ludahnya kasar, dan mendadak seluruh tubuhnya kaku.


Polisi? Ia kira ucapan pak Zidan hanya sebuah gertakan saja padanya. Kayla berbalik badan dan hendak kabur namun dengan cepat salah satu polisi menerobos masuk ke dalam rumah itu lalu dengan cepat menyergap Kayla.


"Lepaskan aku!" pekik Kayla memukul-mukul lengan polisi tersebut. Naila yang melihat itu tidak tinggal diam, ia ikut memukul dan mendorong polisi yang berhasil menangkap putrinya.


"Lepaskan putriku! Kalian tidak boleh menangkapnya!"


Dua polisi tersebut menyeret paksa Kayla yang sudah menangis histeris karna usahanya untuk kabur tidak berhasil.


Naila masih berusaha menghalangi polisi membawa putrinya. Namun, usahanya sia-sia Kayla berhasil di seret paksa dan di masukkan ke dalam mobil.


"Mama, aku nggak mau di penjara!" pekik Kayla kala sudah di masukkan ke dalam mobil polisi.


• Sambil nunggu cerita ini update mampir yuk ke cerita aku yang satu ini👇

__ADS_1



__ADS_2