Suami Dadakan Gadis SMA

Suami Dadakan Gadis SMA
A & Z: Pingsan di sekolah


__ADS_3

Zila menatap mendengus pada Zidan. Raut kemarahan terlihat dari wanita yang tengah cemburu itu. Meskipun begitu rasa penasaran dalam benaknya masih mendera. Zidan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Zila dan tangan yang lain menyentuh layar ponselnya.


"Dia siapa sih? Nggak tahu apa Om sudah punya istri," sungut  Zila menatap Zidan.


"Sstt...kamu diam. Saya mau nelpon balik Bella."


Mata Zila langsung melotot mendengar hal tersebut. Ia meremas ujung bajunya. Dadanya terasa terbakar. Sementara bibir Zidan berkedut melirik ekpresi sang istri.


"Hallo, Bella."


"Selamat sore, Pak Zidan. Maaf sebelumnya saya menganggu waktu anda. Saya ingin memberitahu prihal kemarin." Pria itu sengaja melospeker panggilan telponnya membuat Zila bisa mendengar dengan jelas.


"Besok saya ke sana. Kamu urus saja masalah kemarin," ucap Zidan seraya mengusap pucuk kepala sang istri.


Seolah nyaman dengan sentuhan yang Zidan berikan, Zila menyandarkan kepalanya di dada kokoh suaminya. Matanya menatap wajah Zidan sambil mendengarkan setiap kata yang terlontar di mulut Zidan.


"Bella itu siapa?" Lagi Zila masih mempertanyakan wanita tersebut. Rasanya belum puas bila Zidan tidak menjelaskan siapa wanita asing itu.


Zidan yang baru saja menutup panggilan telpon, menunduk menatap Zila."Kamu bisa menyimpulkan nya sendiri."


Wanita itu berdecak kesal." Aku tanya tentang perempuan itu bukan tentang kesimpulan ku. Aku mau penjelasan langsung dari Om!"


"Itu karyawan saya."


Sebelah alis Zila terangkat mendengar itu."Karyawan? Bukannya Om guru, masa punya karyawan juga," ucap Zila bingung.


Zidan menyentil kening Zila pelan, membuat wanita itu meringis.


"Kamu kira saya hanya berpaku jadi guru saja? Saya memiliki usaha kecil, setidaknya sebagai tambahan tabungan kalau kamu hamil anak saya." Zidan mengusap Zila lembut.


Zila tertegun mendengarnya. Ia memalingkan wajahnya dengan bercak merah yang perlahan merambat menghiasi pipi berisinya. Bahkan usapan lembut yang Zidan berikan di perutnya menghantarkan kehangatan sampai ke dalam hatinya. Zila mengulum senyuman yang tak bisa untuk tidak terukir.


"Tapi, kan, Om kaya kenapa harus buat usaha lagi?" Ini menjadi pertanyaan Zila. Setahu nya Zidan termasuk orang berada seperti yang bunda Melati jelaskan.


"Yang kaya itu orang tua saya, Zila. Saya harus mulai dari nol termasuk mengembangkan usaha saya sendiri, apalagi sekarang saya sudah punya kamu jadi harus semangat lagi cari uangnya."


"Buat apa Om cari uang banyak-banyak kalau setiap ngasih uang jajan sama aku cuma 20 ribu aja," singgung Zila yang masih diberi uang saku 20 ribu, itupun diberi uang 50 ribu bila ia mengikuti permintaan suaminya.


"Karna kamu masih kecil."

__ADS_1


Zila sangat benci kata-kata itu.


Malam semakin ralut namun Zila masih terjaga dari tidurnya, walaupun beberapa kali ia menguap karna rasa kantuk yang mulai mendera. Tapi saat ini dalam kepalanya sangat berisik memikirkan kondisinya sekarang.


"Masih lima bulan lagi kelulusan sekolah,  apa sempat aku lulus? Ntar kalau perutku keburu buncit, ketahuan semua orang, bagaimana?"


Kepala Zila semakin pusing memikirkan hal ini. Wanita mengusap wajahnya kasar menderita dengan pikiran yang ia buat sendiri. Ia terlalu memikirkan kedepannya dengan dirinya yang sekarang berbadan dua. Zila menoleh ke arah Zidan yang tampak nyenyak melingkarkan tangan di perutnya. Pria itu masih belum tahu tentang kondisinya sekarang, ia masih belum siap mengatakan ini.


Zila menghela napas kasar. Ia melirik jam yang baru menujukkan pukul 12: 00 malam, dan saat ini perutnya terasa lapar. Apa karna ia hamil jadi mudah kelaparan seperti ini? Tak ingin tersiksa dengan rasa lapar yang membuat perutnya yang terus berbunyi, Zila bangkit dari kasur. Dengan hati-hati ia menjauhkan tangan Zidan yang melingkar erat di perutnya.


Setelah lilitan pria itu terlepas, ia berjalan keluar kamar. Saat ini apartemen dalam keadaan gelap. Ya, Zidan selalu mematikan lampu saat mereka akan tidur. Zila meraba-raba mencari letak skalar lampu lalu menyalakannya. Saat memasuki dapur hal pertama yang Zila lakukan adalah membuka lemari bawah, ia banyak menyimpan stok mie instan di bawa saja.


Sepertinya malam-malam seperti ini paling enak makan mie kuah. Membayangkannya saja sudah membuat Zila meneguk ludahnya kasar.


"Pakai cabe banyak-banyak pasti enak," monolognya setelah menyalakan kompor yang sudah ia letakkan panci di atasnya.


Zila mengambil beberapa cabe dan dua butir telur, baru saja berbalik badan ia terkejut bukam main sampai-sampai telur yang ia pegang sudah jatuh ke lantai.


"Sisa makanan masih banyak tapi memilih makan mie?" Ucapan Zidan terdengar berat dan serak.


"Terserah aku lah Om. Aku lagi ke pengen makan ini!" sungut Zila.


Wanita itu mengambil tissu di atas meja lalu membersihkan telur yang pecah di lantai.


Sebelumnya mereka berdua makan malam dengan makanan yang mereka pesan online dan masih tersisa cukup banyak.


"Aku nggak mau makan itu, Om aja yang habisin."


Mood Zila yang awalnya menggebu-gebu ingin menikmati makanan instan berkuah tersebut langsung tidak berselera lagi. Meskipun begitu ia tetap memasak mie itu di banding tidur dengan perut kelaparan. Zidan diam menatap punggung kecil sang istri yang sibuk memasak mie. Ia menghela napas pelan.


"Saya tidak ingin kamu kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat."


Zila tersentak kala Zidan memeluknya dari belakang, pria itu mengusap perut datarnya dengan lembut. Hembusan napas Zidan menerpa permukaan leher Zila yang diam terpaku. Ia menundukkan kepalanya menatap tangan kekar tersebut melingkar di perutnya. Kini, mata Zila beralih menatap Zidan yang juga menatap dirinya.


"Akh..." Zila terkejut ketika tangan terkena percikan air panas yang mulai mengering di panci. Terlalu terpaku dengan tatapan suaminya membuat ia lupa dengan sekitarnya.


"Sakit..." ringis Zila mengusap bagian punggung tangan kanannya yang menjadi korban.


"Kamu terceroboh, lain kali hati-hati." Zidan menarik Zila mendekat ke wastafel lalu membasahi tangan sang istri dengan air.

__ADS_1


"Kan aku nggak tahu, Om juga kenapa peluk-peluk," gerutunya tak ingin di salahkan.


"Suka-suka saya."


Zila berdecak mendengar balasan tanpa beban pria itu.




Zila menatap malas pada papan tulis yang terpampang jelas tulisan yang harus di saling ke buku tulis. Setelah dua hari libur sekolah sekarang ia kembali masuk. Bukan karna ia sakit yang membuat ia mengambil cuti selama dua hari, tapi karna mengurus suaminya. Sesekali ia menguap, setiap jam pelajaran rasanya ingin tidur dan ingin cepat-cepat pulang.


Tiba-tiba Zila membekap mulutnya, tiba-tiba dorongan dari dalam perut membuat ia ingin muntah. Semakin di tahan rasanya ingin muntah.


"Zila kamu kenapa?" Dina menatap cemas pada Zila yang terlihat pucat dengan keringat yang membasahi permukaan wajahnya.


Zila menggeleng. Ia masih membekap mulutnya berharap rasa ingin muntah tersebut mereda. Perutnya juga terasa bergejolak.


Huek


Tanpa bisa di tahan Zila memuntahkan cairan kental di atas mejanya. Orang-orang yang melihat itu merinding jijik menatapnya. Dina sampai refleks bangkit dari tempat duduknya.


"Jorok banget sampai muntah di sini!" sentak Kayla menatap jijik pada Zila.


Semua yang ada di dalam kelas menatap Zila dengan tatapan berbeda.


"Kayak orang hamil aja muntah-muntah," celetuk salah satu murid.


Zila mengabaikan ucapan-ucapan yang terdengar pedas di telinganya. Ia bangkit dari kursi, roknya pun juga terkena cairan muntahannya.


Baru beberapa menit berdiri Zila langsung jatuh terkapar tak sadarkan diri di lantai. Para murid semakin heboh di sana. Ibu Ani yang keluar sebentar untuk mengambil sesuatu di ruangannya kini tampak terkejut menatap salah satu anak muridnya sudah terkapar di lantai.


"Kenapa hanya menonton, ayo tolongi Zila!" pekik ibu Ani yang panik.


Beberapa anak lelaki segera mengangkat badan Zila.


"Cepat bawa ke UKS dan panggil dokter Jaga," titah ibu Ani mengikuti anak muridnya membawa Zila ke UKS.


________

__ADS_1


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen:)


__ADS_2